Inilah catatan perjalanan yang saya janjikan. Posting pertama ini tentang perjalanan kami di hari pertama. Goa X. Kenapa namanya Goa X, karena kami dipesan oleh mas Cetoel agar tidak mengekspos nama asli Goa ini. Karena Goa ini sangat sangat mudah dijangkau maka bila sembarang orang masuk, kami kuatir keindahan goa ini akan rusak oleh tangan-tangan jahil.

Rehat Setelah Mengarungi Sungai Dalam -Praba, Dicky, Bayu, mas Kunto

Goa X adalah Goa horisontal yang biasanya debit airnya tidak terlalu banyak. Namun ketika kami tiba, debit airnya luar biasa banyak. Sejak sekitar 100 m dari mulut goa kami sudah disambut sungai bawah tanah sedalam lutut. Berjalan sedikit, kami menemui sungai dengan kedalaman sekitar 2-3 meter. Kami menyusuri dengan berpegang pada dinding goa, melayang-layang di sungai bawah tanah yang dalam ini. Cukup menegangkan!! Bagi saya, sangat menegangkan!! Karena meski saya bisa berenang, dalam kondisi sangat gelap tentu sulit menemukan arah.

Goa ini sangat indah, Teman. Sungguh. Kami berulang-ulang berdecak kagum. Saya berkali-kali menyebut Subhanallah. Luar biasa. Goa ini berada di daerah Gunung Kidul yang kaya kapur. Maka stalagtit dan stalagmit kebanyakan berwarna putih. Cantik berkilau disinari cahaya senter kami.

Sebagian Bentukan Stalagtit Langit-Langit Goa

Kami menemui banyak tantangan yang seru saat menelusuri goa ini. Banyak jeram deras yang harus dilewati, air terjun mini yang harus didaki, dan bermeter-meter sungai dangkal namun lumpur tebal siap menjebak kaki kita.

Kami ditemani kepakan sayap kelelawar yang hilir mudik di atas kepala kami. Diiringi gemercik tetes air dari atap goa, dan riuh rendah arus sungai bawah tanah.

Rehat Lagiii -Dicky, mas Kunto, Bayu-

Dalam perjalanan menuju ujung goa, kami lebih banyak beristirahat. Hal ini mungkin karena kami masih lelah setelah perjalanan Surabaya-Yogya malam sebelumnya. Hingga akhirnya kami menemukan tempat yang cukup aman dan indah untuk mengeluarkan kamera dan take a picture. Sekalian mengobati dahaga dan mengisi perut.

Narsis Dulu -Praba Dicky Bayu-

Pemberhentian kali ini kami ‘agak’ menikmati dan bersantai. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00. Menurut mas Cetoel ujung goa akan kami capai tidak jauh lagi. Hemm… Semakin bersemangat.

Kendala utama saya selama caving Goa X ini adalah: saya menggunakan kaca mata renang khusus dengan minus 3,5. Karena saya memang mengantisipasi bila harus berenang akan sangat sulit bila menggunakan kaca mata biasa. Namun kesalahannya: sistem antifog-nya rusak. Jadi saya lebih jelas tidak menggunakan kaca mata renang itu. Akhirnya juga saya kurang mencermati keindahan dinding Goa. Beberapa kali Bayu dan Praba menemukan jangkrik transparan dan kepiting transparan. Ah sayang sekali.

Bentukan Yang Mirip Bunga Teratai. Cantik, bukan?

Kendala lain adalah sepatu boat saya kekecilan sehingga menyakitkan sekali harus melangkah berat melawan lumpur dengan jempol lecet. Hehehe… Dan satu lagi. Idealnya kami menggunakan lampu kepala seperti yang digunakan Praba. Karena tangan dapat dengan bebas berpegangan saat menelusuri Goa.

Kami sampai ujung Goa pada pukul 19.30. Ujung Goa hanya berupa ruangan dengan pintu masuk setinggi 1 meter. Di dalamnya terdapat ruangan berbentuk segi empat dengan air yang terus menerus mengalir di dinding goa. Setelah puas, kami balik badan dan memulai perjalanan kembali ke permukaan Bumi.

Berikut adalah dua foto bentukan alam Goa. setiap dinding mengalir air tanah. Stalagtit tak pernah berhenti terbentuk ratusan tahun. Stalagmit pun terbentuk cantik. Yang mengagumkan, karang goa terbentuk dengan sangat elegan hanya dengan kekuatan air. Ratusan tahun. Dan inilah kekuasaan Allah.

Bentukan Atap Goa

Stalagtit-Stalagmit-Terasering