Hipokrit.
Judul singkat. Awalnya saya terinspirasi kata ini saat menulis Sejarah Sumpah Dokter edisi keempat. Di situ saya menyebutkan hipokritik. Dan setelah browsing kecil-kecilan, inilah protes kecil saya terhadap dunia.

Menurut Oxford Learner’s Dictionary:

Hypocrite; person who make himself or herself appear better than they really are.

 

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:

Hipokrit atau munafik; berpura-pura percaya atau setia tetapi hatinya tidak. Suka mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya.

Ingat artikel saya yang berjudul Hipermodern? Bagi yang belum membaca dan ingin wisata membaca, sila klik di sini.

Dalam Hipermodern itu saya menegaskan bahwa kita sekarang dalam fase self-destructing. Dan seperti khittah jaman, positif dan negatif berjalan beriringan, saling mendorong, berperang dalam kesunyian. Setiapnya merupakan reaksi dari yang lainnya. Kini dalam proses self-destructing (negatif) yang kian dominan, maka ketokohan positif yang mewakili penghormatan, pembatasan, penjagaan akan semakin muncul ke permukaan.

Indonesia kini memiliki sang Pemimpin yang tak mampu lagi menguasai kekuasaan, beliau dikuasai orang-orang sekitarnya. Tokoh-tokoh yang dulu putih bersih dalam setiap media kini mulai terungkap satu demi satu. Inilah masa dimana ketegasan Pemimpin harus muncul. Sayang, beliau terseret pusaran alibi dan kilah silat lidah ‘orang-orang’ yang dulu digandengnya.

Inilah hipokrit yang saya maksud. Hal yang benar bertumpuk dengan yang salah. Pencitraan dibantu media yang gegap gempita akan dengan sangat mudah dilakukan. Segala yang salah dengan mudah menjadi tolok ukur kebenaran. Salah sedikit tidak apa. Lakukan terus dan akan menjadi biasa. Dan salah yang jadi kebiasaan akan terasa benar. Semakin enggan dilepaskan. Semakin kencang digenggam. Dan boom!! Jadilah kebenaran. Hipokrit.

Kita ingat baru-baru ini ada fenomena polisi ganteng. Bermula tweet artis sherina. Meledaklah polteng alias polisi ganteng ini. Dan selanjutnya mudah ditebak. Pencitraan akan mudah. Bang polteng tinggal datang ke sekolahnya. Diliput. Testimoni para guru yang pasti baik. Pencitraan siap dihidangkan. Benarkah itu polteng? Kepribadian yang sebenarnya? Mungkin. Hipokrit.

Suatu kota di mana sang Walikota sudah dua kali menjabat. Sudah tidak bisa menjabat lagi. Dua tahun menjelang pemilihan walikota baru, entah karena apa, tetiba banyak poster sang Istri Walikota di sudut-sudut jalan. Semua dengan tagline yang baik. Banyak program diatasnamakan sang Istri. Pengobatan gratis. Senam sehat. Dan banyak lagi program-program kota pro-rakyat yang diusung dengan nama sang Istri. Belakangan mikrolet pun tidak lepas dari gambar sang Istri nan anggun. Pencitraan? Jelas. Namun benarkah program-program itu lahir dari pemikiran sang Istri? Tidak pernah terpikirkan untuk menanyakan. Apakah nanti bila jadi mencalonkan diri dan benar-benar jadi walikota masih akan tetap ada program pro-rakyat? Hipokrit.

Atau seorang wakil rakyat yang ketika suaminya meninggal tampak sangat shock, sedih mendalam sampai menangis berhari-hari. Kini ada yang mengungkap bahwa sang Wakil Rakyat sudah berulang-ulang meminta cerai sang suami. Entah mana yang benar. Mungkin kedua-duanya benar. Hipokrit.

Ada pula Walikota yang semasa merintis karir politiknya, berdasarkan saksi terpercaya, tidak pernah kuliah tetiba memiliki gelar S2. Benarkah? Mungkin. Hipokrit.

