Yup.
Datanglah posting ketiga alias terakhir dari serial posting selamat datang untuk mahasiswa FK. Kita telah bahas tentang apa yang harus kita lakukan sebelum benar-benar kuliah di FK. Selanjutnya langkah awal ketika kuliah di FK. Sekarang kita akan membahas tentang bagaimana hidup di FK.

Kuliah di FK itu keras. Benar. Bagi mereka yang belum menjalani mungkin kesannya berlebihan. Tapi cobalah bayangkan apa saja yang harus ada di kepala kita sebagai dokter yang baik. Jaringan, organ, sampai sel harus kita kenali. Baik bentuk, fungsi, maupun kelainannya. Jumlah kelainannya pun ribuan. Masing-masing kelainan memiliki tanda dan gejala. Tanda dan gejala ini tidak lantas langsung muncul sa’grenjengan pada satu pasien. Kadang hanya dua gejala yang arahnya ke satu kelainan. Tiga yang lain “punya”nya kelainan yang lain. So semrawut, tho?

Jadi kuliah di FK itu rasanya waktu 24 jam itu mau kita tambah-tambahi jadi 26 jam sehari ya tetap tidak akan cukup. Kuliah di FK itu bagai hewan buas yang kerjaan-nya menghisap waktu. Kita jadi (seolah) tidak punya waktu senggang. Selalu merasa waktu yang ada kurang untuk belajar. Selalu merasa kita masih kurang membaca. Apalagi kalau yang mengajar dosen cerdas yang hobinya berceloteh banyak hal yang mengagumkan tentang ilmunya. Selalu berasa kurang. Saya yakin semua ‘mantan mahasiswa FK’ tidak pernah benar-benar 100% siap untuk ujian.

Lantas bagaimana, Dok?

Berjuang! Dokter itu sudah banyak bung! Apalagi anda yang berencana tinggal di kota besar. Penuh sesak berebut pasien. Akan jadi apa kalau kita hanya jadi ‘dokter biasa’? Maka sejak kuliah jangan mau menjadi mahasiswa FK yang ‘biasa-biasa’ saja. Pantang!

Ayo berjuang! Seperti yang saya tulis di first thing first, kita kerahkan 200% usaha kita. Hasilnya? Serahkan pada Tuhan. Ingat, pasien akan menikmati dirinya sebagai pasien, bila seorang dokter menempa dirinya sebagai dokter. Proses menempa, adalah proses belajar kita. Itu yang akan melekat dalam identitas profesi. Bukan Indeks Prestasi.

Pasien memang tidak akan bertanya kepada dokternya, “Dokter dulu IP-nya berapa?”. Tetapi siapkah diri kita menjawab pertanyaan, “Dokter, saya kok bisa hipertensi sekarang saat hamil, padahal saya dulu tidak pernah hipertensi?” Siapkan diri kita menjawab, dengan baik, santun, dan menenangkan.

Maka siapkan diri kita. Tempa dan tempa. Bila kita berjuang, kerahkan 200% usaha, maka yang lain akan mengikuti, termasuk IP.

Lantas, mahasiswa FK itu belajar terus dong, Dok?

Mahasiswa FK, belajar itu nafasnya. Tetapi kita juga tetap harus tahu batas kita. Rileks sejenak. Nikmati waktu yang berjalan lebih pelan dengan aktifitas lain. Dan disinilah justru yang menjadi “penyeimbang” kita lakukan.

Apa itu? Seperti yang saya sampaikan, bagi mahasiswa FK, belajar itu nafasnya. Belajar semuanya. Dan tidak melulu tentang medis. Lakukan hal yang lain yang tidak berbau medis, seperti bergabung di paduan suara, lembaga pers kampus, lembaga ilmiah. Yang mana pun yang kamu inginkan. Tidak perlu semua dilakukan. Pilih satu dan fokus.

Tadi di awal Dokter menjelaskan bahwa kuliah di FK begitu mengerikan tetapi kok malah disuruh aktif di lembaga mahasiswa?

Hehe… karena kita tidak boleh menjadi dokter yang biasa-biasa saja. Dokter saja itu banyak. Tetapi dokter yang bisa menulis, dokter yang bisa menyanyi, dokter yang bisa berorganisasi? Masih sangat terbatas.

Satu lagi. Bila kita bergabung dengan lembaga kemahasiswaan, akan banyak program kerja yang berkaitan dengan sosial, hal ini terutama saya rasakan di FKUB. Pengobatan gratis, sunatan massal, penyuluhan ke Panti Asuhan, sekolah binaan. Kita bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat entah itu sebagai mahasiswa, sebagai tentor, atau sebagai penyuluh.

Maka inilah saran saya yang ketiga. Carilah kesempatan mengembangkan dirimu sebagai pelengkap identitas dokter-mu. Sebagai mahasiswa FK, intelejensi (IQ) sudah tidak perlu diragukan. Spiritual (SQ) tetap dijaga dengan mengikuti kegiatan berbasis agama. Dan tingkatkan kemampuan manajemen diri dengan bergabung di lembaga kemahasiswaan. Interaksi dengan banyak kalangan, baik birokrat kampus, kakak kelas, adik kelas, LSM, akan membuka wawasan, menempa diri, sekaligus menambah jaringan kenalan yang akan bermanfaat di masa depan. Dan kegiatan ini akan mendidik dan meningkatkan kualitas manajemen emosi (EQ) kita.

Kegiatan-kegiatan ini juga bermanfaat menempa attitude kita. Bagaimana bersikap dengan banyak orang dan banyak profesi. Beberapa kasus yang akhir-akhir ini sering terjadi adalah adanya oknum entah dia mahasiswa FK atau dokter muda yang melecehkan profesi lain seperti perawat ataupun bidan. Chauvinisme profesi ini adalah bom waktu yang sewaktu-waktu meledak dan merugikan profesi kita di masa depan. Maka kegiatan berlembaga akan mampu mendidik kita menjadi dokter yang tidak biasa-biasa saja.

Selain itu, carilah kegiatan sosial yang dapat memberi kesempatan berinteraksi dengan masyarakat. Kita mungkin tidak menyadari bahwa Tuhan telah memberikan banyak kepada kita. Maka inilah cara untuk mengembalikan sedikit yang Tuhan beri. Hal ini merupakan salah satu cara untuk rileks sejenak me-recharge dan memperbarui semangat kita bergaul dengan ilmu medis.

Kuliah FK itu keras, kejam, dan dapat merampok habis-habisan waktu kita. Tetapi itu hanya bila kita mengijinkannya. Kuncinya adalah manajemen waktu. Berhenti sejenak. Bernapas. Keluar dari keruwetan dan berusaha menikmati waktu yang sejenak melambat.

Trust me, it works.

 

First Things First

Second Things Second