“Each day I live in a glass room unless I break it with the thrusting of my senses and pass through the splintered walls to the great landscape.” – Mervyn Peake

Tanggal 5 Juli kemarin, sebagian besar adik kelas saya menjalani Yudisium Dokter. Akhirnya resmilah mereka menyandang gelar dokter berpasangan dengan S. Ked. Harusnya traktir saya dong. Hehehe…

Mengingat itu, dalam posting ini, saya ingin mengucapkan selamat. Hehe… mau mengucapkan selamat aja repot banget sampai bikin blog. Ah, tidak apa-apa. Agar ucapan selamat saya sedikit berbeda. Dan sekaligus menambah koleksi tulisan saya. Hehehe…

Saya ingin berbagi dengan teman sejawat baru kita. Tentang sebuah rasa yang hingga kini masih saja terasa manis. Tentang sebuah pikir yang mengejutkan namun memang gue banget. Tentang sebuah dokter tanpa dinding.

Teman, kita telah menjalani tahun-tahun melelahkan menjalani pendidikan profesi. Melelahkan tetapi sangat sangat sangat mengundang senyum bila dikenang. Kita menjalani hari-hari dengan berkutat pada pasien rumah sakit. Dalam hitungan bulan kita diharuskan menguasai materi satu divisi, masing-masing beda sistem, beda aturan, dan tentu saja beda pasien.

Harus diakui 70%-80% kita menghadapi pasien rawat inap. Atau kita, saat pegang poli dengan waktu yang sedikit (beberapa divisi justru 90% aktivitas di poli, seperti poli kulit bisa sebulan penuh). Tetapi coba teman-teman rasakan, pasien-pasien kita di rumah sakit mayoritas pasien yang datang ke kita bukan karena mereka ingin, tetapi lebih sering dikarenakan mereka harus. Banyak pasien yang secara involunter atau dipaksa berbicara dengan kita, padahal mereka tidak ingin ditangani oleh kita. Seperti pasien-pasien baru di poli THT. Kita bekerja dalam dinding rumah sakit. Sebenarnya bagi saya, itu sangat tidak nyaman dan merupakan tantangan untuk menciptakan chemistry antara saya dan pasien dalam waktu singkat dan terbatas.

Hal yang berbeda saya rasakan di IPD. Kita memang 99% menangani pasien rawat inap dan UGD. Dan 80%-nya rawat inap. Di IPD, saya sangat menikmati stase ruangan karena untuk satu ruang, selama dua minggu saya dapat intens berinteraksi dengan pasien. Chemistry bisa pelan-pelan dibangun sehingga mereka bisa sangat nyaman. Bahkan kadang hasil followup saya bisa lebih lengkap keluhan pasiennya daripada visite PPDS. Pernah ndak diberi makanan sama pasien? Sering. Apalagi saat mereka bisa pulang, mereka mencari kita (dokter muda lho!) untuk berterima kasih dan kadang-kadang memberi jajanan.

Nah teman sejawatku. Kondisi ini yang mungkin akan sangat berubah dan menjadi pengalaman praktik yang menyenangkan. Teman-teman akan mencari pengalaman bekerja di klinik swasta, di rumah sakit swasta, mungkin magang di rumah sakit negeri, ada juga yang menanti dibukanya pendaftaran PTT. Disini saya akan berbagi pengalaman dengan teman-teman semua.

Setelah lulus, saya berpraktik di sebuah desa di Blitar. Desa Udanawu. Desa yang terpencil (menurut saya) karena memang sangat jauh dari mana-mana. Dan tidak pula dilewati kendaraan umum seperti bus. Saya ingat pertama kali praktik disini saya mencari koran, tidak ada. Akhirnya saya harus ke Srengat dengan jarak 10 km. Masyarakat Udanawu memang menikmati kehidupan desanya. Mereka bertani, berladang, sebagian berjualan. Rumah mereka masih banyak yang berlantai tanah namun jangan salah, hartanya berhektar-hektar sawah. Beberapa rumah tampak bagus, selidik punya selidik, sang ibu menjadi TKI di negara tetangga.

Saya bekerja di klinik swasta. Klinik rawat inap. Klinik Wida Medika dan sekarang dalam proses menjadi rumah sakit. Yang saya rasakan disini adalah sebagian besar pasien yang datang mencari saya. Bukan karena mereka harus, tetapi karena mereka ingin. Di Udanawu sendiri ada beberapa dokter praktik swasta. Ada pula bidan. Juga ada mantri. Apotek disini herannya, pegawainya pun bisa memberi obat. Bahkan ada juga klinik swasta. Namun mereka datang ke klinik. Awalnya, sebagian pasien ingin mencoba. Sebagian lagi dirujuk bidan. Sebagian lagi ingin mencari second opinion. Awalnya. Namun selanjutnya mereka datang mencari dokternya. Dalam banyak hal, hubungan ini menyenangkan dan memudahkan bagi dokter dalam memberi terapi pasien. Sungguh.

Beberapa kali bahkan pasien meminta saya untuk datang memeriksa mereka di rumah. Home visite. Saya mengenal keluarganya. Saya tahu dimana ladang atau sawah mereka. Saya tahu apa yang mereka makan, dimana mereka tidur. Saya berada di dunia pasien saya. Bukan lagi di dinding institusi.

Datang ke rumah pasien. Memeriksa pasien. Menyaksikan senyum mereka. Tidak jarang teh manis hangat dihidangkan. Keluarganya duduk bersama kita sembari mengobrol ringan. Bercanda dan menyemangati keluarga pasien. Bahkan ada sanak saudara yang rela datang dari rumahnya yang jauh untuk sekaligus konsultasi. Well, sangat mirip PTT dalam bayangan saya. Dan saya sangat menikmati proses terapi seperti ini.

Teman sejawatku yang akan segera menikmati dunia profesi kita. Selamat! Teman-teman telah yudisium. Telah lewat satu prosesi sakral sebelum nanti pengucapan Sumpah Dokter. Semoga kita menjadi dokter yang baik dan menjunjung sumpah kia.

Teman sejawatku. Inilah yang ingin saya bagi. Inilah pengalaman yang sangat berharga. Saya seperti merasa menghancurkan dinding tebal saya dengan pasien. Dan itu akan sangat terasa setelah bertahun-tahun menjalani pendidikan profesi dengan dindingnya. Kita akan memiliki pasien yang mempercayai kita sepenuhnya. Dan bukankah hubungan dokter-pasien seperti itu yang kita inginkan?

Dimana pun teman sejawat nanti bekerja. Carilah perasaan itu. Di UGD rumah sakit. Di poli umum rumah sakit. Di klinik swasta. Saat PTT. Dimanapun. Cari chemistry-nya. Hancurkan dinding itu. Dan nanti akan ada suara pasien yang berkata,

“Saya ingin ditangani dokter A saja. Kapan dokter A praktik?”

“Dokter selain di rumah sakit ini praktik dimana lagi? Saya ingin ke tempat praktik dokter saja.”

“Saya ini kalau habis berobat sama dokter badan itu langsung enteng.”

Dokter tanpa dinding. Bagaimana menurut teman-teman?