Bibirku kelu.

Tidak. Mataku panas.

Tidak. Bulu kudukku meremang.

Tidak. Tubuh lemas.

Tidak. Tidak. Semua organ tubuhku berhenti berfungsi.

Aku menangis.

* – *

2003.
Sosokmu sejuk. Meretak semua angin. Aku yang bukan siapa-siapa di sana. Dan kau mengulurkan tanganmu. Merangkulku. Siapa nyana, engkau sahabatku yang pertama di sekolah itu.

Cowok dekil hitam kurus (saat itu). Ya aku lebih kurus darimu Achan, saat itu. Wajahku penuh jerawat. Ah, siapa nyana, engkau mau bersahabat denganku.

Tahukah?
Engkau lah temanku pertama yang kuajak ke persinggahanku. Rumah tanteku. Ingat ndak, saat aku memboncengmu di sepeda motorku, dan aku ngebut. “Nasi goreng masih enak.” Itu katamu. Aku terbahak. Kencang. Dan perlahan memelankan laju motorku.

Engkau membalasnya. Mengajak bertemu dengan ibumu. Aku tahu rumahmu. Bau rumahmu pun masih dapat kusesap.

* – *

La tahzan, Achan.
Bersabarlah.

Kami keluargamu. 2005. Dan semua sahabatmu.
Tentu tidak akan menggantikan ibu.
Tetapi raga kami… tidak, hati kami turut sakit.

La tahzan, Achan.
Aku tidak bisa menemani kesedihanmu.
Tapi Allah tahu, doaku tidak berhenti.

La tahzan, Achan.
Sahabatku. Keluargaku.

Udanawu.
23 Feb 2012. -00.23
Mengenang Ibunda Farchan.

Posted from WordPress for Android