Hehe..

Sebuah senyum mengawali blog ini. Setelah mengetik hampir selesai, tetiba GTab saya restart. Auch!! Menyakitkan.

Baiklah saya akan coba merakit kata demi kata meski mungkin tidak akan sama dengan rencana blog sebelumnya. (Curcol maksudnya. Hehe..)

Saya memang tetiba ingin menulis blog karena satu hari kemarin menyimak timeline yang membahas tentang kamseupay. Saya sempat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Sempat browsing juga di m.okezone.com tapi tidak mendapatkan hasil.

Untunglah mbak @dr_phea memberikan pencerahan dengan memberikan link menuju blog Ve Handojo.

Bagi yang belum mendapatkan pencerahan tentang pemaknaan kamseupay di bawah ini akan saya kutip sebagian isi blognya:

Dari sekian banyak dugaan tentang asal usul “kamse-u-pay”, saya punya sebuah versi yang lekat dengan masa kecil saya sendiri. “Kamse” adalah sepupu dekat dari kata “jorse” yang adalah singkatan dari “jorok sekali”. Keduanya adalah sepupu jauh dari kata “somse” yang adalah “sombong sekali”. “Kamse” sendiri merupakan singkatan dari “kampungan sekali”. Saya sebut “kamse” dan “jorse” bersepupu jauh dengan “somse” karena dua kata yang pertama itu bernada merendahkan, sementara “somse” bernada nyinyir.

Kosakata lain yang tertangkap adalah “Pay” yang menempel dengan nama tempat atau kumpulan dan saya perkirakan berarti “partai”. “Shaolin Pay” adalah “Partai Biarawan Shaolin”, “Bu Tong Pay” adalah “Partai Biarawan Bu Tong”, dan seterusnya. Inilah yang saya yakini sebagai pemicu evolusi selanjutnya dari hinaan “kampungan” tadi. “Kampungan” menjadi “Kamse”, lantas dikembangkan lagi jadi “kamse-u-pay”. Infiks “u” saya perkirakan hanyalah berfungsi sebagai bunyi penegasan saja. “Kamse-u-pay” digunakan untuk mengejek orang dari kalangan, atau sekalangan orang yang dianggap kampungan. Tentu, pada masa itu, yang menjadi target ejekan biasanya adalah penduduk pribumi kalangan ekonomi bawah; para tukang, pembantu rumah tangga, dan lain-lain.

Untuk artikel lengkap bisa di klik: kamse-u-pay kata dengan sejuta kenangan

Saya sarankan untuk membaca artikelnya secara lengkap. Karena disana Ve Handojo mengungkapkan pemaknaan kamseupay berdasarkan pengalaman masa kecilnya yang dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda dengan mayoritas kita. Beliau banyak mengungkapkan terminologi yang saya tidak tahu artinya. Bahkan tidak pernah mendengarnya. Luar biasa!!

Eh, jadi kamseupay versi Ve Handojo ini belum tentu sama dengan versi mbak Marissa Haque?

Jelas beda versi. Karena untuk pemaknaan kamseupay-nya mbak Marissa yang tahu mungkin hanya mbak Marissa dan keluarga dekatnya.

Sebentar. Terus maksudnya blog ini?

Hehe.. iya. Sabar. Judul blog ini: Kamseupay, Dan Blog.

Kamseupay sudah. Sekarang tentang blog. Blog adalah ornamen penting karena baik mbak Marissa, Ve Handojo, dan saya sama-sama mengungkapkan kamseupay dalam blog.

Dalam dunia kepenulisan sekarang, tidak sulit untuk menemukan wahana menulis. Tidak seperti dulu. Kini bila ingin menulis sesuatu, ketik dan klik publish. Maka tulisan anda akan dibaca masyarakat luas. Dan hukum konsekuensinya sama. Anda akan dikenal dari bagaimana tulisan anda.

Ya. Kita lah yang menentukan bagaimana orang lain akan membaca diri kita. Apakah kita ingin dikenal sebagai sosok yang santun dalam berlisan seperti tulisan @salimafillah. Ataukah kita ingin dikenal sebagai sosok serius dan sok mengajari (macam saya lah ini.. hehe..). Atau kah kita ingin menampilkan aktifitas, responsi dan tanggung jawab seperti yang dituangkan pak Dahlan Iskan dalam tulisan-tulisannya. Dapat juga kita menampilkan sisi diri kita yang konyol dalam tulisan seperti bang @radityadika.

Semua sesuai kehendak kita. Ramuan kata-kata itu lah yang akan menjadi sarana orang lain menilai karakter kita. Karakter yang kita ingin orang lihat.

Apakah yang ditampilkan sesuai dengan karakter aslinya? Hanya penulis yang tahu.

Lantas?

Maka, jadikanlah tulisan kita menjadi cermin pribadi positif dan bermanfaat bagi orang lain. Semua tulisan kita baik itu dalam Blog, status facebook, maupun microblogging twitter, selayaknya menjadi penanda identitas yang baik nan santun.

Ibaratnya kita bertemu orang lain dengan pakaian yang rapi, licin nan sedap dipandang mata, maka interaksi dunia maya pun selayaknya dibalut dengan hubungan yang baik, tutur kata yang santun, dan tidak menyakitkan hati.

Bilamana marah dan mendidih hati, ungkapkan dengan bijak, dengan maksud menegur demi kebaikan bersama. Bukan pada kemarahan membabi buta dengan serangkaian kata yang membuat lelah mata yang membacanya.

Ah namun dalam dunia maya memang tidak ada peraturan. Silakan kita mengekspresikan apa yang kita mau.

Hanya sedikit saran dari saya yang bukan siapa-siapa.