image

Satu kesan untuk The Raid: Serbuan Maut – LUAR BIASA!

Film ini sebenarnya merupakan film kedua kreasi Iko Uwais dan Yayan Ruhiyan. Film pertama adalah merantau. Dan Merantau pun mendapat apresiasi positif sebenarnya. Hanya kekuatan publikasi yang minim menyebabkan Merantau hanya sekedar lewat di belantara film Indonesia. Jujur saya pun belum sempat menonton Merantau ketika tetiba film ini menghilang dari bioskop.

Film kedua yang merupakan sekuel dari Merantau sesungguhnya adalah Berandal. Namun Berandal yang direncanakan akan menggunakan aktor laga internasional memakan bujet dana yang besar. Akhirnya diciptakan sebuah film dengan plot cerita sederhana: Serbuan Maut (The Raid). Film inilah yang justru memiliki sisi publisitas yang mumpuni. Bahkan sebelum ditayangkan di bioskop Indonesia, The Raid telah menuai pujian dan penghargaan melalui sejumlah festival film di berbagai negara diantaranya Kanada, Irlandia dan Amerika Serikat. Bahkan beberapa kritikus dari Amerika Serikat sebagai kiblat perfilman dunia memberi nilai “A” untuk film ini.

Dan kini saya ingin mengulik sedikit kesan saya terhadap film ini. Film ini memang penuh darah dan kekerasan. Tapi semua diungkap scene demi scene dengan cara yang unik. Dan jujur saya berangkat ke bioskop dengan sedikit ngeri karena testimoni teman-teman terhadap film ini “sangat penuh darah dan sadis”. Terbayang, apa bagusnya film yang hanya berisi darah.

Dan, setelah menonton, wow!

Ini adalah film yang menempati film wajib tonton tahun ini. Dan film ini Indonesia banget. Bangga rasanya. Kenapa? Mari kita ulas.

The Raid: Redemption (hak cipta di USA menggunakan kata Redemption) memiliki plot cerita klasik nan sederhana. Pertarungan antara polisi dan penjahat. Namun plot sederhana ini dikemas dengan menarik dan masuk akal. Perang yang tidak bisa dihindari bahkan kelompok polisi ini terjebak untuk bertarung demi menyelamatkan diri.

Lokasinya adalah sebuah apartemen bobrok yang ternyata dikuasai oleh gembong narkoba bernama Tama (Ray Sahetapy). Gembong ini dapat bertahan bertahun-tahun karena menyuap polisi. Salah satunya adalah polisi “yang bisa dibeli” (Letnan Wahyu yang diperankan Pierre Gruno) ini ikut dalam penggerebekan yang dipimpin Sersan Jaka (Joe Taslim). Cerita mulai berombak saat kelompok polisi ini mencapai lantai 5 dari 15 lantai yang harus ditelusuri. Penggerebekan diam-diam menjadi aksi pertarungan terbuka karena Tama, yang memergoki penggerebekan, mengumumkan bahwa setiap penghuni apartemen yang bisa menumpas kelompok polisi akan digratiskan sewa apartemen. Dan simsalabim!! Mendadak setiap manusia menjadi musuh dan mau tidak mau kelompok polisi ini harus “menghabisi” mereka.

Bagi saya yang paling berkesan adalah ketika pertempuran justru tidak dengan “tembak-tembakan”. Ketika sang tokoh utama, Rama yang diperankan dengan apik oleh Iko Uwais terpisah dari kelompok dan harus bertarung tangan kosong dengan sekelompok penjahat. Sadis, berdarah, namun masih nyeni. Koreografinya cantik. Melompat, memukul, tertendang, menusuk dan adegan kekerasan lainnya disajikan berimbang. Naik dua lantai, turun tiga lantai. Bahkan saya lupa bernafas karena terpana oleh koreografinya.

Munculnya Mad Dog (Yayan Ruhiyan) yang berada dalam satu scene dengan Donny Alamsyah sebagai Andi membuat saya tidak menyangka Mad Dog ini akan jadi tokoh sentral. Kalah pamor sama Donny Alamsyah. Hehe…

Scene yang saya favoritkan juga ketika Mad Dog menangkap sersan Jaka. Bukannya membunuh sersan Jaka dengan pistol, dengan percaya diri dia menantang Jaka untuk bertarung satu lawan satu. Dan sekali lagi, koreografi pencak silatnya: juara!!

