Beberapa hari terakhir, kerap kita membaca mendengar dan memperhatikan sebuah kisah. Kisah ini diklaim heroik. Dalam olahan lambung media, kisah ini menjadi besar dan lebih besar lagi. Kisah apa gerangan?

Kisah tentang Sondang. Sondang Hutagalung, mahasiswa Universitas Bung Karno ini menyita perhatian jutaan manusia Indonesia. Semua merasa trenyuh atas pengorbanan mahasiswa ini dalam memperjuangkan perubahan bangsa. Aksinya membakar diri sendiri yang lantas berujung pada kematian dirinya dianggap sebagai sebuah aksi patriotisme.

Membaca berita ini, saya tercenung lama. Benarkah aksi ini sebuah aksi patriotisme? Benarkah caranya membakar diri itu untuk memperjuangkan perubahan bangsa?

Saya kutip berita dari salah satu aitus berita online: Metrotvnews.com

Jakarta: Aksi bakar diri Sondang Hutagalung pada Kamis(8/12) lalu, menyita perhatian publik. Tak hanya masyarakat biasa, elit politik pun menaruh empati terhadap perjuangan Sondang.

Rasa empati itu ditunjukan elite politik dalam sebuah diskusi bertajuk “Memorial Testimoni Sondang Hutagalung dan Komitmen Pemberantasan KKN” di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Selasa (13/12) siang tadi.

Dalam diskusi tersebut turut hadir mantan Menteri Keuangan Rizal Ramli, Fuad Bawazier, anggota Komisi III DPR, Bambang Soesatyo, aktivis antikorupsi Adi Masardi, serta Pendeta Bigman Sirait.

Satu per satu pembicara menyampaikan testimoni atas peristiwa yang dilakukan Sondang. Mereka pun bersepakat, aktivis Hak Azasi Manusia itu dinilai merupakan sosok patriot sejati yang rela berjuang demi perubahan bangsa dan negara.

Hemm.. apa sih sebenarnya arti kata patriot?

Patriot memiliki makna cinta dan bela tanah air.
Patriotisme bermakna semangat dalam cinta dan bela tanah air.

Maka seorang patriotisme adalah pejuang yang menekankan dalam sanubarinya bahwa ia mencintai dan siap membela bangsa dan tanah airnya dengan segenap jiwa raga. Ia siap berkorban segala-galanya demi cita-cita bangsa.

Eits, kan bener tuh, berkorban segala-galanya. Korban nyawa juga kan?

Terkait tentang pengorbanan ini, saya punya pendapat tersendiri. Bahwa dalam aturan agama manapun, dan dalam kode etik profesi apapun, kta wajib menjunjung tinggi proses kehidupan. Bahkan dalam Sumpah Dokter ditegaskan bahwa dokter harus menjunjung tinggi proses kehidupan sejak proses pembuahan. Maka saya rasa, keputusan untuk membakar diri ini merupakan tindak pelecehan terhadap kekuasaan yang paling hakiki, yaitu Tuhan. Menghilangkan nyawa seseorang-sekalipun nyawa diri sendiri-merupakan sebuah bentuk perlawanan-dalam konteks yang paling samar-terhadap eksistensi Tuhan.

Maka sikap saya jelas. Bunuh diri, sekalipun berlandaskan pada alasan patriotisme, bukan sesuatu yang bisa dipuji. Ketika para tokoh politik nasional memilih sikap untuk mengapresiasi keputusan Sondang, menobatkan almarhum sebagai pahlawan dan sebagainya, maka patut dipertimbangkan efeknya bagi kaum muda berikutnya.

Jangan-jangan, setelah Sondang, akan muncul Sondang-Sondang lain dalam skala kecil maupun besar. Mereka akan bersemangat menyiksa diri dalam proses memprotes kebijakan, mengkritisi pemerintah, dan bersembunyi dalam alibi berjuang demi bangsa dan tanah air.

Caranya pun semakin gila dan tidak tertebak. Yang tidak perlu saya jlentrehkan disini karena takut dijadikan inspirasi. Hehe.. Tetapi inilah yang menjadi bahan pemikiran saya terhadap membanjirnya pujian, apresiasi, bahkan penyematan gelar pahlawan. Di kala para kaum muda terbius budaya instan, budaya narsisme, dan butuh perhatian serta pengakuan yang kian besar, maka cara instan menjadi pahlawan adalah meniru cara Sondang.

Maka bijaklah dalam menilai sesuatu.

Di akhir tulisan ini, saya menyertakan nukilan naskah pidato Bung Karno pada peringatan hari proklamasi 17 Agustus 1951.

“… Saudara-saudara … hal `kemakmuran’ dan `keadilan sosial’ ini cita cita kita bukan cita-cita yang kecil. Manakala Revolusi Perancis, misalnya, adalah revolusi untuk membuka pintu buat kapitalisme dan imperialisme, maka revolusi kita adalah justru untuk menjauhi kapitalisme dan imperialisme. Tetapi seperti sudah puluhan, ratusan kali saya katakan: Revolusi bukan sekedar kejadian sehari bukan sekedar satu evenement; revolusi adalah suatu proses, suatu proses destruktif dan konstruktif yang gegap-gempitanya kadang-kadang memakan waktu puluhan tahun. Proses destruktif kita boleh dikatakan sudahselesai,proses konstruktif kita, sekarang baru mulai. Dan ketahuilah, proses konstruktif ini memakan banyak waktu dan banyak pekerjaan. Ya, banyak pekerjaan! Banyak pemerasan tenaga dan pembantingan tulang! Banyak keringat! Adakah di dalam sejarah tercatat suatu bangsa menjadi bangsa yang besar dan makmur zonder (tanpa) banyak mencucurkan keringat? Tempo hari saya membaca tulisan seorang bangsa asing yang mengatakan bahwa “mempelajari sejarah adalah tiada guna” atau “History is bunk”, demikian katanya. Tetapi saya berkata: justru dari menelaah sejarah itulah kita dapat menemukan beberapa hukum pasti yang menguasai kehidupan bangsa-bangsa. Salah satu daripada hukum-hukum itu ialah tidak ada kebesaran dan kemakmuran yang jatuh begitu saja dari langit. Hanya bangsa yang mau bekerjalah menjadi bangsa yang makmur. Hukum ini berlaku buat segala zaman, buat segala tempat, buat segala warna kulit, buat segala agama atau ideologi. Ideologi yang mengatakan bahwa bisa datang kemakmuran zonder kerja adalah ideologi yang bohong!

Bila kita mempunyai jiwa rela berkorban demi tanah air dan bangsa, bangga sebagai bangsa Indonesia dan menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi berarti dalam dada kita telah tertanam patriotisme …”

Dan mari kita menjadi patriot.
Mari kita berjuang dengan cara masing-masing.
Mewujudkan cita Indonesia yang lebih baik.
Dengan segala cara … yang konstruktif.

Bung Karno menjawabnya.

Perenungan.
Bumi Udanawu
13-12-11