Saya teride untuk membuat postingan ini, karena saya ingin tahu juga apakah teman-teman memiliki pengalaman yang menarik untuk di- share.

Momen paling konyol.
Saat kuliah di awal semester 1, mata kuliah yang diajarkan mata kuliah dasar. Saat itu adalah mata kuliah anatomi. Dan materinya adalah ekstremitas inferior.

Dr. Onggung yang memberi kuliah. Dan pada satu slide beliau menampilkan daftar vaskuler dan nervus yang ada pada ekstremitas inferior. Lantas beliau bertanya, “apa yang kamu pikirkan ketika membaca daftar ini?”

Saya duduk paling depan. Dan menjadi sasaran empuk. Melihat daftar yang panjang dan banyak itu, saya pusing juga mau jawab apa.

Dan akhirnya… saya menjawab, “sulit dihafalkan, Dok.”

Hadeh. Bisa aja deh saya ngeles nya. Dan apa komentar beliau?

“Ya. Itu namanya jawaban tukang becak!”

Whew. Awal kuliah sudah seperti ini. Nyesek!!
Hehe..

Momen paling sedih.
Masih tentang anatomi. Di semester satu ada praktikum anatomi. Suatu sesi ujian masih tentang nervus dan vaskuler. Saya hanya mendapat nilai 18 dari maksimal 100.

Ini benar-benar momen yang memacu semangat saya belajar anatomi lebih keras di semester-semester berikutnya.

-note: anatomi lho ya. Bukan histologi. Hehe..-

Momen paling berkesan.
Nah ini momen saat saya dan deny mengerjakan tugas akhir kami. Kami mengamati pengaruh paparan morfin dosis lethal pada mayat terhadap pertumbuhan larva lalat.

Yang paling mengesankan adalah: saat kami nongkrong berjam-jam di tempat penampungan sampah kampus dan dengan sabar menangkapi lalat satu demi satu.

Hehe.. sesuatu yah!!

Momen paling menyebalkan.
Ini terjadi saat saya sudah pendidikan profesi a.k.a koass. Hehe.. saat itu stase Ilmu Penyakit Dalam. Seperti biasa, tim jaga wajib melaksanakan morning report keesokan paginya.

Yang tidak biasa adalah: yang memimpin morning report kali ini adalah dr. Harriadi SpPD. Sosok yang terkenal tegas dan menuntut kami untuk menguasai keluhan dan gejala pasien kami.

Saya pribadi sudah menyiapkan diri. Sejak dini hari sudah meminjam beberapa textbook dari PPDS untuk menguatkan jawaban.

Dan… ternyata textbook itu tidak mempan. Alias, kami tetap ‘habis’ di depan supervisor yang satu ini. Hadeh. Kami bahkan dapat julukan koass GMB!! Gak Main Blass!!

Senyum Kecut. Mesem Asem.

Momen paling campur-aduk
Ini terjadi masih ketika saya stase IPD. Saat itu saya stase di ruang 25. Dan saya merawat seorang bapak yang dirawat dengan hepatocarcinoma. Selama dua minggu saya rutin melaksanakan evakuasi asites. Setiap pagi saya selalu followup dan melaksanakan evakuasi.

Yang membuat campur-aduk, sang Bapak ini selalu menunggu saya tiap pagi, menyapa dengan suara keras dan bersemangat. Beliau selalu menanti-nanti saya. Pernah suatu kali saya tidak melakukan followup dan evakuasi asites, beliau protes.

“Kalau dokter yang nyuntik (evakuasi asites), rasanya ndak sakit.”

Bahagia rasanya disenangi pasien. Dan sedih karena penyakit beliau dengan keterbatasannya sebenarnya prognosisnya buruk.

Tapi tugas kita bukan untuk tetap membangun optimisme tanpa meninggalkan fakta untuk disampaikan?

Senang sekaligus sedih.

Momen paling canggung.
Saat stase kulit kelamin. Seperti biasa kami standby di poli kulit kelamin. Saya mendapat tugas di bagian Sexual-Transmitted-Disease. Nah hari itu saya membaca status pasien yang akan saya periksa dengan PPDS.

Pasien kedua adalah pasien dengan kondiloma. Hemm… menarik, pikir saya. Saya ingin tahu seperti apa kondiloma ini dan (tentu saja) seperti apa pasien nya.

Lantas saya baca nama pasien. Jederrr!!

Ini teman saya semasa SMP!!

Setelah konsultasi dengan dr. Evvy, akhirnya saya memutuskan untuk keluar ruang periksa karena tidak nyaman rasanya.

Nah, pas keluar ruang periksa, pas dengan sang Pasien yang akan masuk ruang periksa.

Hemm… kikuk.

-end-

Hehe… itulah sebagian momen-momen saya saat sekolah kedokteran. Mungkin ada yang mau berbagi?

Posted from WordPress for Android