Archive for February, 2012


A 42-year-old woman sees her physician because she has been depressed for the past three months. She also notes that she has gained 20 lb without trying to. She notes that she does not take pleasure in the activities that she once enjoyed and seems fatigued most of the time. These symptoms have caused the patient to withdraw from many of the social functions that she once enjoyed. The physician diagnoses the patient with hypothyroidism and starts her on thyroid supplementation. Six weeks later, the patient’s thyroid hormone levels have normalized, but she still reports feeling depressed. Which of the following is the most appropriate next step in the management of this patient?

a. Recommend that the patient begin psychotherapy

b. Increase the patient’s thyroid supplementation

c. Start the patient on an antidepressant medication

d. Tell the patient that she should wait another six weeks, during which time her mood will improve

e. Take a substance abuse history from the patient

the answer is below…

Continue reading

Advertisements

Dunia ini sudah kuincar sejak dulu.
Menjadi dokter.
Bukan sekedar ucapan ringan anak SD yang bila ditanya ‘kalau sudah besar, mau jadi apa?’

Dokter adalah cita-citaku. Benar.

Tetapi kian hari, dunia menulis menawarkan sesuatu. Sesuatu yang berbeda. Menulis adalah merangkai benak pikir. Ibarat sketsa, dari sekedar titik menjadi garis. Dan menawarkan keliaran intuisi penikmatnya.

Menulis adalah kontemplasi. Ketajaman rasa pada warna sekitar. Meredap tingkah polah manusia. Cukup? Tidak. Menarilah tangan jaras saraf kita. Meliuk membahana dengan tiap adegan bergemerincing suasana. Kata demi kata. Adegan demi adegan. Dan lahirlah karya.

Hari ini, lahirlah satu karya. Karya pertama saudara kami.
Sandra Olivia Frans
Dengan karya:
Hawa

Semoga 2005 bisa besar dengan setiap karyanya. Begitu pula Hawa. Menjadi awal perjuangan setiap pribadi 2005 untuk berkarya.

Semangat!
Malang. 280212.

Posted from WordPress for Android

Nah. Saya kapan hari diminta menulis tentang Sumpah Dokter. Sempat bingung mau menulis apa. Lantas saya melakukan riset kecil tentang Sumpah Dokter atau secara internasional dikenal sebagai The Hippocratic Oath. Saya akan membuat tulisan serial tentang Sumpah Dokter.

The Hippocratic Oath
Barangkali, inilah barisan kalimat paling dahsyat dalam sejarah medis dunia. Melintasi ribuan tahun, tatanan kata yang menjadi tonggak profesi Dokter ini tetap lestari, bertransformasi, berganti tajuk, berintas bahasa, namun maknanya aman awet dan tetap getas.

Barisan kalimat ini dinamakan dari yang katanya penemunya. Hippocratic Oath. Sumpah Hippocratic. Berasal dari Hippocrates, seorang penyembuh (healer) Yunani kuno yang terkenal. Sumpah ini konon ditulis sebagai pedoman untuk etikomedis profesi penyembuh. Telah saya katakan tadi, meski telah berganti teks, namun intisarinya selalu sama. Sebuah sumpah untuk memberikan penghormatan terbaik kepada mereka yang telah diberi anugerah ilmu pengetahuan sebagai penyembuh (guru kita), juga kepada pasien dengan mengerahkan segenap kemampuan sebagai penyembuh.

Continue reading

Bibirku kelu.

Tidak. Mataku panas.

Tidak. Bulu kudukku meremang.

Tidak. Tubuh lemas.

Tidak. Tidak. Semua organ tubuhku berhenti berfungsi.

Aku menangis.

* – *

2003.
Sosokmu sejuk. Meretak semua angin. Aku yang bukan siapa-siapa di sana. Dan kau mengulurkan tanganmu. Merangkulku. Siapa nyana, engkau sahabatku yang pertama di sekolah itu.

Cowok dekil hitam kurus (saat itu). Ya aku lebih kurus darimu Achan, saat itu. Wajahku penuh jerawat. Ah, siapa nyana, engkau mau bersahabat denganku.

Tahukah?
Engkau lah temanku pertama yang kuajak ke persinggahanku. Rumah tanteku. Ingat ndak, saat aku memboncengmu di sepeda motorku, dan aku ngebut. “Nasi goreng masih enak.” Itu katamu. Aku terbahak. Kencang. Dan perlahan memelankan laju motorku.

Engkau membalasnya. Mengajak bertemu dengan ibumu. Aku tahu rumahmu. Bau rumahmu pun masih dapat kusesap.

* – *

La tahzan, Achan.
Bersabarlah.

Kami keluargamu. 2005. Dan semua sahabatmu.
Tentu tidak akan menggantikan ibu.
Tetapi raga kami… tidak, hati kami turut sakit.

La tahzan, Achan.
Aku tidak bisa menemani kesedihanmu.
Tapi Allah tahu, doaku tidak berhenti.

La tahzan, Achan.
Sahabatku. Keluargaku.

Udanawu.
23 Feb 2012. -00.23
Mengenang Ibunda Farchan.

Posted from WordPress for Android

Hehe… judulnya bagus, bukan? Cukup menghasut para pembaca untuk membaca posting ini.

Ya. Saya kehabisan ide. Dalam arti memang sedang tidak sempat bertapa untuk menulis. Artikel saya tentang 10 Alasan Anda Tidak Ingin Menjadi Dokter, masih akan berlanjut. Maaf belum sempat mengunggah. Masih akan saya rapikan sedikit. Maklum, sibuk. (Atau sok sibuk. Hehe…)

Nah, di tengah membuka-buka artikel di Pulse App, saya membaca artikel menarik. Judulnya sama dengan judul posting yg saya tulis ini. Dalam bahasa Inggris tentunya.

