Bagi kami, calon penyandang gelar keprofesian, ada dua hal yang hukumnya wajib kami jalani.

Yang pertama adalah pendidikan profesi.
Yang kedua adalah uji kompetensi.

Di Bulan Dirgahayu Indonesia kemarin, kami melaksanakan sebuah uji kompetensi. Hasilnya: di luar dugaan. Sebagian dari kami tidak lulus.

Tidak Lulus.

Sungguh mencengangkan. Tangisan diri sendiri rasanya tidak cukup untuk melepaskan pedih. Semua tepukan menguatkan di bahu menjadi rutinitas saling menguatkan. Semua salam di tangan terasa lebih gahar, lebih kuat dari biasanya. Untuk memastikan bahwa semua siap berdiri bersebelahan, berangkulan. Saling menguatkan.

Senyum lebar nan getir, sebuah gambaran sulitnya memadukan perasaan bahagia karena lulus, dengan perasaan sedih karena menyaksikan teman sejawat kita gagal.

Saya pernah mengatakan, bagi saya, lebih berat menjadi orang sukses tetapi di saat yang sama menyaksikan teman sejawat kita gagal.

Benarkah? Mungkin iya mungkin tidak. Menurut teman-teman sejawat saya? Hehe..

Uji Kompetensi

Inilah kompetisi. Yang dinanti. Yang didebarkan. Menentukan apakah kami pantas menyandang gelar profesi.

Sebuah kompetisi selayaknya pantas. Untuk pantas maka terdukung berbagai faktor. Andaikan sebuah kompetisi basket terhadir sempurna, ia akan memiliki sistem kompetisi yang baik, jelas aturan baik bagi tim maupun penyelenggara, lapangan basket yang baik, atap tidak bocor, lantai yang berkualitas, segala ukuran lapangan yang terstandarisasi. Dan tentu saja tim pemain yang mumpuni.

Inilah kompetisi yang mampu memunculkan kekuatan terbaik para pemainnya. Kompetisi yang pantas.

Lantas, bilamana kita tahu ada sesuatu yang tidak beres?

Sesuatu yang abnormal terjadi. Misalkan tim kelas dunia justru kalah. Sesuatu abnormal terjadi dan wajib dilakukan evaluasi. Karena bersifat lokal, maka fokus evaluasi dilakukan pada tim yang bermasalah.

Bilakah yang terjadi hampir semua tim berkelas mengalami kekalahan atau penurunan performa secara sistemik? Bilakah rerata skor NBA yang diklaim liga basket terbaik dunia itu turun dari kisaran 130 poin tiap tim tiap pertandingan menjadi 70 poin?

Maka wajib dilaksanakan evaluasi menyeluruh dan fokus pada sistem dan penyelenggara.

Dan wajib mengakui bila terjadi kesalahan sistem dan penyelenggaraan.

Dan wajib mengambil langkah untuk menyelamatkan eksistensi tim kelas dunia yang menjadi peserta.

Retaker Menggugat!!

Maka disinilah para retaker UB berdiri. Menjalani keputusan ketidaklulusan-dan konsekuensinya-dengan tidak puas.

Retaker menjalaninya dengan bertanya-tanya. Benarkah mereka berkualitas seburuk itu hingga vonis tidak lulus itu datang?

Retaker UB tidak menyerah meski malas dan penurunan motivasi pun enggan diusir.

Dan disinilah retaker UB berdiri. Memegang bukti eksistensinya.

Dan disinilah retaker UB berdiri. Membuktikan bahwa mereka adalah tim kelas dunia yang tersingkir dalam kompetisi sebelumnya karena.. karena faktor X!!

Kita tidak akan berbicara kompetisi itu lagi. Biarlah faktor X itu menjadi aib nasional. Bencana nasional. Sejarah mencatatnya.

It’s not about what..
It’s all about who..

Us. 2005 UB.
Kami besar!

Retaker UB.
Mereka buktikan diri kini.

Retaker UB Menggugat.

Sekian.

Epilog:
Sejuta, bahkan tak terhitung ucapan terima kasih untuk bumi saya. 2005 UB. Kita keluarga terbaik. Dan akan selalu terbaik.

Ada yang bilang tidak afdhal bila tidak bicara data.

Kami berikan:
Kompetisi I.
Nilai rerata nasional 54.
Batas kelulusan 58.
Nilai awal retaker UB: bervariasi. Jelas di bawah batas kelulusan.

Kompetisi II.
Nilai rerata nasional 62.
Batas kelulusan 61.
Nilai retaker UB: bervariasi. Menurut pengakuan beberapa retaker, ada yang mendapat nilai 86, 84, 78,5

Jauh di atas rerata nasional.

Maka, inilah tim kelas dunia yang sesungguhnya.