Hehe… judulnya bagus, bukan? Cukup menghasut para pembaca untuk membaca posting ini.

Ya. Saya kehabisan ide. Dalam arti memang sedang tidak sempat bertapa untuk menulis. Artikel saya tentang 10 Alasan Anda Tidak Ingin Menjadi Dokter, masih akan berlanjut. Maaf belum sempat mengunggah. Masih akan saya rapikan sedikit. Maklum, sibuk. (Atau sok sibuk. Hehe…)

Nah, di tengah membuka-buka artikel di Pulse App, saya membaca artikel menarik. Judulnya sama dengan judul posting yg saya tulis ini. Dalam bahasa Inggris tentunya.

Untuk pembaca yang ingin membaca artikel asli dapat klik disini.

Artikel ini menarik karena membahas tentang otak manusia. Terkait dengan usia. Sering kita menjadikan usia sebagai alibi utama dalam menguncupkan semangat belajar.

“Ah saya sudah tua. Sudah tidak bisa belajar terlalu keras.”

Kalimat yang sering diungkapkan para manusia setengah baya yang kita kenal. Itulah mengapa beliau-beliau ini tidak bisa dan tidak mau mengoperasikan komputer. Ponsel pun tidak ingin yang rumit-rumit. Biasanya mereka menggunakan smartphone hanya untuk prestis. Tetapi masalah penggunaan, mentok hanya telepon dan sms.

Dalam artikel ini diungkapkan tentang perjuangan menjadi sopir taksi di London. Kenapa?

Berbeda dengan taksi di New York (kenapa dibandingkan dengan New York mungkin disebabkan kedua kota merupakan jujugan turis internasional), sopir taksi di London selain harus lulus ujian, mereka juga harus menguasai seluk beluk London hingga detail terkecil.

The Knowledge

Poin plusnya: Bayangkan!! Sopir taksi harus tes. Tes ini bahkan punya nama. The Knowledge. Inti dari tes ini: anda sebagai sopir taksi harus mampu menentukan rute tercepat teraman ternyaman menuju lokasi yang diinginkan penumpang.

Sederhana? Mudah?

Tidak. Karena sopir taksi dilarang menggunakan alat bantu navigasi apapun: peta, GPS, atau petugas kontrol di kantor pusat.

Mulai, wow?

Tunggu. Baca lebih detil. Tes ini ternyata diciptakan sejak 1865. Dan hampir tidak berubah sejak diciptakan. Tes ini diklaim menciptakan sopir taksi hitam (black cab yang legendaris) yang handal, ahli, dan mengenal intim kota London.

image

The Famous Black Cab

Dalam proses persiapan saja, para calon sopir ini menghabiskan waktu 34 bulan. Hampir tiga tahun. Para calon sopir ini harus menghapal dan menelusuri semua jalan, semua gang hingga detil terkecil tentang kota London menggunakan skuter. Para calon sopir ini disebut knowledge boys/girls.

Knowledge Boy

Sebanyak 320 rute utama ini mencakup semua hal yang berada di kota London. Nama jalan, taman, kafe, rumah sakit, hotel, bioskop, kantor pemerintah, kantor duta besar, semua fasilitas umum seperti terminal, stasiun, kantor polisi, sampai bangunan ibadah. Begitu juga dengan bangunan bernilai historis dan menjadi pusat wisata.

Semuanya wajib dikuasai. Para calon sopir harus mampu menyebutkan segala hal yang ada di sisi jalan untuk satu rute. Dan terpenting, mampu merekonstruksi rute dengan mempertimbangkan kepadatan lalu lintas, jam-jam masuk dan pulang kantor, even-even, semua hal yang mempengaruhi kenyamanan perjalanan.

Wow, bukan?!

it is WOW!!

Dan seakan masih belum cukup. Para calon sopir ini setelah menyelesaikan persiapan 34 bulan, akan menjalani ujian akhir. Menjalani masa percobaan dengan 12 kali uji jalan.
Sudah cukup? Tidak!

Para sopir ini harus memiliki manner yang baik. Bagaimana berinteraksi dengan penumpang dan juga tidak memiliki catatan hukum. Pernah suatu waktu terjadi mantan pembunuh (istrinya) yang telah menjalani hukuman dan menjalani the knowledge, maka persatuan sopir taksi demo (wah, ternyata sopir taksi di London juga demo. Hehe…) Begitulah hebatnya proses menjadi sopir taksi.

Sedikit terselip pertanyaan. Bila London sudah memikirkan kenyamanan turis dan mendesain tes ini sejak tahun 1900-an, kapan Indonesia ya.

Penelitian

Kali ini kita akan bahas tentang penelitian yang dilakukan terkait dengan sopir taksi ini. Lho? Mau meneliti apanya ya…

Ternyata, adanya fakta tentang pengetahuan yang dikuasai sopir taksi terkait 25000 nama jalan, nama lokasi, situs, dan titik wisata turis ini begitu hebat sampai-sampai ada sekelompok peneliti neuroscientist dari University College London yang ingin tahu apa yang mungkin terjadi dengan otak para sopir yang berhasil lolos tes.

Mau tahu hasilnya?

Hasilnya. Ada peningkatan signifikan dari grey matter dari posterior hippocampus.

Hehe… makanan apa itu. Ck ck.

Baiklah. Secara mudahnya, dalam otak kita ada sebuah bagian yang dinamakan hippocampus. Hippocampus ini berperan dalam banyak hal namun ada tiga yang terkenal: fungsi inhibisi, fungsi memori, dan fungsi spasial.

Hippocampus

Fungsi inhibisi berdasarkan percobaan bahwa tikus yang mengalami kerusakan hippocampus cenderung hiperaktif. Sedang fungsi memori sudah cukup jelas. Hippocampus inilah yang bertanggung jawab terhadap kemampuan memori. Baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Dan tentu saja yang akan kita bahas. Fungsi Spasial.

Fungsi spasial ini ditemukan sejak tahun 1970. Pada mereka yang menguasai navigasi, memunculkan proses kreatif dalam menciptakan jalur baru, merumuskan rute dan proses-proses navigasi lainnya ternyata memiliki hippocampus yang lebih besar.

Dan ini sangat berkorelasi dengan pengalaman. Semakin lama menjalani profesi sopir taksi semakin besar hippocampus. Dari penelitian ini, mereka yang lolos dalam the knowledge unggul dalam recalling complex visual information bila dibandingkan grup kontrol. Artinya dalam proses persiapan ujian sopir selama 34 bulan tersebut memiliki andil dalam pertumbuhan hippocampus.

“That suggests,” says professor Eleanor Maguire, “that the human brain remains ‘plastic,’ even in adult life, allowing it to adapt when we learn new tasks.”

Pelajarannya?
Otak kita tidak pernah berhenti berkembang. Percayalah.
Maka jangan mencari excuses atas kemalasan kita belajar. Bahkan otak kita tidak malas dan selalu (bisa) berubah (menuruti tuannya, tentu saja).

The new study appears today in the current issue of the journal Current Biology.

Posted from WordPress for Android