Tuntas sudah sejarah sumpah dokter. Edisi terakhir adalah tentang kontroversi Hippocratic Oath.

Hipokratik ataukah Hipokritik?
Sebuah joke yang sering dilontarkan. Tentu bagi yang tidak mengerti bisa dengan sangat mudah terkecoh.

… lantas kenapa harus mengubah sumpah yang asli?

Ironis. Karena sumpah hippokratik kini menjadi hipokritik inilah yang menjadi sumber kekecewaan. Karena ternyata sumpah yang berkembang telah banyak yang mengalami deviasi. Sebuah survei menyebutkan sumpah dokter yang dilaksanakan di lebih dari 150 sekolah kedokteran di Amerika Serikat dan Kanada: yang mencakup pelarangan eutanasia hanya 14%, pelarangan aborsi 8%, pelarangan kontak seksual hanya 3%. Intinya adalah ternyata sumpah yang digunakan saat ini tidak dijiwai pemikiran Hippocrates, karena ketiga poin itulah yang menjadi poin kunci dalam Sumpah Hippocrates.

Temuan menarik lainnya: masih ada yang bersumpah di bawah kesaksian menggunakan dewa kuno. Di dunia modern yang seperti sekarang.

Dan mungkin justru fakta inilah yang menjadi pembeda. Titik vital. Kenapa? Karena sumpah dokter kini hanyalah prosesi resmi biasa. Sumpah dokter tidak lagi sebuah proses sakral yang mengerahkan kehambaan kita pada Entitas Ketuhanan. Tidak ada lagi kebertanggungjawaban secara moral dan keTuhanan atas sumpah kita. Kini kita tidak lagi takut kutukan akan menimpa kita bila kita tidak mematuhi sumpah – seperti masyarakat masa animisme-dinamisme.

Dan akan selalu ada perdebatan. Apakah memang masih pantas dan sesuai bila sumpah Hippocrates asli ini digunakan? Seperti pada bagian “teaching the master’s sons the secrets of medicine without fees and the promise not to bring a knife to another’s body”, jelas tidak lagi relevan dimana pendidikan sekolah kedokteran kini menjadi industri tersendiri. Begitu juga dengan spesialisasi yang semakin berkembang, tidak mungkin kita tidak menggunakan pisau dalam melaksanakan operasi bedah. Kontroversi ini semakin hangat karena beberapa kolega dokter, yang melaksanakan aborsi dan euthanasia legal di bawah undang-undang negaranya, juga menyatakan ketidaksetujuannya dengan ide ‘back to original oath’. Sangat sulit bagi mereka meletakkan larangan untuk aborsi dan euthanasia (sesuai original Hippocratic Oath) pada sumpah dokter modern, karena di negaranya kedua hal tersebut rutin dilakukan dan legal.

Dan ada pula yang mengangkat isu etis. Beberapa dokter berargumen bahwa Sumpah Hippocratic itu ditulis jauh sebelum ditemukannya mikroorganisme yang menyebabkan penyakit infeksi. Maka bukankah dokter sekarang belajar dalam dunia penyakit yang berisiko menulari dokter itu sendiri? Dokter dibebani secara moral untuk merawat pasien dengan Ebola virus atau HIV dengan risiko tertular?

Atau bagaimana kita menjaga privasi pasien (seketat aturan Sumpah Hippocrates asli) bila kini organisasi kesehatan membutuhkan informasi pasien untuk dokumentasi? Bahkan banyak industri juga membutuhkan rekam medik untuk kualifikasi mereka. Bagaimana dengan etika eksperimen (yang tidak disertakan dalam Sumpah Hippocrates asli)? Dalam eksperimen tertentu kita juga membutuhkan beberapa rekam medik pasien dan tentunya publikasi hasil eksperimen.

Ada juga komentar tentang bersumpah kepada Dewa-Dewi dan kini tidak lagi relevan. Sumpah kepada Entitas ini akan mencederai semangat religi dokter. Dan dapat dipastikan tidak ada dokter yang menyerahkan diri (pasrah) akan hukuman Tuhan bila melanggar sumpah (seperti yang tertulis dalam Sumpah Hippocrates asli).

Maka dapat dimengerti bahwa beberapa dokter yang memiliki pemikiran radikal menginginkan penghapusan Sumpah Hippocrates saat pelantikan dokter dengan argumentasi sumpah itu terlalu usang. Namun, dalam dunia yang kini mengembangkan teknologi dan medis secara masif, diperlukan sebuah baku emas untuk menetapkan etikomedis dan moral. Tidak peduli betapa utopis-nya. Baku emas ini diperlukan tidak hanya untuk menjadi pola ideal (teladan) bagi mereka yang berada di industri kesehatan, tetapi juga melindungi mereka yang menerima jasa medis, dalam hal ini pasien.

Modifikasi sumpah jelas tidak bisa kita hindari. Hippocrates adalah seorang yang sangat memegang prinsip metode ilmiah dan sangat teliti dalam mengamati lingkungannya berkaitan dengan manusia dan penyakit. Maka Hippocrates pasti akan memaklumi dan menyetujui perubahan sumpah demi menjaga perkembangan ilmu medis dunia. Selama dokter menjaga prinsip-prinsip dasar Sumpah Hippocrates.

Bagaimana di Indonesia? Sumpah Dokter Indonesia adalah sumpah yang dibacakan oleh seseorang yang akan menjalani profesi dokter Indonesia secara resmi. Sumpah Dokter Indonesia didasarkan atas Deklarasi Jenewa (1948) yang isinya menyempurnakan Sumpah Hippokrates.

Lafal Sumpah Dokter Indonesia pertama kali digunakan pada 1959 dan diberikan kedudukan hukum dengan Peraturan Pemerintah No.69 Tahun 1960. Sumpah mengalami perbaikan pada 1983 dan 1993.

Demi Allah, saya bersumpah bahwa :

  • Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
  • Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;
  • Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan bermoral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;
  • Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;
  • Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter;
  • Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;
  • Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan;
  • Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian, atau kedudukan sosial;
  • Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;
  • Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;

Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.

Bibliography

  • Alexander, L, 1949. ‘Medical Science under Dictatorship’, New England Journal of Medicine, Vol. 39:39-44.
  • Bodemer, CW, 1996. Grolier Electronic Encyclopaedia.
  • Colarusso, C, 1995. ‘The Presocratic Influence upon Hippocratic Medicine’. Written for the Greek Science course at Tufts University.
  • Edelstein, L, 1943. From The Hippocratic Oath: Text, Translation, and Interpretation, by Ludwig Edelstein. Johns Hopkins Press, Baltimore.
  • Lloyd, GER, 1983. Hippocratic Writings. Penguin Books, England.
  • Mead, M. cited in Levine, M. Psychiatry and Ethics, pp.324-325, G. Braziller, 1972.
  • Seidelman, WE, 1996. ‘Nuremberg lamentation: for the forgotten victims of medical science’. British Medical Journal Vol. 313: 1463-1467.
  • Weindling, P, 1996. ‘Human guinea pigs and the ethics of experimentation: the BMJ’s correspondent at the Nuremberg medical trial’. British Medical Journal Vol. 313: 1467-1470.
  • BMJ 1996;313:1463-1467
  • http://ama.com.au/node/2474
  • http://www.pbs.org/wgbh/nova/body/hippocratic-oath-today.html

 

Link:

Sejarah Sumpah Dokter (1)

Sejarah Sumpah Dokter (2)

Sejarah Sumpah Dokter (3)