Mau tidak mau, suka tidak suka. Pencitraan ini kebutuhan. Izinkan saya mengutip paragaf pembuka kata pengantar Yasraf Amir Piliang dalam bukunya yang berjudul Hipersemioitka, tafsir cultural studies atas matinya makna:

“Ada sebuah ruang dalam kebudayaan,yang didalamnya kedustaan, yang dikemas dengan sebuah kemasan yang menarik, dapat berubah menjadi kebenaran; sebuah kepalsuan, yang di tampilkan lewat teknik penampakan dan pencitraan yang sempurna, dapat tampak sebagai keaslian; …inilah sebuah dunia, yang didalamnya kebenaran tumpang tindih dengan kedustaan, keaslian silang menyilang dengan kepalsuan, realitas bercampur aduk dengan ilusi, kejahatan melebur dalam kemuliaan, sehingga diantara keduanya seakan-akan tidak ada lagi ruang pembatas”

Itulah gambaran masyarakat kita saat ini. Deskripsi peradaban hipermodern. Semangat apa adanya tidak lagi populer. Publikasi ditujukan menciptakan persona atau topeng. Dunia dipersembahkan manis tapi penuh kepalsuan. Dan kita penikmat media kini tidak lagi mengenali kebenaran hakiki. Kita dicekoki informasi, secara paksa, sampai titik jenuh, tidak tahu lagi apa itu munafik dan bohong.

Namun seperti yang saya sebutkan di atas. Positif dan negatif itu adalah dua mata pisau, berjalan beriringan. pun bersifat aksi-reaksi. Indonesia pun tak luput dari kalam Tuhan. Energi negatif inilah yang menjadi penyulut ‘petasan’. Tidak. ‘Ledakan’. Akan selalu ada tokoh dalam setiap masa yang menjadi pelopor energi positif. Untuk saat ini yang paling nge-top adalah Bung Dahlan Iskan. Sosok yang berangkat dari seorang jurnalis ini mengguncang Indonesia. Diawali kiprahnya di PLN dan kini menjadi Menteri BUMN. Beliau rutin menulis progress report di salah satu harian nasional yang notabene dibesarkannya.

Tokoh lain tidak lain adalah putra sang Menteri BUMN. Independen dan tidak bersembunyi di balik bayang-bayang sang Ayah, Azrul Ananda menjadi tokoh sentral dalam bangkitnya dunia basket Indonesia. Merintis dari kejuaraan lokal dibantu kekuatan media hingga mampu menyita perhatian liga basket paling prestisius di dunia, NBA.

Ada pula Hermawan Kertajaya. Sosok konsisten membesarkan keilmuan pemasaran. Tidak lagi level nasional. Pengakuan internasional pun telah didapatnya. Buku yang ditulisnya menjadi buku wajib mahasiswa marketing dunia.

Masih kurang? Ada Rhenald Kasali. Sosok tenar sebagai penulis buku bisnis sekaligus trainer. Ide yang diusungnya tentang perubahan bertujuan menggiring kaum muda Indonesia untuk berubah. Ia menggelontor generasi muda Indonesia dengan semangat perubahan (change DNA).

Lantas apa kata kunci dari banyak tokoh tadi? Integritas. Tidak ada polah yang dikamuflase menjadi ‘kebaikan’ namun mematikan. Pencitraan itu pasti. Tetapi hidup dan bekerja dengan semangat apa adanya, diimbangi integritas akan menimbulkan efek yang luar biasa.

Semoga hipokritik tidak lebih merajalela. Atau andaikan tetap merajalela, maka semoga semakin banyak kaum muda yang lahir dengan semangat idealisme terjaga integritas. Menjaga identitas tanpa persona hipokrit.

Semoga.

Malang dalam Resah.
5 Maret 2012.

Posted from WordPress for Android