Weits. Bertahan hidup di fakultas kedokteran? Macam mau perang saja ini. Hehe… tapi memang benar. Belajar di fakultas kedokteran itu butuh tips dan trik. Buat apa? Biar bisa lulus? Basi!! Lulus itu mudah. Tapi lulus dan sukses itu beda, bro.

Ingat ketika pertama kali kita menginjakkan kaki di fakultas kedokteran? Wow!!. Berjuta rasanya. Tapi pernah nggak kita merasa tetiba sudah di semester 5.

Ndak terasa ya…”

Atau macam saya ini. Ketika wisuda, “lha semacam baru kemarin saya di-ospek.” Ah. Awet muda memang. Berasa muda selalu. Hehehe… begitulah. Kenapa? Karena hidup kita telah berubah secara dramatis selama kita sekolah di kedokteran. Dan itu tidak kita sadari. Kenapa? (Lagi!)

Karena hidup kita tertelan dalam rutinitas. Terutama saat koass. Hidup normal saja sulit. 24 jam tidak lagi mampu mengakomodasi kebutuhan kita menelan se-abreg data untuk ujian. Ingat modul histologi yang terbagi menjadi empat dan bahkan masing-masing setebal batu bata (lebay) pun ukuran A4 (nangis). Well, bagaimana kita bisa tidur dan makan ya…

Hehe… sekolah kedokteran itu tidak seburuk itu kok. Menurut saya semua bergantung dari cara kita menjalaninya. Jangan biarkan sekolah kedokteran mengatur hidupmu. Sebaliknya, atur ritme sekolah kedokteran dalam ritme nafasmu. It is your lifestyle. Bila tidak, kita akan terseret arus rutinitas, tenggelam dalam target-target modul. Pada akhirnya kita akan lupa, kenapa ya kita sekolah kedokteran.

Lantas, bagaimana kita bisa bertahan hidup di Fakultas Kedokteran? Seperti yang saya telah sampaikan di tulisan saya sebelumnya. Poin pertama dan utama: manajemen waktu. Dan bersyukurlah Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya telah memahami ini dan saat pertama kali saya menginjak bumi FKUB nyaris tujuh tahun yang lalu, materi ini yang pertama kali meresap.

Jika anda berhasil mengamalkan manajemen waktu, anda akan dapat menikmati hidup anda di fakultas kedokteran. Anda yang mengatur hidup anda saat sekolah kedokteran. Bukan sekolah kedokteran yang mengatur anda. Karena sekolah kedokteran itu unik.

Saya membuktikan. Sekolah kedokteran sangat berbeda dibanding bidang ilmu lain. Kenapa? Karena kita diharuskan menelan informasi demikian banyak. Menguasai begitu banyak hal sekaligus. Dan kita harus mengeksplorasi cara belajar kita. Kita mencoba banyak cara dan tentukan mana yang paling berhasil dan sesuai dengan kita. Kita harus belajar cerdas, bukan lagi belajar keras.

Selain manajemen waktu, apalagi?

  • Menjaga Badan Dan Stamina.

    Saat sekolah kedokteran, kita akan menghadapi kesibukan yang akan memeras stamina. Hal ini pasti akan berpengaruh terhadap tubuh kita dalam jangka panjang. Maka rawatlah diri kita sendiri. Pilih makanan yang sehat dan berolahraga (oke, saran ini adalah saran tersulit. Hehe…). Tetapi itulah faktanya. Otak kita membutuhkan asupan gizi yg baik. Badan kita wajib berisitirahat cukup dan berolahraga.

  • Jangan Bersaing Dengan Teman Kita Ataupun Membandingkan Nilai Kita.

    Ah ya. Ini sangat sulit sebenarnya untuk dilakukan. Kenapa? Kultur yang berkembang dalam kepala kita, adalah persaingan. Sejak sekolah dasar kita dituntut lebih bagus nilai dibanding teman-teman kita.

    Paradigma yang harus diubah total saat memasuki Fakultas Kedokteran. Karena tidak ada gunanya. Bersaing dengan teman kita tidak akan membuat kita menjadi dokter yang lebih baik. Dan mendapat nilai 87 dalam ujian anatomi tidak lantas berarti kita akan menjadi dokter yang hebat. Saya ingat begitu keluar dari ruang ujian dan kita terobsesi tentang apa jawaban yang benar untuk soal nomor 13. Atau mereka mememastikan bahwa kita menjawab “C” untuk soal nomor 23.

    Salah? Tidak!! Tapi bersikaplah sewajarnya. Kita pasti ingin tahu apa kira-kira jawaban yang tepat untuk soal-soal tertentu yang kita tidak yakin. Tapi gunakan kesempatan itu untuk memperbaiki pemahaman kita akan soal.

    Bukan masalah lebih pintar atau lebih bisa menjawab soal. Tetapi yang penting adalah kita tahu sepenuh hati kita berproses. Kita bertambah ilmu. Kita memahami ilmu. Bila kita dapat nilai jelek ujian anatomi, apakah kita bodoh anatomi? Belum tentu. Bila kita dapat nilai jelek dalam fisiologi, performa kita akan jelek pula saat koass? Belum tentu. Ujian hanyalah salah satu parameter keberhasilan belajar kita, bukan?

  • Belajar Soal!! (Ha?!)

    Wah. Beneran tho? “Belajar catatan, slide, textbook 5 kali adalah cara terbaik mempersiapkan diri kita menghadapi ujian.” Salah besar!! Ingat. Ujian hanyalah salah satu cara kita mengukur keberhasilan belajar kita. Dan soal itu memiliki pola. Pola inilah yang menunjukkan pada kita, mana yang must to know dan mana yang nice to know. Pola ini yang harus kita kenali di masing-masing subjek.

