Artikel ini menarik!!

Hehe… itu bagian dari marketing saya terhadap blog saya. Karena ini tulisan saya, maka setidaknya saya sendiri harus yakin terlebih dahulu kalau tulisan saya menarik. Hehehe… narsis ceritanya.

Saya membaca judul ini di salah satu blog medstudent di Amerika Serikat. Penulisnya yang dari USA. Bukan saya membaca blog ini di USA (lhah?!). Iseng-iseng saya baca. Di akhir posting tersebut saya merasa ingin mengunggah posting itu dalam bahasa saya. Kenapa? Karena sesungguhnya memang banyak alasan kenapa kita tidak ingin menjadi dokter (meski saya heran peminat FK kok ya ndak berkurang ya… ^^).

Di setiap poin akan saya jelaskan ketakutan itu beralasan atau tidak. Dan di akhir tiap poin saya juga mencoba memberikan resolusi, atas pengalaman saya. Semua penjelasan ini dipaparkan secara singkat. Untuk lebih rinci, insya Allah akan saya susun menjadi sebuah buku (ada yang mau beli? Insya Allah ada). Doakan ya. Untuk sekarang, Selamat membaca…

1) Kita akan kehilangan teman yang kita miliki sebelum menjadi mahasiswa kedokteran.

Saya rasa ini tidak sebegitunya ya. Kenapa? Karena saya rasa teman kita cukup mengerti kesibukan kita di kampus. Memang beban aktifitas pasti akan bertambah karena kita sudah kuliah. Tapi itu tidak hanya terjadi di fakultas kedokteran. Teman kita di fakultas teknik, MIPA, saya rasa juga punya kesibukannya sendiri-sendiri.

Teman yang tidak terima atas perubahan kesibukan (“dulu kamu nggak pernah nolak kita ajakin ngopi, sekarang aja sombong setiap kita ajak jalan pasti ditolak”). Well, saya rasa perlu diberi pengertian. Teman kita yang baik akan mengerti tentang komitmen pendidikan dan masa depan kita. Mereka akan mengerti kita sibuk di akhir minggu untuk persiapan ujian di hari senin.

Resolusi: luangkan waktu untuk teman-teman kita. Karena waktu kita terbatas, maka mereka akan sangat senang dan antusias saat kita punya waktu luang dengan mereka.

2) Kita akan kesulitan mempertahankan hubungan dengan pasangan kita.

Sudah banyak pengalaman tentang retaknya hubungan dengan pasangan saat menjalani pendidikan kedokteran. Baik pendidikan profesi dokter maupun pendidikan profesi dokter spesialis.

Benarkah? Saya rasa tidak. Lebih banyak mereka yang mampu bertahan menjalani masa-masa berat selama pendidikan kedokteran. Kenapa masa berat?

Transisi dari sekolah menengah menuju kemandirian kuliah merupakan sebuah tantangan tersendiri. Ketika sekolah menengah maka hidup kita berkutat antara rumah-sekolah.

Kuliah adalah hal yang berbeda. Banyak aktifitas kampus yang menuntut pengertian orang-orang sekitar kita. Apalagi ini kuliah kedokteran. Terutama saat pendidikan klinik. Hidup kita diwarnai jaga, stase, tugas ilmiah, ujian.

Resolusi: beri pengertian dan habiskan lebih banyak waktu senggang kita bersama mereka. Mereka pasti akan mengerti. Jangan jadikan kuliah kedokteran sebagai alasan retaknya hubungan.

3) Kita akan menghabiskan umur kita dengan menjadi tukang tidur, dan pesuruh.

Haha… ini memang benar. Tidur menjadi sesuatu yang berharga selama kita pendidikan dokter. Terutama pendidikan klinik dan dokter spesialis (bidang tertentu melarang PPDS tidur saat jaga meski tidak ada pasien). Kapanpun dimanapun posisi apapun pasti bisa digunakan tidur. Contoh ekstrim: Ada yang mendorong mesin EKG sambil tidur!! (Nyasar adalah konsekuensi wajib. Hehe…)

Pesuruh? Jelas! Di Rumah Sakit berlaku hukum alam. Yang bawah siap diperintah atas. Atasan disini bisa PPDS, bisa supervisor (dokter spesialis).

Buruk? Tidak. Karena itulah cara kita mendapat ilmu. Ketika kita masuk fakultas kedokteran, kita telah meneken kontrak bahwa belajar dengan mengerjakan adalah sesuatu yang shahih. learning by doing. Aktivitas di Rumah Sakit adalah bagian dari pembelajaran kita.

Resolusi: berhenti mengeluh tentang kurangnya waktu tidur kita, atau lelahnya kita ketika mendapat perintah dari PPDS atau supervisor. Manajemen waktu yang baik disertai semangat belajar akan mengkompensasi semuanya dengan pantas.

4) Kita akan mendapat bayaran yang sedikit.

Siapa bilang gaji dokter itu besar? Gaji dokter itu kecil bila dibandingkan dengan resikonya.

“Lho itu dokter banyak yang kaya.”

Well, harus dilihat dulu dari mana kaya nya. Dokter pengusaha? Dokter senior? Kalau dokter jaman dahulu memang mayoritas berada pada kesejahteraan yang cukup. Karena dulu dokter masih jarang. Sekarang? Ada sekitar 60 lebih fakultas kedokteran. Tiap tahun meluluskan minimal 100 dokter baru. Maka dari mana falsafah dokter itu makmur?

Tidak. Dokter itu adalah profesi. Profesi jasa. Jasa sosial. Uang hanyalah efek samping. Kalau anda menjadi dokter karena ingin kaya, sebaiknya berhenti jadi dokter. Jadi pengusaha saja.

Resolusi: hidup dengan tujuan yang benar. Sejahtera dengan cara yang baik. Bukan mencekik pasien dengan jasa profesi yang gila-gilaan. Lebih jauh, pilihlah spesialisasi yang tepat. Bukan karena spesialisasi itu adalah ‘lahan basah’. Anda akan sejahtera karena menemukan gairah disana.

5) Kita akan membuat kesalahan dan akan dihukum berat.

Kesalahan adalah sesuatu yang pasti. Maka untuk itulah kita belajar di bawah supervisi saat pendidikan klinik (koass). Bukan untuk berleha-leha karena kesalahan kita dilindungi, tetapi untuk melatih tanggung jawab.

Dalam dunia profesi, belajar bertanggung jawab atas kesalahan kita. Menghindari konsekuensi kesalahan hanya menegaskan bahwa kita tidak pantas menjadi dokter dan merawat pasien.

Resolusi: menjadi dokter yang baik dan selalu belajar. Prevensi terhadap kesalahan melalui latihan dan membiasakan diri bertindak sesuai kode etik profesi. Memahami apa yang dikerjakan dan perbaikan sistem untuk mencegah kesalahan di masa depan.

Dan saya rasa cukup lima poin dulu. Daripada yang membaca menguap dan terkantuk-kantuk. Hehehe…

Edisi berikutnya lima poin lagi. Masih tentang kenapa kita tidak ingin menjadi dokter. Diantaranya: dokter yang tidak lagi memiliki keistimewaan posisi sosial, atau dokter yang mulai sering diabaikan pasien.

Tunggu edisi berikutnya ya…

Link:

10 Alasan Anda Tidak Ingin Menjadi Dokter (2)