Ha!
Ini dia yang menjadi momok bagi sebagian koass a.k.a dokter muda. Anamnesis dan pemeriksaan fisik. Hampir setiap koass malas melakukannya. Sebagian karena lelah. Sebagian karena bosan karena terlalu sering. Sebagian merasa itu tidak penting karena jarang diakui hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik kita. Sebagian merasa canggung karena merasa menginterogasi pasien. Sebagian lagi merasa kita tidak membantu pasien dengan hanya menanyai dan memeriksa fisik pasien.

Pernah di suatu klinik. Saya praktek dan pasien antri panjang. Karena sangat terburu-buru kuatir pasien tidak nyaman, maka saya mengalokasikan waktu lebih banyak di anamnesis dan KIE obat. Hingga satu waktu, salah seorang pasien, jelas dari anamnesis ini adalah pasien myalgia. Saya pun segera memberi resep lantas terkejut dengan pertanyaan pasien, “saya ndak diperiksa, Dok?”

Begitulah. Pasien ternyata sangat menghargai usaha kita dalam bertanya dan memeriksa, sesederhana apapun metodenya. Apalagi bila peran kita sebagai dokter muda. Jangan salah. Kita justru punya banyak kelebihan dibandingkan supervisor ataupun PPDS. Apa itu?

Kita punya ekstra mata telinga mulut. Kenapa saya bilang ekstra? Karena ketiga indera itu bisa lebih leluasa kita gunakan dalam interaksi dengan pasien dibanding supervisor dan PPDS. Kita punya waktu lebih banyak karena jumlah pasien yang kita ampu lebih sedikit. Maka kita–siapa tahu–justru mendapatkan cue and clue lebih lengkap dan detil. Atau ada sesuatu yg terlupakan ditanyakan atau diperiksa oleh supervisor dan PPDS, kita yang mendapatkan. Well, menyenangkan kok.

Saya pernah sangat senang ketika suatu jaga dapat pasien DHF. Dan saya anamnesis dan lakukan pemeriksaan fisik dengan detil. Hasilnya, esok paginya, PPDS heran membaca hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik saya. “Siapa yang mengerjakan ini?” Hehe…

Buat Daftar Catatan. Harus diakui, melakukan anamnesis itu sulitnya adalah agar terlihat natural tanpa terkesan menginterogasi. Ketika saya menyaksikan salah satu supervisor saya menganamnesis pasien, wow! Beliau membutuhkan pertanyaan yang sedikit untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Sedangkan saya? Untuk menganamnesis pasien DHF tadi saya butuh hampir satu jam. Hehe… saya lebih sering berkata “emm…” sambil mengingat checklist dan apa yang belum saya tanyakan. Maka tips yang pertama, sebaiknya kita membawa kertas berisi catatan daftar pertanyaan yang harus ditanyakan dan mungkin ditanyakan. Adanya catatan itu membantu kita bertanya lebih natural, mengalir tanpa terkesan membaca checklist. Lama kelamaan, kita akan terbiasa dan tidak membutuhkan catatan itu lagi.

Jangan Malas Untuk Berlatih. Menjadi dokter itu harus menjadi kebiasaan. Dengan segala aspeknya. Dan dokter itu seniman. Maka tidak ada yang salah. Bila ada dokter yang melakukan pemeriksaan fisik dengan sistem head-to-toe, saya lebih nyaman pemeriksaan fisik per sistem. Anamnesis, saya lebih suka membahas per gejala, bukan per sistem. Dengan gaya setengah bercanda dan akrab. Tidak ada yang salah. Silakan pilih, lakukan berulang-ulang. Latih terus dan akan menjadi kebiasaan. Saat dokter muda itulah saat kita mengumpulkan referensi gaya. Masing-masing supervisor pasti memiliki gaya sendiri dalam anamnesis dan pemeriksaan fisik. Amati, dicoba dan bila cocok, lakukan dengan konsisten. Dipadu dengan kepribadian kita, maka kita akan menemukan gaya kita sendiri.

Jangan Malu Untuk Kembali Dan Menanyakan Yang Terlupa. Dokter juga manusia. Terkadang ada beberapa detil yang terlupa. Saya rasa cukup manusiawi bagi kita untuk mendatangi pasien dan menanyakan.

Percaya Diri Namun Tetap Jujur. Kepercayaan diri akan datang seiring waktu. Lantas bagaimana pasien yang datang saat kita belum percaya diri? Kita tetap harus berusaha untuk tetap yakin. Namun bila kita ragu akan sesuatu, langkah terbaik adalah jujur kepada pasien bahwa ada sesuatu yang kita perlu konsultasikan kepada dokter senior. Sebagian besar pasien akan mengerti bahwa dokter tetao harus belajar dan justru akan sangat menghargai kejujuran kita.

Suatu ketika saya mendapatkan pasien dengan keluhan nyeri perut. Setelah anamnesis dan pemeriksaan fisik saya curiga ke arah Hepatocarcinoma. Namun saya masih ragu. Saat itu saya berkata: Bapak, dari pemeriksaan saya, ada beberapa kemungkinan diagnosis. Tetapi terus terang saya masih ragu dan saya rasa sebaiknya saya konsultasikan dulu kepada senior saya. Nanti bila ada kepastian atau ada pemeriksaan tambahan untuk memastikan saya akan informasikan kepada Bapak.”

Begitulah. Beberapa tips dan pengalaman yang bisa saya bagi. Dalam praktek sebenarnya, anamnesis dan pemeriksaan fisik bisa sangat variatif bergantung pada kondisi pasien, waktu, tempat, alat. Saat berbagai keterbatasan muncul, checklist maupun idealitas lain akan berganti kreatifitas dokter sehingga ia akan menemukan jawaban yang dibutuhkan untuk menentukan diagnosis. Doctor is art.