Wheeey..
Sudah lama ndak nge-blog, sekalinya nge-blog saya akan bahas Medical App. Apa tho Medical App itu?

Nah, begini. Prinsip dasar Medical App adalah sebuah aplikasi yang memuat konten medis bagi gadget dengan tingkat mobilitas tinggi. Problemnya, kita sering menyebut semua aplikasi berbau medis adalah Medical App. Padahal sebenarnya tidak. Untuk lebih jelasnya, FDA yang akan meregulasi Medical App di US memilah mana yang Medical App dan mana yang tidak.

Definisi Medical App Oleh FDA

Draft US FDA Guideline for Mobile Medical Applications

Dari ilustrasi di atas, jelas ternyata bahwa yang masuk kategori Medical App hanyalah yang aplikasi yang mampu menggantikan peran dokter dalam berbagai aktifitas. Dalam berbagai kesempatan. Misalnya: penetapan diagnosis dan terapi. Yang termasuk aplikasi medis juga yang mampu mengunduh data rekam medis.

Sebuah ilustrasi:

Kasus 1: dr. A adalah seorang dokter jaga UGD sebuah RS. Suatu ketika datang pasien dengan keluhan nyeri perut. Setelah dilakukan pemeriksaan, maka dr. A ragu akan planning-nya. Pemeriksaan apa yang harus dilakukan. Terapi apa yang dibutuhkan. Maka dr. A pun menyalakan tablet dan membuka aplikasi Medscape. Beliau baca kembali literatur yang ada. Meneliti differential diagnosis yang mungkin. Setelah itu beliau menulis di status pasien planning diagnosis, therapy, monitoring.

Kasus 2: dr. B adalah seorang dokter jaga UGD sebuah RS. Suatu ketika datang pasien dengan keluhan kaki bengkak dan sesak napas. Pasien ini adalah pasien dr. SpPD-KGH. Pasien ini memang sering masuk rumah sakit. Karena kasusnya cukup kompleks, maka dr. A pun membuka tabletnya. Beliau membuka aplikasi dari RS untuk mengakses database rekam medis pasien. Dari sana, beliau mendapatkan riwayat terapi dari SpPD, dan mendapatkan kontak (ternyata SpPD sedang menghadiri simposium di Korea) untuk konsultasi. Konsultasi dilakukan secara real-time bahkan dapat mengirimkan foto kondisi pasien melalui aplikasi yang sama. Hasil lab maupun rontgen dapat langsung diinput dan diakses oleh SpPD dan memberikan instruksi untuk dr. A. Maka dr. A pun dapat menetapkan planning diagnosis, therapy, monitoring yang paripurna.

Bagaimana?
Dari ilustrasi di atas, saya harap teman-teman dapat memahami apa yang dimaksud aplikasi medis yang sesungguhnya. Medscape pada kasus 1 bukanlah aplikasi medis. Ia hanya memberikan literatur yang dibutuhkan dokter dalam proses learning by doing-nya. Maka aplikasi ini dapat diperoleh dengan mudah meski kadang berbayar.

Sedangkan aplikasi pada kasus 2 merupakan aplikasi yang dikembangkan secara maksimal dalam rangka pemberian layanan kesehatan yang paripurna. Tidak akan muncul gap antara terapi spesialis di ruangan dengan dokter umum di UGD. Proses ini akan membantu dokter umum belajar juga dari seniornya. Dan dokter spesialis akan lebih nyaman ketika datang beliau sudah tahu pasien apa saja yang menjadi tanggung jawabnya.

Last year, the FDA proposed draft guidelines (Figure) for the regulation of mobile medical apps.[12] It argued that the intended use of a mobile app determines whether it meets the definition of a “medical device.” Apps that are used as an accessory to a medical device or that transform a smartphone into a regulated medical device will therefore face strict regulation by the FDA in the future. Other apps, such as those that are solely “copies” of electronic textbooks or apps that do not require the input of patient specific data to output a patient specific recommendation, diagnosis, or treatment, are not considered as a “mobile medical app” and are therefore not regulated. It is expected that a final guidance will be launched in the first half of 2012.

Pertimbangan Di Masa Depan

Di masa lalu, para provider layanan kesehatan tidak pernah fokus dalam pengembangan aplikasi medis. Secara umum, aplikasi yang muncul dan cenderung dicari adalah aplikasi yang memberikan informasi maupun literatur medis. Di masa depan, kelak aplikasi medis yang benar-benar fokus pada mobilisasi data dan dokter akan semakin berkembang. Namun ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan yaitu kerahasiaan pasien, pembuatan keputusan klinis, dan konflik kepentingan yang akan muncul.