The Raid: Redemption memang tidak menekankan pada plot cerita. Tetapi rupanya tetap ada friksi emosi yang dilibatkan. Yaitu Rama yang bertugas ini meninggalkan istrinya yang hamil. Kilas kenangan seorang wanita yang sedang hamil ini menjadi satu diantara dua scene yang menampilkan perempuan. Satu lagi? Salah seorang penghuni apartemen yang juga sedang hamil. Sisi emosional yang lain adalah Andi yang merupakan tangan kanan Tama ternyata kakak dari Rama.

Jangan pula berharap percakapan yang bagus. Porsi berbincang bukanlah hal yang dominan. Justru yang menarik beberapa dialog terkesan konyol, dan satir. Awalnya saya berpikir ini scriptwriter kok pakai dialog yang aneh, garing dan konyol. Namun ternyata humor miris inilah yang kadang membuat kita tersenyum di tengah adegan kekerasan. Rupanya naskah yang dibuat oleh sutradara asal Wales, Gareth Evans mampu di-translate dengan baik tanpa meninggalkan humor satir khas film barat oleh sang Produser, Ario Sagantoro.

“Film ini Evans tulis dalam bahasa Inggris. Saya bertugas menterjemahkan. Awalnya sulit karena banyak bahasa gaul dalam bahasa Inggris,” terang Ario Sagantoro, produser seluruh film Evans.

The Raid: Redemption adalah film action. Namun bukan tipe aksi ganas tanpa plot yang dipaksakan. Plot ini ringan namun memang menggiring para tokohnya untuk bertarung keras. Segala adegan tarung sesungguhnya berpusat pada dua koreografer silat kita: Iko Uwais dan Yayan Ruhiyan. Titik picu adalah harga diri Mad Dog sebagai seorang ahli tarung. Adegan yang cukup menonjol adalah ketika Rama yang datang untuk membebaskan kakaknya Andi. Mad Dog dengan segenap keyakinan diri, membebaskan Andi dan menantang Rama dan Andi bertarung dengannya.

Akhir dari scene tarung yang menyesakkan ini ditutup dengan tepuk tangan penonton di bioskop. Luar biasa indah, dan menonjolkan setiap jurus pencak silat. Begitu mengalirnya adegan tarung itu sampai saya menangkap kesan tarung tidak lagi keras melainkan indah seperti tarian.

“Semua gerakan itu adalah gerakan dasar Pencak Silat. Memang seperti itu,” kata Yayan

Kini, Sony Pictures kabarnya telah membeli hak distribusi The Raid: Redemption. Mereka juga akan membuat film remake-nya. Iko Uwais dan Yayan Ruhiyan yang akan didapuk merancang koreografi tarungnya. Semoga lancar. Karena bila ini berhasil maka kita akan memperkenalkan pencak silat kepada dunia. Seperti Bruce Lee yang dulu mengenalkan kung fu kepada dunia.

Penokohan karakter The Raid: Redemption lagi-lagi berpusat pada dua tokoh sentral: Rama dan Mad Dog. Dua tokoh ini memiliki kedalaman peran dan mampu diungkapkan dengan baik oleh para pemerannya. Selain dua tokoh tersebut, Tama selaku bos gembong yang kejam namun tidak banyak bicara juga memegang peran penting. Selain ketiga tokoh tersebut rasanya tidak ada yang istimewa bahkan kadang terasa dipaksakan.

Kesimpulan saya: film ini sangat layak ditonton. Meski penuh darah tetapi masih dapat ditutupi oleh aksi silat yang cantik. Plot ringan namun tetap penuh aksi. Pembawaan karakter tiga tokoh utama tadi cukup menutupi kelemahan karakter yang lain. Well, it is a very good movie.

Evans telah menyatakan untuk membuat film trilogi. Maka pantas ditunggu film ketiga yang rencananya mengambil judul film yang tertunda: Berandal. Berandal kabarnya merupakan sekuel dari The Raid da direncanakan tayang pada Januari 2013.

Catatan: di tengah film ada seorang ibu yang keluar bioskop membawa anak kecil. Sempat heran kenapa petugas bioskop tidak memberi peringatan bahwa film ini tidak boleh ditonton anak kecil. Semoga di masa depan seleksi penonton diberlakukan di semua bioskop Indonesia.

Posted from WordPress for Android