Nah. Kali ini, saya masih akan mengulik tentang hiperkes. Bukan tentang materinya. Kali ini berkaitan dengan kesan saya di hari terakhir pelatihan hiperkes.

Kunjungan.

Yup. Kami diberi kesempatan mengaplikasikan ilmu yang kami dapat selama lima hari. Kami berkunjung ke salah satu perusahaan nasional. Perusahaan ini bergerak di bidang pembuatan alat medis.

Awalnya, wow!!

Mantap. Kami akan langsung praktek. Kesempatan ini begitu menggiurkan sehingga ingin segera sampai di hari terakhir pelatihan. Hari kunjungan.

Di awal kunjungan, pihak perusahaan menyatakan berulang-ulang bahwa kami beruntung ada perusahaan yang mau dikunjungi seperti perusahaan tersebut. Karena tidak semua perusahaan mau ‘sisi dalam’ mereka dikupas. Ehem. Kok semacam bukan pertanda baik, pikir saya.

Lantas, kami diantar ke bagian pabrik. Di sana kami yanh telah dibagi kelompok-kelompok mulai fokus dalam tugas masing-masing. Ada yang mengamati faktor pajanan fisik, kimia, sanitasi, gizi karyawan dan sebagainya. Saya sendiri fokus pada keselamatan kerja dan ergonomi.

Satu setengah jam. Kami rasa yang kami dapatkan cukup. Kami pun kembali ke tempat pelatihan dan mulai menyiapkan presentasi.

Presentasi.

Well. Disini cerita dimulai. Kenapa? Karena setelah presentasi selesai, saya dan beberapa teman sepakat, pihak perusahaan adalah defender sejati.

Kok?

Jadi segala yang kami dapatkan, baik itu berupa kritik dan saran, mentah semua di hadapan beliau. Setiap kritik mendapat sanggahan. Setiap saran, beliau bersembunyi di balik punggung hiperkes. Karena memang perusahaan tersebut rutin berkonsultasi hiperkes pada balai hiperkes. Itulah senjatanya.

“Silakan dikonfirmasi kepada pihak hiperkes betapa persahaan kami sudah cukup baik bila dibandingkan perusahaan lain. Nanti kalau kami yang bilang, seperti ngapik-ngapikno perusahaan sendiri.”

Waduh Bung!!
Bukan seperti itu caranya. Di sini memang dibutuhkan jiwa besar untuk mengakui bahwa pasti semua perusahaan tidak sempurna. Justru kian anda menyangkal, kian tampak ketidaksempurnaan perusahaan anda.

Saya beri beberapa ilustrasi presentasi kami.

Kami mengulik tentang keselamatan kerja. Kami memberi masukan tentang kabel-kabel yang masih centang-perenang di lokasi. Bahkan salah satunya menjulur melalui jalan. Sangat berpotensi terjadinya kecelakaan kerja.

Tapi disanggah dengan sangat diplomatis bahwa memang baru-baru ini baru terjadi penggantian komputer. Jadi memang kondisinya seperti itu.

Hemm.

Di lain waktu ada pula di antara kami yang mengkritisi tentang jauhnya wastafel dari lokasi kerja. Itu pun tidak disertai sabun.

Dan dijawab dengan (lagi-lagi) diplomatis bahwa memang sabun disimpan di tempat terpisah karena bila sabun diletakkan di wastafel, cepat habis, bahkan hilang.

Hemm.

Baiklah. Yang ingin saya sampaikan di blog saya ini bukan tentang perusahaan. Melainkan hiperkes. Dari sini, kami sadar, inilah tantangan dokter perusahaan yang sebenarnya.

Menghadapi perusahaan dengan segala dinamikanya, tidak mudah. Tidak pernah mudah. Seperti yang saya ungkap di blog saya terdahulu, hiperkes memang konsep ideal peningkatan dan optimalisasi produksi, namun bukan sesuatu yang murah. Semua akan kembali pada pihak perusahaan. Maukah mereka berinvestasi pada konsep hiperkes? Dokter perusahaan hanya memberikan rekomendasi.

Dan perusahaan manapun pasti menciptakan defender tangguh. Untuk tetap memenuhi regulasi hiperkes, dengan investasi semurah mungkin.

Dan dokter perusahaan manapun berusaha mengangkat idealisme, dengan tetap tidak bisa menafikan kepentingan perusahaan.

Seharusnya win-win solution.