Wah. Cape bahas vaksin terus. Ayo kita bahas sesuatu yang lebih ringan. Judulnya bisa dibaca. Saya mengamati ada perubahan tren di kalangan mahasiswa kedokteran. Bahkan di kalangan dokter. Yaitu munculnya fenomena tablet.

Kok bisa? Karena teknologi kini semakin murah dan lengkap. Evolusi pun muncul. Dari awal zaman dimana kita bergantung pada mesin ketik, komputer, laptop, hingga kini tablet. Mengingat kini kita ada di zaman tablet, jelas evolusi ini menawarkan yang semua orang cari, simpel, mudah dibawa, lengkap, dan bergaya. Tapi perlu nggak sih tablet itu bagi mahasiswa kedokteran atau dokter?

Di US, 30% dokter telah menenteng iPad®. Wow! Ini spesifik pada produk dari raksasa elektronik berlogo apel tergigit. Dan Apple sendiri berani mengklaim bahwa lebih dari 80% dokter di RS Top US menggunakan iPad. Meski tidak dijelaskan RS mana yang disebut Top.

Mari kita menoleh ke belakang. Sebelum era tablet, kita mengenal era laptop. Laptop di masanya menjadi bawaan wajib. Aneh rasanya kalau kita ditanya ‘apakah punya laptop?’ Dan kita jawab ‘tidak’. Nah, terkait dengan mahasiswa kedokteran dan dokter, wacana tablet masih dapat di adu dengan laptop, dalam kasus ini pilihan notebook dan netbook.

Maka saya akan jelaskan beberapa definisi gadget di atas. Langsung saya kutip dari Akang Wiki.

• Laptop: A laptop computer is a personal computer for mobile use. A laptop integrates most of the typical components of a desktop computer, including a display, a keyboard, a pointing device (a touchpad, also known as a trackpad or pointing stick) and speakers into a single unit. A laptop is powered by mains electricity via an AC adapter, and can be used away from an outlet using a rechargeable battery. Laptops are also sometimes called notebook computers or notebooks.

• PC tablet: A full-powered computer that is meant to be carried like a clipboard, but has a keyboard that pivots so that the computer can be used like a laptop. This kind of tablet, which has been around for about a decade, usually has a touch screen and sometimes has a removable keyboard.

• Multimedia tablet: A thin, touch-screen computer that lacks a keyboard and mouse. It is usually less powerful but more mobile than a personal computer, and it runs an operating system more similar to that of a smartphone than a PC. Apple’s iPad falls into this category.

• Netbook: A smaller, lighter, more portable laptop. It is also usually cheaper than a full-size laptop, but has fewer features and less computing power. Smaller keyboards can be more difficult to operate. There is no sharp line of demarcation between netbooks and inexpensive small laptops; some 11.6″ models are marketed as netbooks. Since netbook laptops are quite small in size, netbooks typically do not come with an internal optical drive.

Memang, saat ini (dan menurut saya, sampai beberapa tahun ke depan) komputer konvensional masih menjadi gadget utama dalam sebuah praktik medis. Pertimbangannya tetap pada kemapanan teknologi dan stabilitas perangkat keras. Namun, pada akhirnya, para dokter akan mulai berinvestasi pada laptop dan tablet. Dan perkembangan paling pesat akan diambil alih oleh tablet karena mobilitas dan kini menjadi life-style.

“Healthcare providers will continue to invest in laptop and PC tablet devices and, to a certain extent, [workstations on wheels] over the next three years. However, increasingly, they are investing in smartphones and media-rich tablets to round out their mobile device portfolio,” the Spyglass Consulting Group report says.

iPads, Galaxy Tabs inilah yang masuk dalam kategori media-rich tablets, dan berperang memperebutkan ceruk pasar potensial, yaitu dokter.

Fitur?

Notebook : menawarkan fasilitas seperti komputer konvensional, di antaranya prosesor yang cepat, memori dan kapasitas penyimpanan yang besar, layar besar, full-size keyboards, dan berbagai macam asesoris seperti port USB. Harga kisaran empat juta sampai delapan juta, meski beberapa notebook premium ditawarkan pada kisaran di atas 10-20 juta.

Netbooks : dengan berat yang ringan, dan harga yang murah, maka netbook menjadi primadona beberapa tahun terakhir. Tanpa DVD drives, dan menggunakan solid-state memory, netbook pun berevolusi menjadi versi sederhana dari notebook, termasuk pengembangannya. Variasi yang baru-baru ini muncul: Intel’s Ultrabook™ dan Apple’s MacBook Air®.

Tablets : PC-style tablets biasanya diciptakan dengan disain kaku, kekar, dan sulit untuk berkembang, karena lebih diarahkan untuk penggunaan di kantor. Pengembangan perangkat lunak pun fokus pada fungsi komputasi yang mumpuni. Sebagai bagian dari gadget para dokter, maka tablet jenis ini dikembangkan dengan pelindung antibakteri dan handel agar mudah dibawa (karena berat).

One form of sealed, heavy-duty tablet is the healthcare-specific computer, such as Intel’s Mobile Clinical Assistant (MCA) platform. The MCA, available from several hardware manufacturers, often features a sealed, antibacterial case, a built-in barcode reader, and an integrated handle to make it easy to tote around a hospital or clinic. Models from Panasonic and from Motion Computing can run $2500 each.

