Edisi kemarin, kita membahas tentang kuliah kedokteran yang harus belajar banyak. Kali ini saya akan membahas tentang poin kedua. Tentang kesibukan mahasiswa kedokteran. Sibuk belajar, katanyaaa.

Poin 2: Kuliah Kedokteran, kamu tidak akan punya waktu untuk dirimu.

Setiap mahasiswa baru Fakultas Kedokteran, ketakutan utamanya adalah kehilangan waktu. Ada yang hobi hiking, dia takut tidak bisa melakukan hobinya lagi. Ada yang ketakutan setengah mati tidak bisa melanjutkan hobi les. (Ya. Hobi les. Andrew, 24 th, telah menjalani puluhan jenis les/kursus sejak balita).

Pendapat saya, tidak.

Semua bergantung pada manajemen waktu dan pilihan pribadi. Karena itu, di FKUB saya masih ingat materi pertama dalam ospek adalah manajemen waktu. Karena FKUB tidak ingin mencetak dokter yang hanya pandai secara akademik, namun harus piawai dalam bersosialisasi, berkarakter kuat, memiliki visi perubahan (setidaknya itu yang saya tangkap dari maksud kakak-kakak kelas saya yang mendesain konsep ospek FKUB).

Dalam masa pendidikan terkait dengan alokasi waktu, saya rasa sangat personal. Saya sendiri suka berorganisasi. Maka sudah menjadi rutinitas berangkat pagi pulang malam. Selepas kuliah agenda rapat dan kegiatan kepanitiaan sudah menanti. Meski aktifitas kemahasiswaan di FKUB dibatasi sebelum maghrib, sering konsolidasi tidak resmi dilakukan di warung kopi, warung lalapan, bahkan di kosan.

Saya merasa kepuasan saya di bidang ini. Ada teman yang merasa passion-nya di bidang penelitian. Dia bertekad setahun dia harus buat minimal dua makalah ilmiah. Dan dia bisa sukses dengan ketekunannya. Ada teman saya yang hobi menyanyi. Dia tekuni karir di paduan suara kampus. Dan dia bisa keliling dunia sebagai tim paduan suara kampus. Ada juga yang berkarir di Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus seperti HMI, KAMMI dsb. Semua baik, asal manajemen waktu juga baik.

Kita punya 24 jam dalam sehari. Manfaatkan. Tetapi satu yang harus diingat. Tugas utama kita tetap belajar. Itulah amanah orang tua kita. Sisa waktunya? Fokus. Maka kita akan berprestasi. Jangan ingin semua dicoba, semua diraih. Justru kita tidak akan memiliki waktu. Stay focus. Dan saya yakin kita semua bisa berprestasi di bidang lain selain kuliah kedokteran. Kita cukup punya waktu untuk itu.

Itu tadi untuk masa-masa pendidikan preklinik. Bagaimana di klinik?
Selama pendidikan klinik adalah masa menyeimbangkan kehidupan pribadi dan profesional. Kita belajar profesi dengan segala embel-embelnya. Maka semua (lagi-lagi), semua kembali pada kita. Saat pendidikan klinik dan profesi pilihannya hanya ada dua. Jika kita memilih memanjakan hobi dan kesenangan kita, maka waktu kita semakin sedikit di dunia klinis, semakin sedikit pasien yang kita tangani. Jika pasien yang kita tangani sedikit, semakin sedikit pengalaman kita. Ingat, pasien adalah guru terbaik. Dan dokter itu learning by experience. Pilihan kedua adalah sebaliknya. Memaksimalkan masa belajar kita di klinik yang terbatas dengan sebaik-baiknya. Ambil pilihan, terima konsekuensinya.

Maka seimbangkan. Jangan tinggalkan salah satu, hanya proporsinya yang diubah sesuai kondisi. Jika kita stase di lab. Mayor (IPD, IKA, OBG, Bedah) maka fokus untuk menangani pasien, belajar, akan lebih besar. Bila lab. Minor mungkin lebih banyak waktu yang bisa kita alokasikan untuk kepentingan lain.

Poin 3: Setiap orang punya pendapat sendiri-sendiri.

Mahasiswa kedokteran itu harus punya karakter. Pendirian teguh. Saat pendidikan maka sewajarnya kita berusaha mencari tahu, bagaimana kita bisa segera tahu, mengerti, dan mengamalkan sistem belajar di Kedokteran.

Tapi itulah uniknya. Coba tanya sepuluh mahasiswa kedokteran bagaimana cara belajar, kita akan mendapat sepuluh respon yang berbeda. Dan kesepuluh cara itu: benar. Karena itu ngefek ke mereka. Tapi kira-kira buat kita, gimana ya?

Maka penting bagi kita untuk memahami diri kita sendiri. Saya, tipe auditorik. Saya lebih mudah belajar dengan sistem mendengar. Maka cara saya belajar, saya meletakkan alat perekam di speaker. Dan masih saya tambah mencatat. Di rumah tinggal saya dengar ulang kuliah dosen sambil mencermati catatan.

Ada teman yang lebih suka berbicara keras. Dia suka membaca dengan suara keras agar masuk memori. Ada pula yang suka menghabiskan waktu di kantin. Bila akan UTS atau UAS pinjam catatan teman terpintar dan fotocopy. Tidak masalah. Toh IP nya selalu bagus. Semua punya cara sendiri-sendiri. Dan kita harus tahu sistem apa yang cocok untuk kita.

Lantas apa hubungannya saat kita pendidikan klinik?
Dalam kaitannya dengan dunia klinik. Kita sering mendengar “aku ingin jadi spesialis anak. Karena… bla bla bla…” begitu juga dengan yang ingin spesialis neurologi. Atau supervisor kita yang menjagokan keahlian spesialisasinya sendiri-sendiri. Itu wajar. Masing-masing spesialis punya kelebihan. Tugas kita memilih spesialis apa yang paling sesuai dengan kita.

Masih terkait dengan dunia klinik. Sering kita menemui pasien yang telah diobati dokter lain. Dan terkadang terapinya membuat kita bertanya-tanya. Tapi sekali lagi, setiap orang berhak punya pendapat. Ada guideline secara umum. Tapi secara khusus tetap milik masing-masing. Tidak ada terapi yang salah (dan jangan menyalahkan-terutama di depan pasien) selama kita punya dasar terapi kita. Doctor is art.

Nah, sudah tambah dua poin. Masih kurang dua poin yang akan saya bahas di posting berikutnya. Setelah tentang materi yang seabreg, tentang waktu untuk diri sendiri, tentang opini/pendapat orang lain, maka besok saya akan membahas tentang: Banyak yang bilang, setelah temannya masuk FK, dia berubah. Benarkah? Tunggu posting berikutnya ya.

Link:

Lima Hal Tentang Sekolah Kedokteran, Benarkah?

Lima Hal Tentang Sekolah Kedokteran, Benarkah? (3)

Posted from WordPress for Android