Untuk pembaca yang ingin membaca artikel asli dapat klik disini.

Artikel ini menarik karena membahas tentang otak manusia. Terkait dengan usia. Sering kita menjadikan usia sebagai alibi utama dalam menguncupkan semangat belajar.

“Ah saya sudah tua. Sudah tidak bisa belajar terlalu keras.”

Kalimat yang sering diungkapkan para manusia setengah baya yang kita kenal. Itulah mengapa beliau-beliau ini tidak bisa dan tidak mau mengoperasikan komputer. Ponsel pun tidak ingin yang rumit-rumit. Biasanya mereka menggunakan smartphone hanya untuk prestis. Tetapi masalah penggunaan, mentok hanya telepon dan sms.

Dalam artikel ini diungkapkan tentang perjuangan menjadi sopir taksi di London. Kenapa?

Berbeda dengan taksi di New York (kenapa dibandingkan dengan New York mungkin disebabkan kedua kota merupakan jujugan turis internasional), sopir taksi di London selain harus lulus ujian, mereka juga harus menguasai seluk beluk London hingga detail terkecil.

The Knowledge

Poin plusnya: Bayangkan!! Sopir taksi harus tes. Tes ini bahkan punya nama. The Knowledge. Inti dari tes ini: anda sebagai sopir taksi harus mampu menentukan rute tercepat teraman ternyaman menuju lokasi yang diinginkan penumpang.

Continue reading

Artikel ini menarik!!

Hehe… itu bagian dari marketing saya terhadap blog saya. Karena ini tulisan saya, maka setidaknya saya sendiri harus yakin terlebih dahulu kalau tulisan saya menarik. Hehehe… narsis ceritanya.

Saya membaca judul ini di salah satu blog medstudent di Amerika Serikat. Penulisnya yang dari USA. Bukan saya membaca blog ini di USA (lhah?!). Iseng-iseng saya baca. Di akhir posting tersebut saya merasa ingin mengunggah posting itu dalam bahasa saya. Kenapa? Karena sesungguhnya memang banyak alasan kenapa kita tidak ingin menjadi dokter (meski saya heran peminat FK kok ya ndak berkurang ya… ^^).

Di setiap poin akan saya jelaskan ketakutan itu beralasan atau tidak. Dan di akhir tiap poin saya juga mencoba memberikan resolusi, atas pengalaman saya. Semua penjelasan ini dipaparkan secara singkat. Untuk lebih rinci, insya Allah akan saya susun menjadi sebuah buku (ada yang mau beli? Insya Allah ada). Doakan ya. Untuk sekarang, Selamat membaca…

1) Kita akan kehilangan teman yang kita miliki sebelum menjadi mahasiswa kedokteran.

Continue reading

Sejuta maaf pembaca budiman. Saya baru sempat meneruskan edisi berikut. Insya Allah bukan mencari kambing hitam, tetapi aktivitas saya sedang padat minggu lalu.

Nah ini adalah lanjutan edisi sebelumnya.

Langsung kita mulai saja ya.

6) Menjadi dokter kini tidak lagi memiliki posisi sosial yang bagus.

Hemm. Benar dan salah. Indonesia memang unik. Dokter di negara liberal berbeda dengan dokter di negara sosialis. Tetapi Indonesia pun memiliki medikologi sosial yang berbeda. Dokter adalah Guardian Angel. Itulah yang memang terjadi di Indonesia. Masa lalu. Sebagian masa sekarang.

Continue reading

A 58-year-old man with type 2 diabetes presents with the acute onset of double vision. Examination reveals a deficit of the third cranial nerve. A third-nerve palsy associated with diabetes mellitus is usually characterized by which of the following?

a. Poor pupillodilation

b. Poor pupilloconstriction

c. Sparing of pupillary function

d. Inversion of the affected eye

e. Upward deviation of the affected eye

the answer is below…

Continue reading

A 36-year-old man abruptly loses vision in one eye. His retina appears cloudy and grayish yellow with narrowed arterioles. The fovea appears cherry red, and the vessels that are obvious appear to have segmented columns of blood. Which of the following is the most likely diagnosis?

a. Chorioretinitis

b. Occlusion of the central retinal vein

c. Occlusion of the central retinal artery

d. Optic neuritis

e. Tay-Sachs disease

the answer is below…

Continue reading

A 20-year-old G2P1 patient comes to see you at 17 weeks gestational age to review the results of her triple test done 1 week ago. You tell the patient that her MSAFP level is 2.0 MOM (singkatan dari Maternal Serum Alfa Feto Protein. MOM itu satuannya-Multiple of the Median. Nilai normal: 0.5-2.0 keterangan lebih lanjut klik disini,-Dev). The patient’s obstetrical history consists of a term vaginal delivery 2 years ago without complications. Which of the following is correct advice for your patient regarding how to proceed next?

a. Explain to the patient that the blood test is diagnostic of a neural tube defect and she should consult with a pediatric neurosurgeon as soon as possible

b. Tell the patient that the blood test result is most likely a false-positive result and she should repeat the test at 20 weeks

c. Refer the patient for an ultrasound to confirm dates

d. Offer the patient immediate chorionic villus sampling to obtain a fetal karyotype

e. Recommend to the patient that she undergo a cordocentesis to measure fetal serum AFP levels

the answer is below…

Continue reading

%d bloggers like this: