Waaah. Judulnya oke, kan?

Ada yang belum tahu smartphone (ngacuung!!)?

Hehe… Yup. Beginilah kira-kira kesan saya terhadap artikel yang saya baca. Smartphone sendiri bagi saya bukan benda asing. Bahkan bagi sahabat-sahabat semua. Blackberry yang ada di hampir semua genggaman tangan kita, adalah termasuk kategori smartphone. Yang tidak punya blackberry? Punya android? Jangan khawatir. Lebih dari 90% ponsel android masuk dalam kategori smartphone. Apple? Apalagi!!

Mbah Wikipedia bilang, A smartphone is a high-end mobile phone built on a mobile computing platform, with more advanced computing ability and connectivity than a contemporary feature phone.[1][2][3] The first smartphones were devices that mainly combined the functions of a personal digital assistant (PDA) and a mobile phone or camera phone. Today’s models also serve to combine the functions of portable media players, low-end compact digital cameras, pocket video cameras, and GPS navigation units. Modern smartphones typically also include high-resolution touchscreens, web browsers that can access and properly display standard web pages rather than just mobile-optimized sites, and high-speed data access via Wi-Fi and mobile broadband.

Oke. Jadi smartphone itu semacam ponsel serbaguna. Saya sendiri sebagai dokter juga sering menggunakan smartphone sebagai gadget dalam berpraktek. Smartphone sangat praktis. Data keilmuan saya sangat melimpah. Mulai dari yang sederhana sampai yang sangat spesialistik. Maka bagi saya, tidak praktis setiap praktek membawa buku sumber bahkan yang bentuk pocket. Saya juga termasuk malas membuat catatan. Maka fungsi smartphone menjadi penting dalam rangka upgrade keilmuan. Juga dalam hal rujukan keilmuan.

Selain itu, dalam menerangkan berbagai informasi medis ke pasien, akan lebih mudah menggunakan gambar. Dan itu bisa disediakan oleh smartphone. Dengan kegunaan yang saya rasa sudah se-abreg itu, ternyata masih ada yang ingin mengembangkan fungsi smartphone dalam menunjang profesi kita.

Nah, ternyata para peneliti di Korea kreatif dalam mengembangkan penggunaan smartphone. Terutama dalam bidang medis. Seperti yang dilansir Reuters (Seoul) peneliti di Korea sedang mengembangkan kemampuan Smartphone  agar dapat melakukan tes-tes medis, bahkan dapat mendiagnosis kanker. Wow!!

A team of scientists at Korea Advanced Institute of Science of Technology (KAIST) said in a paper published January 6 in Angewandte Chemie, a German science journal, that touch screen technology can be used to detect biomolecular matter, much as is done in medical tests.

Sebenarnya, teknologi yang digunakan berasal dari layer sentuh. Layer sentuh ini bekerja dengan merasakan gelombang elektronik dari badan kita. Nah poin utamanya adalah bahan-bahan biokimia dari tubuh kita juga ternyata memiliki getar elektronik yang spesifik.

“It began from the idea that touch screens work by recognizing the electronic signs from the touch of the finger, and so the presence of specific proteins and DNA should be recognizable as well,” said Professor Hyun-gyu Park, who led the study together with Dr. Byong-yeon Won.

Menurut KAIST, layer sentuh dapat mengenali keberadaan sekaligus konsentrasi molekul DNA yang disentuhkan. Bahkan para peneliti KAIST ini mengklaim akurasinya mendekati angka 100% seperti peralatan medis konvensional sekarang.

Seperti kita ketahui, ada beberapa jenis protein yang merupakan senyawa spesifik untuk mengetahui adanya proses keganasan, seperti pada hepatoma (kanker liver), dan ini yang sedang dikembangkan oleh KAIST.

The research team added that it is currently developing a type of film with reactive materials that can identify specific biochemicals, hoping this will allow the touch screens to also recognize different biomolecular materials.

Tentu saja ini berita yang masih sangat premature untuk kita komentari. Apakah benar akan demikian hebatnya pengembangan smartphone, tentu masih perlu kita tunggu kelanjutan penelitian ini.

Tapi betapa luar biasanya perkembangan teknologi saat ini. Dan kenapa masih sangat banyak yang ingin menjadi dokter? Kayaknya enakan sekolah di teknik. Hehe.. Just curious.

Udanawu
Catatan: dan ide penelitian ini muncul dari Korea. Saudara Asia kita. Semoga beberapa tahun lagi, berita semacam ini muncul dari Indonesia.