“Saya sudah berobat ke dokter, bidan, mantri selama 1 tahun ini. Semua bilang saya punya masalah lambung. Tapi kenapa saya tidak sembuh-sembuh, Dokter?” Ny. A, 45 th, diduga gastric ulcer.

Pengalaman pasien biasanya dipengaruhi beberapa faktor. Seperti diagnosis yang tepat, pengobatan yang efektif, alat yang bagus, juga suasana terapeutik yang oke. Dan masih banyak lagi. Dan ternyata ada beberapa faktor yang ternyata lebih ringan secara keilmuan, seperti sikap kita terhadap pasien, mendengarkan curahan hati pasien, melibatkan pasien dalam keputusan terapi. Dimanakah posisi faktor-faktor ini? Bukankah seharusnya ia sama pentingnya dengan faktor keahlian klinis?

“Saya tidak tahu, Dok, anak saya dikasih obat apa. Pokoknya puyer gitu lho. Dokternya juga tidak bilang anak saya sakit apa.” Ny. F, 39 th, ketika saya tanya apa yang dikatakan dokter sebelumnya tentang sakit anaknya dan diberi obat apa.

Sebuah institusi kesehatan di Chicago menyakini bahwa softskill ini mengambil peran yang sangat penting dalam terapi pasien, selain hardskill. Ternyata komunikasi yang baik akan menghasilkan kondisi psikologis pasien yang lebih baik. Efeknya? Mereka akan lebih merasa didengar dan diperhatikan. Hasilnya? Mereka mempercayai terapi kita, bertanya tentang penyakit dan terapi, dan memberikan informasi tentang tanda dan gejala yang dimiliki. Informasi kita akan lebih lengkap.

“It’s important to communicate the nature of the illness or the disease to the patient; to be able to explain to them in easy terms the purposes of the treatment,” he explains. “Because the patient can then be very involved in their care; can better understand their illness; and can better understand their treatments. The better understanding a patient has of their treatments, the better outcomes we would expect—compliance with medications, compliance with lifestyle recommendations, for example.” Matthew Sorrentino, professor of medicine at the University of Chicago Pritzker School of Medicine.

Saya sendiri, melalui pengalaman praktik yang masih seumur jagung ini, meyakini bahwa ketika kita mampu membangun sebuah hubungan dokter-pasien yang baik, akan lebih mudah bagi kita untuk meningkatkan mood pasien, mengukur tingkat kepuasan pasien akan terapi kita, dan bahkan mampu mempercepat proses penyembuhan.

Komunikasi adalah keahlian. Skill. Meskipun ada beberapa yang memang diberi anugerah bakat dalam berkomunikasi, namun kemampuan komunikasi bisa diasah. Dan harus diasah. Bagaimana caranya? Bukankah ada materi komunikasi di kuliah (FKUB)?

Softskill harus dilatih. Karena profesi kita memiliki tanggung jawab moral terhadap manusia. Pasien kita adalah manusia. Seperti kita. Kita sebagai pasien akan mampu merasakan sejauh mana dokter memahami rasa sakit kita. Benarkah dokter ini empati? Atau hanya sekedar menampakkan keramahan palsu?

Pasien akan mampu mendeteksi komunikasi empati yang tulus. Diiringi komunikasi yang luwes. Dan ditambah kepercayaan sang dokter kepada pasien. Sebaliknya, pasien juga akan mampu merasakan sebuah empati tiruan, yang membuat dokter layaknya robot. Empati yang dipaksakan. Lantas bagaimana? Bukankah memang ada sebagian kita yang tidak diberi bakat berkomunikasi?

Justru itulah mengapa komunikasi menjadi sebuah softskill yang layak kita latih. Saya sendiri adalah tipe yang sulit berempati dengan pasien. Tetapi saya mempelajari gestur, sikap, seorang teman yang memiliki kelebihan komunikasi empati yang baik. Perlahan saya mampu mengaplikasikan komunikasi empati yang wajar dan normal melalui sentuhan, posisi saya dalam memeriksa pasien, maupun komunikasi verbal. Dan itu terus dilatih.

“Saya sudah rawat inap di RS selama empat hari. Sesak saya berkurang. Lantas diizinkan pulang. Tetapi sampai rumah, kumat lagi, Dokter. Sebenarnya saya sakit apa, Dokter. Obat dari RS ndak saya minum karena setelah minum obat itu saya muntah.” Ny. M, 75 th, seorang yang datang ke klinik dengan sesak dan membawa foto rontgen dari RS sebelumnya yang menyatakan Congestive Heart Failure. Rhonki di basal dan media paru. Obat diuretik dari RS itu pun masih utuh.

Maka, jelas sudah. Komunikasi merupakan hal yang vital dalam profesi kita. Softskill tidak boleh menjadi anak tiri. Selama ini kita lebih dominan mengasah hardskill. Nilai ujian harus bagus. Menguasai anatomi, biokimia. Begitu juga penyakit dalam, bedah dan banyak ilmu lainnya. Tetapi kita tetap harus menguasai komunikasi empati.

Dalam proses belajar, melatih komunikasi dapat dilakukan melalui banyak hal. Berorganisasi salah satunya. Kita akan terlatih untuk menyusun skenario percakapan, berkelit, merangsang kreatifitas dalam mengembangkan percakapan. Kenapa? Karena kita akan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai kalangan.

Kita akan berlatih membangun percakapan dengan sesama anggota organisasi, baik dengan senior maupun junior kita. Kita akan berlatih komunikasi dengan para birokrat kampus seperti Dekan dan Pembantu Dekan. Dalam beberapa acara bahkan kita bisa berinteraksi dengan orang terkenal (Seperti saya dulu sempat menjadi sopir Pak Tifatul Sembiring saat beliau menjadi pemateri seminar nasional yang diadakan FKUB). Kita akan ‘dipaksa’ berinteraksi dengan berbagai karakter. Dan itu akan sangat berarti di masa profesi kita.

Mari kita sama-sama belajar keahlian ini. Sekali lagi, keahlian ini bisa dipelajari. Dan bisa kita lakukan dengan luwes bila kita terus melatihnya. Komunikasi empati bukan perkara sulit. Namun juga bukan perkara mudah.

Bayangkan reaksi pasien bila kita menjelaskan, “Ibu ini menderita diabetes mellitus. Dan dalam tubuh Ibu sudah terjadi proses vaskulopati dan neuropati sehingga kaki Ibu sudah mati rasa. Makanya Ibu harus pakai sandal kemana-mana. Karena nanti kalau misal kaki Ibu kena paku, ibu ndak merasa, dan akan sukar sembuh. Bisa-bisa nanti kaki ibu harus diamputasi.”

Well, Dokter harus punya softskill, bukan?