    Belajar soal juga mampu memantapkan pemahaman kita atas suatu subjek. Mempelajari sesuatu berulang-ulang tidak akan membuat kita semakin pandai. Namun bila kita mengerjakan soal dan kita salah, itu akan lebih berkesan dan memacu pemahaman kita.

    Dan soal itu didesain oleh dosen kita yang telah lama berkiprah di dunia medis Indonesia. Beliau-beliau telah sangat paham kebutuhan dokter di Indonesia. Maka soal juga dapat kita pergunakan untuk meneropong situasi aktual medis Indonesia.

  • Pahami Gambaran Besarnya.

    Kita memulai kuliah kedokteran kita dengan ilmu dasar seperti biokimia, anatomi, fisiologi. Saya dulu sempat mempertanyakan, buat apa kita memicing-micingkan mata di mikroskop demi melihat sel kuppfer? Atau kenapa kita harus tahu siklus krebs pun dengan segala enzimnya? Atau kenapa kita harus menghafal semua struktur penting di basis cranii (dan semua penting!!)?

    Begitu melimpah rezeki informasi yang harus disimpan dalam hippocampus kita. Dan kuncinya hanya satu. Untuk menghafal semua itu, kita harus memahami gambaran besarnya. Pelajari konsep utuh dari kepingan puzzle informasi keilmuan kita. Ada sesuatu yang besar dibalik itu semua. Lantas bagaimana kita bisa tahu? Jawabannya ada di poin keempat.

  • Belajar Berkelompok.

    Nah. Bagaimana? “Ah, aku lebih suka belajar sendiri. Lebih konsentrasi.” Salah? Ya dan tidak. Karena yang harus kita ingat tentang belajar berkelompok adalah: kita harus belajar sendiri dulu untuk mempersiapkan diri belajar kelompok.

    Buat apa? Yah. Akan sangat canggung bila masing-masing teman kita berkontribusi, “aku rasa ini adalah cavum orbita” kata Edi seraya menunjuk dua lubang besar pada gambar tengkorak. “Sebentar. Aku kemarin sudah melihat di Sobotta. Sepertinya memang ini. Kamu punya Spalteholz kan di rumah. Menurutmu?” Tanya Ita. Anda bingung. “Hemm. Spalteholz itu aku punya ya? Kalau menurutku ini.” Sahut kita sambil menunjuk dataran di atas dua lubang tadi. Lantas hening. Dan tepok jidat berjamaah. Hehehe…

    Belajar kelompok adalah sangat vital dalam membangun sebuah gambaran besar suatu subjek. Masukan dan kritikan akan menjadi sangat berarti. Dan dunia medis sendiri bukan sebuah dunia solitair. Jadilah good team player. Bersikap baik dan berbagi informasi. Dimanapun dan dengan siapapun. Dan anda akan survive.

  • Sediakan Waktu Untuk Refresh Sejenak.

    Kita, mahasiswa kedokteran, memiliki beban yang sama. Tekanan hidup yang sama. Beberapa bahkan lebih berat. Tetapi toh kita tetap harus tersenyum. Bahkan ketika menjadi dokter, keahlian bersikap ramah kepada pasien seberat apapun masalah pribadi kita (jujur, superdupersulit.) adalah istimewa.

    Lantas bagaimana tips-nya? Kembali lagi. Manajemen waktu. Dengan manajemen waktu yang baik, kita akan punya waktu luang. Dan kita akan dapat mengerjakan sesuatu yang merilekskan badan dan pikiran. Beberapa shopping. Beberapa berolahraga. Yoga. Mendengarkan musik. Apapun. Temukan apa yang membantu kita refresh. Dan lakukan. Jangan biarkan stres mempengaruhi studi kita, hubungan interpersonal kita, dan kesehatan kita.

Pada akhirnya, belajar di sekolah kedokteran adalah sebuah proses panjang. Long Life Learner. Kondisi tersebut menuntut disiplin dan pengorbanan. Ya. Jangan malas membuka jurnal dan buku diktat, bahkan setelah anda lulus menjadi seorang dokter. Ilmu kedokteran terus berkembang bahkan lebih cepat dari pertumbuhan kuku kita. Pengorbanan? Ya. Anda harus berkorban waktu, tenaga, dan biaya. Itu jelas.

Tapi saya garis bawahi. Apa yang kita dapatkan tidak akan dapat ditukar dengan apapun di dunia ini. Priceless. Karena inilah mengapa Allah menempatkan anda, sebagai dokter: anda akan mendapat keleluasaan menolong sesama manusia. Baca dan resapi. Inilah tugas utama kita sebagai penyembuh. Menolong sesama. Memperantarai Allah dalam proses manusia yang sakit untuk sembuh. Lihat. Kita telah mendapatkan definisi hakiki. Bila ada yang bertanya, buat apa saya hidup. Maka kita telah mendapatkan jawaban itu sejak pertama kaki kita menjejak bumi Fakultas Kedokteran.

Kita tidak akan dapat menyangkalnya. Kita telah bergabung dalam sebuah profesi yang luhur. Bersemangatlah dalam belajar karena dunia medis itu adalah seni.

“To me, the ideal doctor would be a man endowed with profound knowledge of life and of the soul, intuitively divining any suffering or disorder of whatever kind, and restoring peace by his mere presence.” – Henri Amiel-

Diadaptasi dari sebuah blog Medscape.
Editor’s note: This was adapted from a book manuscript in the publication process,Β How to Prepare for the Medical Boards – Secrets for Success on USMLE Step 1 & COMLEX Level 1, by Adeleke T. Adesina and Farook W. Taha