Kemarin saya sudah bahas tentang kopi. Nah kali ini saya akan bahas tentang hipertensi. Kenapa dengan hipertensi? Hehehe…
Beberapa minggu yang lalu, ada dua penelitian yang menarik perhatian. Kedua penelitian ini dipresentasikan pada American Society of Hypertension (ASH) 2012 Scientific Sessions, yaitu tentang pengaruh musik dan terapi relaksasi terhadap tekanan darah. Nah! Kesimpulannya? Ternyata pada satu studi, mendengarkan Mozart di ruang dokter dapat menurunkan tekanan darah, di lain pihak, studi yang lain menyimpulkan program reduksi stres tidak signifikan menurunkan tekanan darah. Kedua penelitian ini diikuti oleh pasien sehat dengan hipertensi tahap 1.

Pada penelitian pertama, Dr Giuseppe Crippa (Ospedale Guglielmo de Saliceto, Piacenza, Italy) mengukur tekanan darah menggunakan automated office blood-pressure (BpTRU BPM-100, Quick Medical) sementara pasien duduk di kursi mendengarkan musik klasik, musik rock, atau tanpa musik. Ternyata mereka menemukan, musik rock, khususnya “Bicycle Race” oleh band Queen, meningkatkan tekanan darah, sementara Adagio-nya Mozart menurunkan tekanan darah.

“Many physicians use music in the office to make the patient more comfortable, but what we’re showing here is that blood pressure can be altered by the type of music played in the office,” Crippa told heartwire .

Tekanan darah diukur sebanyak tiga kali dalam periode waktu tertentu pada 40 pasien dengan hipertensi ringan sedang. Ketika pasien tidak mendengarkan apapun selama delapan menit, rata-rata sistolik dan diastolik tekanan darah adalah 144.6 dan 87.4 mm Hg. Pada pasien yang sama, rerata sistolik dan diastolik tekanan darah menurun selama mendengarkan Mozart menjadi 138.1 dan 83.9 mm Hg, sementara sistolik meningkat menjadi 147.8 ketika mendengarkan Queen dan diastolik tetap sama dengan ketika tanpa musik.

Program Reduksi Stres Untuk Manajemen Tekanan Darah

Penelitian yang lain dilaksanakan oleh HARMONY  dengan pemimpin penelitian, Kimberly Blom (University of Toronto, ON), didampingi peneliti senior, Dr Sheldon Tobe (Sunnybrook Health Sciences Center, Toronto, ON). Penelitian ini didanai oleh pemerintah provinsi Ontario. Melibatkan 101 pasien laki-laki dan perempuan dengan tekanan darah rata-rata >135.85 mm Hg.

Dalam program delapan minggu mencakup sesi sekali seminggu dengan durasi 2,5 jam dan menjelang akhir program diadakan satu hari penuh. Pasien diajarkan yoga, teknik reduksi stres dan dibimbing pengimajinasian dengan tujuan menemukan kedamaian dalam aktifitas harian mereka.

“There were some data in the literature suggesting that stress reduction could lower blood pressure, and our study was based on that,” Blom told heartwire . “Overall, the changes from starting the program to finishing the program, when you compare the blood-pressure levels of those who just finished the intervention with those who are to enter the program, there was a consistent drop in blood pressure, but it just wasn’t statistically significant.”

Peneliti mengobservasi penurunan tekanan darah sistolik bervariasi antara 1.3 mm Hg sampai 2.0 mm Hg, begitu juga dengan penurunan tekanan darah diastolik yang angka variasinya antara 0.6 mm Hg sampai 1.3 mm Hg. Mereka juga mengobservasi penurunan saat bangun dan tidur tetapi tidak pernah mencapai signifikansi secara statistik.

Menyikapi hasil ini, Blom menandaskan bahwa penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa program reduksi stres dapat menurunkan tekanan darah, adalah penelitian yang dilakukan pada pasien yang mengkonsumsi obat antihipertensi. Maka Blom mengajukan analisis. Analisis yang pertama adalah jumlah responden yang sedikit. Hasil penelitian ini akan lebih akurat bila diikuti responden dalam jumlah besar. Maka diperlukan penelitian ulang dengan jumlah responden lebih besar sehingga hasil lebih akurat. Analisis kedua adalah mungkin program reduksi stres ini lebih efektif sebagai terapi ajuvan untuk pasien hipertensi yang telah mengkonsumsi obat anti hipertensi.

Bagaimana menurut para pembaca?