Namun muncul sebuah tablet multimedia. Pengembangannya lebih dinamis, dan didisain utamanya untuk multimedia, fungsi sosial media yang mumpuni, dan internet di mana dan kapan pun. Karena sebagian besar dokter kini beralih ke tablet multimedia, maka benarkah tablet memiliki manfaat maksimal bagi para dokter?

Most of the buzz has come from the consumer-grade multimedia tablet segment, which includes not only the iPad but also all manner of models running the Google Android operating system, including the Samsung Galaxy Tab™ and Amazon’s Kindle Fire™. Traditional PC manufacturers have developed tablets for Windows® 7, and Research in Motion offers the BlackBerry PlayBook™, although the latter device has been unsuccessful in the marketplace.

Kualitas Layar

Kenapa ini penting? Karena sebagian besar dokter berusaha menyederhanakan tugasnya dengan gadget, termasuk tablet. Dalam praktiknya, biasanya dokter meminta pihak RS mengirim hasil lab, hasil CT-scan, maupun hasil Rontgen untuk dilakukan pemeriksaan via gadget pribadi. Pertanyaannya, bisakah kulaitas layar tablet menggantikan ‘melihat hasil rontgen langsung’?

Sebagai contoh: iPad memiliki layar yang tajam dengan resolusi 1080p  (1920 x 1080 pixels). Itu hampir sama dengan televisi high-definition. Namun ditinjau dari kerapatan layar, seperti monitor komputer, iPad 2 memiliki kepadatan layar 130 dots per inch (dpi) — jauh di bawah 508 sampai 750 dpi yang bisa kita dapatkan dengan melihat hasil rontgen langsung.

The International Society for Optical Engineering’s medical imaging conference, in January, Australian radiologist Mark McEntee, MD, said that tablets should only be used as “secondary” displays when high-resolution screens are not immediately available.

BYOD (Bring Your Own Device)

Sesungguhnya terdapat perbedaan signifikan terkait dengan pola penggunaan tablet di Indonesia dan di luar negeri. Apa itu? Di luar negeri, tablet difungsikan sebagai gadget penghubung dokter ke sistem yang dikehendaki. Misal: kita praktek dan membutuhkan rekam medis maupun riwayat pengobatan pasien. Maka kita akan membuka koneksi menuju database RS tempat kita bekerja dan mengakses data.

Heritage Valley Health System in Beaver, Pennsylvania, has added radiofrequency identification tags to some of its iPads, so that mobile clinicians can touch the tag to a reader on a hospital PC and log into the main clinical information system at the same place they were on their tablets. Vice President and Chief Information Officer (CIO) David Carleton reported that physicians save 20 -30 minutes per day when doing their rounds because they don’t have to fight for devices or keep logging back in every time they go to a different room.

Carleton said it is “pretty unique” to be able to switch almost seamlessly between a mobile and a desktop environment, but a portable display still has shortcomings. “To think that a doctor could gather everything on one screen may be unrealistic,” Carleton Radiologists, for example, are used to having 3 screens at a typical workstation. At Heritage Valley Health System, the iPad functions somewhat like a paper chart, in that a physician uses it for quick review of the patient’s status, whereas data entry mostly takes place on a traditional PC, according to Carleton.

Di Indonesia, tablet masih merupakan ‘gaya-gayaan‘. Belum mampu dimaksimalkan karena sistem teknologi informasi kita belum mumpuni. Sebagian besar dokter membawa tablet difungsikan untuk mengakses informasi dari internet dan administrasi pribadi (email dan media sosial). Juga sumber data medis yang membantu dalam praktik medis.

Maka mana kah gadget terbaik?

Kembali ke masing-masing. Penggunaan gadget ini sangat bergantung terhadap manajemen klinik/RS, dan juga karakter personal dalam memanfaatkan gadget.

Laptop (notebook) saya rasa telah menjadi gadget wajib bagi tiap personal. Namun suportasi terhadap profesi dokter masih sangat minimal dibandingkan dengan kepraktisan.

Netbook boleh dan mampu dijadikan gadget pegangan. Namun saya pribadi merasa, gadget dengan profil amfibi (setengah notebook setengah tablet) memiliki kelemahan terbesar. Dimanfaatkan sebagai laptop, ia sarat kekurangan. Dimanfaatkan sebagai tablet, terlalu berlebihan. Maka saya hindari penggunaan netbook.

Tablet. Kini kian banyak tablet dengan berbagai sistem operasi. Saya sendiri pengguna tablet. Pun merasakan banyak manfaat terutama sebagai penunjang praktik medis. Saya merasa nyaman menjelaskan anatomi tubuh dengan bantuan tablet. Pun bila memerlukan rujukan informasi, beberapa aplikasi medis dapat membantu kita. Memang tetap bukan perangkat komputasi yang mumpuni (itulah kenapa saya pun masih membutuhkan laptop), namun membawa tablet di depan pasien, dan menggunakannya dengan tepat akan mampu meningkatkan nilai lebih kita sebagai dokter.

“It’s all about the tool and the individual,” said Steven J. Davidson, MD, MBA, chairman of emergency medicine at Maimonides Medical Center in Brooklyn, New York, who also is the hospital’s Chief Medical Information Officer. “I would like to get people thinking about the idea of workflow support and how the idea of workflow is unique to the practice,” he added.