Sejuta maaf pembaca budiman. Saya baru sempat meneruskan edisi berikut. Insya Allah bukan mencari kambing hitam, tetapi aktivitas saya sedang padat minggu lalu.

Nah ini adalah lanjutan edisi sebelumnya.

Langsung kita mulai saja ya.

6) Menjadi dokter kini tidak lagi memiliki posisi sosial yang bagus.

Hemm. Benar dan salah. Indonesia memang unik. Dokter di negara liberal berbeda dengan dokter di negara sosialis. Tetapi Indonesia pun memiliki medikologi sosial yang berbeda. Dokter adalah Guardian Angel. Itulah yang memang terjadi di Indonesia. Masa lalu. Sebagian masa sekarang.

Masa lalu, ya. Dokter memiliki privilisi sosial yang tinggi. Dalam tatanan sosial masyarakat, dokter nyaris setara dewa. Dipuja. Dibenarkan.

Kini? Masyarakat kita semakin pragmatis. Perkembangan informasi membuat semua orang ‘seolah’ tahu ilmu kedokteran. Bahkan kadang terlalu berlebihan. Maka dokter tidak lagi menjadi ‘Dewa’.

Resolusi: hiduplah tanpa mengejar posisi apapun. Bekerja dengan hati. Maka pasien akan memiliki keterikatan emosional dengan dokternya. Di beberapa daerah, banyak yang membuktikan bahwa dokter tetap istimewa. Bagi mereka yang mampu menyentuh hati masyarakat. Saya membuktikan.

7) Kita tidak akan memiliki waktu yang cukup dengan pasien.

Ah ya. Memang saat ini banyak sekali dokter yang pasiennya banyak, dan harus antri lama. Ini mengurangi durasi dokter berinteraksi dengan pasiennya.

Tetapi banyak kasus memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Penanganan pasien batuk pilek dengan gagal jantung, jelas memerlukan waktu yang berbeda. Maka jangan jadikan jumlah pasien sebagai alasan untuk bersegera dengan pasien.

Resolusi: dokter adalah manajer. Atur waktu. Bila memang pasien kita ‘selalu’ banyak, batasi jumlah pasien. Itu lebih bijak agar kualitas terapi tetap terjaga. Bila tidak bisa membatasi jumlah pasien, kita harus tahu kapan harus efisien kapan harus meminta waktu agak lama dengan pasien.

Jujurlah dengan pasien bila kita memerlukan waktu lebih dengannya atau bila kita harus efisien waktu. Pasti pasien akan menghargai kejujuran kita dan usaha kita dalam mengusahakan penanganan maksimal bagi pasien kita.

8) Kita akan jenuh dan mulai membenci pasien kita.

Jenuh? Iya.
Membenci? Benarkah?

Dulu, saya mungkin akan menertawakan dan meragukan kalimat ini. Tetapi setelah menjalani praktik dokter umum selama lebih dari enam bulan, rutinitas ini menjadi semakin menekan. Kita akan jenuh dan kian lama kian frustasi dengan masalah pribadi, rutinitas, terutama menghadapi pasien yang tidak pernah sama karakter dan keinginannya.

Resolusi: bila kita mengalami hal ini dan mulai membenci pasien kita, ambil napas dalam dan tersenyumlah. Mungkin awalnya terkesan dipaksakan tetapi biarkan saraf wajah kita mengambil alih peran sejenak. Ingat-ingatlah tujuan awal kita menjadi dokter. Dan betapa pasien yang datang membutuhkan pertolongan kita.

9) Akan ada orang yang membenci kita, bahkan mereka yang tidak kita kenal.

Benarkah?
Mungkin. Segalanya kembali kepada kita sebagai dokter. Tidak akan ada asap tanpa api. Maka tetaplah bersikap baik, profesional, empati. Bila masih ada yang tidak suka? Tidak usah dipedulikan. Asal tidak mengganggu hidup kita.

Resolusi: selalu mengingatkan diri untuk tetap lurus. Inilah ibadah kita. Yang lain hanya efek samping belaka. Berhenti merisaukan apa yang orang lain pikirkan dan fokus tugas kita sebagai dokter.

10) Pasien tidak mau mendengarkan saran kita.

Selalu ada resiko seperti itu. Dan bukankah tugas kita selain memberikan terapi obat juga harus dapat memberi terapi psikologis berupa Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) yang baik.

Resolusi: bangun sebuah pilar kesabaran untuk menghadapi setiap pasien. Percantik metode komunikasi, perkaya diksi lokal dalam informasi, sertakan kepasrahan kita dalam edukasi. Biarkan segala keputusan menjadi milik pasien, bukan aturan kita. Perdalam anamnesis dan bangun suasana terapetik yang memungkinkan kita menyentuh pasien kita dan keluarganya, bukan lagi cangkang ketakutan akan biaya, obat, dan penyakitnya.

Link:

10 Alasan Anda Tidak Ingin Menjadi Dokter

Posted from WordPress for Android