“Being a doctor is not an easy thing, as you usually think..”
-myQuotes-

Yup. Kalimat di atas akan mengawali postingan saya ini. Kenapa? Karena, menjadi dokter itu tidak mudah.

Profesi ini menanggung beban pasien, mencoba memahami, dan menyuntikkan (bukan obat) optimisme sembuh dalam diri pasien. Perhatikan. Betapa semua jobdesc. itu terangkum dalam profesi dokter. Terkesan sedikit? Ya. Sayang dokter hanya punya waktu sekian menit untuk melakukan itu semua.

Di atas semua itu, dokter pun manusia. Yang punya masalah pribadi, watak, pengendalian diri dan emosi yang berbeda-beda.

Mengikuti bimbingan UKDI untuk kali kedua, sering saya bercermin. Mendapat materi yang sudah pernah saya dapatkan. Berulang-ulang. Dan lupa nya pun berulang-ulang. Hehe..

Itulah keterbatasan seorang dokter. Di satu sisi ia diharapkan sempurna bak Malaikat (Guardian Angel). Di sisi lain, ia penuh dengan kenaifan manusia (human being).

Saya teringat suatu kali mendapat pasien DM. Ia sering periksa ke dokter. Dengan tujuan periksa gula darah. Suatu ketika beliau periksa ke klinik. Saya heran.

‘Lho Bapak ko sudah tau kalo punya penyakit gula?’

‘Lha ya saya sudah pernah periksa ko, Dok..’

‘Trus, kapan Bapak terakhir periksa gula darah?’

‘Enam bulan yang lalu, Dok..’

Whew.. baiklah. Saya cek gula darahnya sekaligus cek kolesterol dan asam urat (dengan persetujuan pasien). Lantas sembari menunggu hasil lab itu jadi saya persilakan bapak itu pulang.

Hasil lab jadi. Gula darah tiga ratus sekian. Cukup tinggi untuk hasil pemeriksaan gula darah acak. Saya pun menghubungi bapak itu dan memintanya datang ke klinik.

Saya menjelaskan panjang lebar tentang DM. Penyebabnya. Bagaimana perubahan lifestyle yang dibutuhkan. Pilihan terapi. Kapan kita menggunakan obat kapan tidak. Begitu juga dengan insulin. Dan komplikasi apa yang bisa terjadi bila pasien tidak concern dengan penyakitnya.

Ketika saya menanyakan, apakah ada yang ingin disampaikan kepada saya, bapak itu berucap ‘alhamdulillah’

Melongo saya dibuatnya.

Lha sakit DM ko malah alhamdulillah.. jangan-jangan saya salah menerangkan nih, batin saya.

Ternyata bapak itu lega. Karena baru kali ini beliau mendapat keterangan yang lengkap tentang penyakitnya.

Bayangkan. Berapa dokter yang telah dikunjungi bapak itu. Dan beliau tidak pernah dapat informasi apapun tentang DM.

Begitulah. Bila dokter menjadi profesi rutinitas.

Dokter memiliki priviliges. Tanpa diminta. Tanpa perlu meng-eksklusif-kan diri. Maka semua kembali kepada kita. We’re doctors. And it’s hard.