Baiklah. Kita lanjutkan sejarah Sumpah Dokter. Edisi lalu saya menceritakan tentang akar mula Hippocratic Oath ini. Pada edisi kali ini, cerita akan mulai mengalir dari masa ke masa, Sumpah para penyembuh ini melintasi waktu. Idealitas Medik Menuju Panduan Etikomedik Sumpah Hippocrates ternyata tidak mendapat sambutan yang baik. Ia dianggap sebagai sebuah pemikiran ideal dalam dunia medik dan hanya mewakili segelintir penyembuh dari Yunani. Tidak akan bisa merepresentasikan panduan seluruh dunia.

Al-Kindi atau Al-Kindus adalah ilmuwan jenius yang hidup di era kejayaan Islam Baghdad

Abu al-Qasim Khalaf ibn al-Abbas Al-Zahrawi (936 M-1013 M) Dokter Bedah Fenomenal Di Eropa

Syeikhur Rais, Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina, yang dikenal dengan sebutan Ibnu Sina atau Aviciena

Namun, di akhir masa Yunani kuno, kejayaan Romawi runtuh dan berujung pada kejatuhan pengobatan ilmiah yang dipelopori dunia barat. Saat itu pengobatan a la Hippocrates atau disebut Hippocratic Medicine sama sekali dilupakan. Namun ternyata di tengah menurunnya dunia medis, terdapat catatan ilmuwan Arab yang tetap melestarikan Hippocratic Medicine. Diantaranya adalah Al Kindi, Al Zahrawi dan Ibnu Sina. Karya para cendekiawan muslim tersebut melestarikan dan membangkitkan pengobatan a la Hippocrates. Karya Para cendekiawan muslim inilah yang kemudian ditranslasi dan menjadi Tonggak kebangkitan dunia medis barat dan akhirnya dunia. Kontribusi ilmuwan muslim ini seringkali diabaikan dalam linimasa sejarah medis dunia. Perkembangan medis modern dimulai di akhir abad ke-17.

Thomas Percival (1740-1804)

Standards of professional behaviour ditetapkan di dunia barat. Dan kode etikomedik pertama yang diterapkan organisasi profesional ditulis oleh dokter dari Inggris Thomas Percival (1740-1804) pada 1794, yang juga diadopsi oleh American Medical Association (AMA) pada 1846. Kode etik inilah yang disebut berisi standar emas bagi para pemegang profesi dokter, mengindikasikan otoritas moral dan kemandirian dokter dalam pelayanan masyarakat dan tanggung jawabnya terhadap pasien, selayaknya kebanggaan pribadi dokter atas profesinya. Hippocrates telah mencetuskan ide ini jauh masa sebelumnya. Dan pemikiran beliau telah menjadi ruh dalam praktik Penyembuh pada masanya. Perkembangan selanjutnya, diawali insiden tertangkapnya 23 dokter dari kamp konsentrasi Nazi Jerman, setelah perang dunia II. 23 dokter ini melanggar kode etikomedik dengan melakukan eksperimen medis yang mengerikan terhadap tawanan perang. Insiden inilah yang akhirnya mencetuskan ide untuk menyusun Nuremberg Code (1947), yang menjadi titik awal dalam diskusi panjang mengenai perlakuan etis pada manusia, dan bingkai aturan etika pelaksanaan riset medis berkaitan dengan hak azasi manusia. Dan akhirnya berujung pada lahirnya Declaration of Geneva Oath oleh World Medical Association pada 1948. Seperti apa bunyi dari Deklarasi Jenewa ini? Secara Garis besar masih sama dengan Sumpah Hippocrates. Namun insiden 23 dokter itu sangat berpengaruh terhadap modifikasi Sumpah Hippocrates. Demikian perubahan tersebut:

At the time of being admitted as a Member of the medical profession:

  • I solemnly pledge to consecrate my life to the service of humanity
  • I will give to my teachers the respect and gratitude which is their due;
  • I will practice my profession with conscience and dignity;
  • The health and life of my patient will be my first consideration;
  • I will respect the secrets which are confided in me;
  • I will maintain by all means in my power, the honor and the noble traditions of the medical profession;
  • My colleagues will be my brothers
  • I will not permit considerations of religion, nationality, race, party politics or social standing to intervene between my duty and my patient;
  • I will maintain the utmost respect for human life, from the time of its conception, even under threat, I will not use my medical knowledge contrary to the laws of humanity;
  • I make these promises solemnly, freely and upon my honor.

Kedua poin yang saya cetak tebal dan bertinta merah itulah yang menjadi titik besar perubahan Sumpah Hippocrates pada Deklarasi Jenewa 1948. Meski pada kongres-kongres berikutnya akan juga terjadi perubahan, namun tidak terlalu signifikan. Terkait dengan hal ini, akan saya bahas pada edisi berikutnya. Dan, pertanyaannya adalah: Mengapa barisan kalimat yang berasal dari dokumen lama ini, bahkan dari jaman sebelum masehi, ternyata mampu mempengaruhi praktik kedokteran dan berperan besar dalam perkembangan keilmuan medis di seluruh dunia? Tentang ini, seorang ahli antropologi, Margaret Mead menulis:

For the first time in our tradition there was a complete separation between killing and curing. Throughout the primitive world, the doctor and the sorcerer tended to be the same person. He with the power to kill had power to cure, including specially the undoing of his own killing activities. He who had the power to cure would necessarily also be able to kill…With the Greeks the distinction was made clear. One profession, the followers of Asclepius, were to be dedicated completely to life under all circumstances, regardless of rank, age or intellect – the life of a slave, the life of the Emperor, the life of a foreign man, the life of a defective child…

Dan lebih jauh Mead berkata:

…a priceless possession of society which we cannot afford to tarnish, but society always is attempting to make the physician into a killer — to kill the defective child at birth, to leave the sleeping pills beside the bed of the cancer patient…It is the duty of society to protect the physician from such requests.

G. E. R. Lloyd berkata bahwa:

‘In the Western world, the name Hippocrates has always stood for an ideal.’

Dan inilah yang menjadi poin penting dalam Sumpah Hippocrates sendiri. Sebuah kode etik yang ideal dan merupakan standar emas dalam merepresentasikan perbedaan yang jelas dan memisahkan profesi penyembuh dan pembunuh. Seorang penyembuh memiliki sebuah komitmen untuk melindungi kehidupan, dan tidak akan pernah mengambilnya dengan sengaja. Di mana dunia kini berada pada sebuah kondisi–ketika ada sesuatu yang buruk terjadi, masyarakat selalu menyalahkan dokter–maka sumpah ini, bila kita pegang dengan teguh, akan melindungi tidak hanya dokter dan pasiennya, melainkan juga keluarga mereka dan komunitas mereka secara keseluruhan. Kini, sebagian besar dokter baru yang telah lulus sekolah kedokteran melaksanakan prosesi sumpah sebelum menjalani praktik kedokteran. Bentuk sumpah memang berbeda-beda, dan biasanya merupakan bentuk modern dari Sumpah Hippocrates sendiri yaitu Deklarasi Jenewa dan modifikasinya. Dan ternyata saat ini dunia tidak hanya memiliki Sumpah Hippocrates sebagai panduan dalam menetapkan keberadaan sumpah profesi dokter. Dunia memiliki empat dokumen yang menjadi dasar perkembangan sumpah para penyembuh ini. Saya akan bahas di edisi berikutnya.

Link:

Sejarah Sumpah Dokter (1)

Sejarah Sumpah Dokter (3)

Sejarah Sumpah Dokter (4)