Nah.
Ini tulisan saya rada ilmiah. Saya memang berniat blog saya ini tidak berisi hal-hal yang ringan saja, harus ada nilai yang dapat diambil. Kali ini saya membaca sebuah artikel ilmiah dari Medscape dengan judul:

Diagnosis of Dementia Increases Risk for Suicide
News Author: Megan Brooks
CME Author: Charles P. Vega, MD
CME Released: 11/22/2011

Judul ini memikat saya. Karena mungkin ini sebuah proses yang akan kita temui di dunia klinis. Mendiagnosis demensia. Dan ternyata memiliki kaitan dengan usaha bunuh diri. Menarik, bukan?

Konteks Klinis.

Kita tahu bahwa pasien geriatri sesungguhnya pasien dengan kompleksitas yang luar biasa. Karena problem geriatri sesungguhnya didominasi problem psikologis.

Di Italia bahkan diteliti tentang manula yang tinggal di rumah jompo.

Scocco and colleagues examined suicidal thoughts and behaviors among 288 older adults receiving nursing home care in Italy. Their results, which were published in the June 2009 issue of the Journal of Geriatric Psychiatry and Neurology, found that 30% of individuals had thoughts of death or suicide during the month before the study questions, with similar rates among men and women. However, less than 5% of respondents had made a suicidal plan. Men were more likely than women to have attempted suicide during the previous year (3.8% vs 0%).

Menerima diagnosis menderita demensia ternyata meningkatkan kemungkinan usaha bunuh diri, terutama bila muncul gejala depresi dan cemas.

“There is growing evidence that depression and anxiety are more likely to occur early in the course of dementia, which may drive suicidal behavior”


-Lisa S. Seyfried, MD-
Department of Psychiatry, University of Michigan, Ann Arbor, and colleagues note in an article published in the November issue of Alzheimer’s & Dementia.

Problematika Psikologis.

Pakar psikiatri, Professor Brian Draper, MBBS, MD, FRANZCP, dari the School of Psychiatry, University of New South Wales,Sydney,Australia, mengatakan bahwa demensia telah dapat disetarakan dengan kanker dalam kaitannya dengan penerimaan pasien terhadap diagnosis tersebut.

“I think that we have to start conceptualizing dementia in a similar way to cancer, They are both severe, life-threatening illnesses. The shock, or in many cases the confirmation of worst fears that one has Alzheimer’s disease, can be a psychological challenge that some find insurmountable, and depression is a common postdiagnosis reaction.”

Dan ternyata depresi ringan ini sudah muncul saat penetapan diagnosis. Maka fakta ini sesuai dengan percobaan bunuh diri yang muncul bulan-bulan awal setelah diagnosis. Dan yang mengejutkan, fakta yang sama didapatkan pada pasien yang didiagnosis kanker, meskipun prognosisnya tidak buruk.

Penelitian Dr. Seyfried dan koleganya dengan kohort meliputi 294,952 pasien yang didominasi laki-laki berumur minimal 60 tahun yang didagnosis demesia antara 2001-2005. Di antara pasien ini, 241 pasien (0.09%) melakukan percobaan bunuh diri selama penelitian.

75% percobaan bunuh diri itu dilakukan pasien yang baru didiagnosasis demensia (diagnosis yang diberikan selama penelitian).

Multivariate logistic regression models identified several potential predictors of suicide with dementia diagnosis; most notably male sex, white race, history of depression, history of inpatient psychiatric care, and prescription for antianxiety or antidepressant medication.

Age also influenced the risk for suicide, with younger adults at greater risk than older adults.

Dr. Draper juga menekankan bahwa munculnya demensia pada usia yang relatif muda (sebelum 65 tahun) menimbulkan problematika psikologia yang besar.

Masalah yang lain adalah kian banyak yang menyadari kelainan dalam dirinya. Hal ini dikarenakan majunya teknologi. Ketik sedikit, enter, informasi sebanyak mungkin dapat kita peroleh melalui internet.

Dua puluh tahun lalu, sangat sedikit pasien yang datang pada dokter dengan keluhan. Sebagian besar pasien datang dengan adanya kecurigaan kelainan yang diketahui oleh keluarga atau rekan kerja terlebih dahulu.

“Now, it is as frequent for the patient to notice a change in memory as anyone else. There is much more insight about the condition than previously, [and] being aware of the illness might in itself increase the likelihood of depression and suicide.”

Dr. Seyfried mengatakan bahwa mayoritas usaha bunuh diri ini dengan mengiris nadi, dilanjutkan minum racun dan gantung diri.

Pencegahan terhadap usaha bunuh diri ini harus dilakukan. Terutama motivasi dari lingkungan sekitar sehingga pasien mampu menerima diagnosis dengan tetap tidak kehilangan semangat, tidak merasa ditinggalkan.