Kerahasiaan pasien harus diperhatikan. Kenapa? Karena aplikasi medis akan menuntut penggunaan alat medis yang terkoneksi langsung dengan aplikasi medis, seperti alat pengukur saturasi, monitor jantung, EKG. Data pasien akan langsung terekam di pusat data. Dari situ maka kerahasiaan data pasien rawan bocor karena dapat diakses melalui gadget dokter dimanapun dan kapanpun.

In Palms West Hospital, Florida, an app was developed that allowed doctors to monitor on their smartphones the vital signs of women in labour. This app delivers patient specific information, including fetal heartbeat and maternal contraction patterns, in virtual real time directly from the hospital labour and delivery unit to a doctor’s smartphone. This app allows doctors to monitor patients when they have to leave the labour and delivery unit.[27]

Begitu juga dengan pembuatan keputusan klinis. Dengan akses yang begitu mudah maka dalam proses pembuatan keputusan klinis yang bertanggung jawab diperlukan regulasi sehingga keputusan klinis yang dibuat dapat bersinergi dengan paramedis dan pihak lain seperti dokter umum.

Konflik kepentingan rawan terjadi bila aplikasi medis diciptakan oleh pihak ketiga. Jadi bukan dari pihak RS yang mengembangkan. Sementara bila RS yang mengembangkan, tentu saja ada cost tambahan yang harus disisihkan. Konflik kepentingan pihak ketiga ini pula yang akan dikaitkan dengan kerahasiaan data medis pasien.

Initiatives focusing on the connectivity and data integration of mobile apps have enormous potential for improving patient care and facilitating medical research possibilities.

Another rapidly developing area is telemedicine—for example, remote monitoring of patient specific data. It can be convenient for a doctor to evaluate blood glucose levels, blood pressure, and other vital signs from a distance. By using smartphones to catch problems early, doctors can avoid drastic and costly interventions such as rushing someone to hospital for a long stay. Consequently, unnecessary hospitalisations can be prevented.

Regulasi

Tujuan utama aplikasi medis adalah sinkronisasi data pasien secara komprehensif sehingga penanganannya pun akan lebih holistik dan paripurna. Sinkronisasi ini membutuhkan sebuah perangkat lunak utama dimana perangkat lunak ini akan terkoneksi dengan berbagai alat medis dan dapat menghimpun data pasien secara real-time.

Many mobile medical devices, such as apps, sensors, and monitoring devices can be used by patients, doctors, and other health professionals. At the moment, they are not connected to each other, but in the future these devices might become integrated—from decision support tools to personal electronic medical records.

Di Indonesia, penggunaan aplikasi medis masih sangat jarang diterapkan. Kita masih sangat bergantung pada rekam medis kertas dengan segala kelemahannya. Namun berpijak pada semakin banyaknya RS luar negeri, yang pasti akan mulai mengarah penggunaan aplikasi medis, maka diperlukan regulasi yang jelas akan penggunaan aplikasi medis ini.

Beberapa kutipan yang saya muat dalam tulisan saya ini, mengindikasikan bahwa FDA kini tengah menggodok sebuah regulasi aplikasi medis. Indonesia? Saya tidak yakin, tetapi harus ada yang memulai. Diawali pembenahan UU praktik paramedis, seperti perawat yang nyantol lama sekali di DPR dengan alasan yang tidak jelas. Juga UU praktik bidan. Ketika sistem kesehatan kita mapan, maka regulasi aplikasi medis akan dengan mudah kita rumuskan.

Pertanyaan Utama: Perlukah?

Maka kembali kepada judul di atas. Perlukah aplikasi medis untuk kita sebagai dokter? Jawabannya: perlu.

Definisi mana pun aplikasi medis, tetap kita perlukan. Sebagai sumber referensi, aplikasi yang menyediakan literatur medis akan sangat membantu kita dalam proses terus belajar. Sebagai aplikasi medis yang sebenarnya, juga sangat kita perlukan. Karena aplikasi medis akan merevolusi praktik klinis menjadi jauh lebih efisien.

Aplikasi medis akan mengubah pola komunikasi dan efisiensi pelayanan kesehatan dan mendukung pembuatan keputusan klinis yang berpihak pada pasien. Itu merupakan proses belajar kita sebagai dokter umum, juga merupakan sarana bagi dokter spesialis mengabdikan keahliannya. Selain itu, aplikasi medis akan menyelesaikan keribetan administratif terkait dengan kolaborasi dengan paramedis seperti perawat, bidan, apoteker dan paramedis lain.

Bagaimana menurut pendapat teman-teman?