Archive for November, 2011


Nah.
Ini tulisan saya rada ilmiah. Saya memang berniat blog saya ini tidak berisi hal-hal yang ringan saja, harus ada nilai yang dapat diambil. Kali ini saya membaca sebuah artikel ilmiah dari Medscape dengan judul:

Diagnosis of Dementia Increases Risk for Suicide
News Author: Megan Brooks
CME Author: Charles P. Vega, MD
CME Released: 11/22/2011

Judul ini memikat saya. Karena mungkin ini sebuah proses yang akan kita temui di dunia klinis. Mendiagnosis demensia. Dan ternyata memiliki kaitan dengan usaha bunuh diri. Menarik, bukan?

Konteks Klinis.

Kita tahu bahwa pasien geriatri sesungguhnya pasien dengan kompleksitas yang luar biasa. Karena problem geriatri sesungguhnya didominasi problem psikologis.

Di Italia bahkan diteliti tentang manula yang tinggal di rumah jompo.

Scocco and colleagues examined suicidal thoughts and behaviors among 288 older adults receiving nursing home care in Italy. Their results, which were published in the June 2009 issue of the Journal of Geriatric Psychiatry and Neurology, found that 30% of individuals had thoughts of death or suicide during the month before the study questions, with similar rates among men and women. However, less than 5% of respondents had made a suicidal plan. Men were more likely than women to have attempted suicide during the previous year (3.8% vs 0%). Continue reading

Advertisements

Nah. Kali ini, saya masih akan mengulik tentang hiperkes. Bukan tentang materinya. Kali ini berkaitan dengan kesan saya di hari terakhir pelatihan hiperkes.

Kunjungan.

Yup. Kami diberi kesempatan mengaplikasikan ilmu yang kami dapat selama lima hari. Kami berkunjung ke salah satu perusahaan nasional. Perusahaan ini bergerak di bidang pembuatan alat medis.

Awalnya, wow!!

Mantap. Kami akan langsung praktek. Kesempatan ini begitu menggiurkan sehingga ingin segera sampai di hari terakhir pelatihan. Hari kunjungan.

Di awal kunjungan, pihak perusahaan menyatakan berulang-ulang bahwa kami beruntung ada perusahaan yang mau dikunjungi seperti perusahaan tersebut. Karena tidak semua perusahaan mau ‘sisi dalam’ mereka dikupas. Ehem. Kok semacam bukan pertanda baik, pikir saya. Continue reading

image

Nah, ini dia.
Posting saya tentang jalan-jalan kami di Jogja. Kami menyempatkan diri ke pantai Kukup. Jauh ya?

Memang. Pantai di daerah GunungKidul ini kami tempuh menggunakan mobil selama dua jam. Hehe.. Satria yang menyetir, ditemani rudy dan samud. Saya dan momon tidur.
Setelah dua jam, kami sampai di daerah pantai yang ternyata memiliki 9 pantai. Wow!!

Kami memilih pantai Kukup sebagai destinasi pertama. Kenapa? Karena satria sudah pernah kesini. Testimoninya: bisa liat ikan laut hias di sela karang.

Uwoww.. gimana ndak ngeces? Continue reading

image

Hooo.. judulnya romantis banget yak!!
Hehe.. memang. Yogyakarta ini kota tua nan romantis. Tiap sudut menawarkan eksotisme Java, suasana beraura kuning emas terserak dimana-mana, dan keramahan hangat mengambang di udara kota klasik ini.

Yogyakarta.

Klasik. Saya selama lima hari di Yogyakarta. Menginap di hotel Melia Purosani. Hotel yang bagus. Sstt.. saya menumpang menginap di hotel ini. Hehe.. mana mampu dokter baru macam saya menyewa kamar hotel yang rate nya hampir tujuh digit ini. Continue reading

image

Ini adalah mobil idaman saya.
Setelah resepsi sahabat saya di Surabaya, kami jalan-jalan di Ciputra World.

Jeep Wrangler.

Dan mobil ini tanpa rasa bersalah nangkring di parkiran. Mejeng malu-tersipu. Membuat mata saya enggan beralih darinya. Kepala saya neleng.

Hati berdebar.
Jantung berdetak lebih kencang.
Pupil miosis.
Hiperhidrosis.

Bimbang.

Sedetik kemudian.

Saya berbalik arah dan memotret dengan GTick (Galaxy Tab) saya.

Dipoles sedikit dengan program Pixlr-o-matic dari market android.

Well.

Inilah mobil idaman saya.
Mengalihkan duniaku.

Ah. Ndak seru!!
Judulnya sudah sangat informatif.
Bikin ndak pengen baca.

Ahahaha..

Biar saja deh. Lima hari ke depan saya mengikuti pelatihan Hiperkes di Jogja. Saya sedari awal memang sudah meniatkan diri untuk ikut pelatihan (yang katanya jadi anak tiri) ini.

Ada yang mengatakan, pelatihan hiperkes itu pelatihan paling omong kosong. Ups?

Hehe..

Iya. Pelatihan yang paling tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Hehe.. kok bisa?

Hiperkes merupakan pelatihan Higiene Perusahaan dan Kesehatan plus K3 yaitu Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Sebuah pelatihan yang luar biasa menurut saya.

Luar biasa padat (21 materi dalam lima hari plus kunjungan ke perusahaan dan membuat resume hiperkes).
Luar biasa melelahkan (durasiiiii).
Luar biasa ramai (peserta 79 orang dibagi dua kelas)
Luar biasa membosankan dan melelahkan.

Lho?
Continue reading

“Being a doctor is not an easy thing, as you usually think..”
-myQuotes-

Yup. Kalimat di atas akan mengawali postingan saya ini. Kenapa? Karena, menjadi dokter itu tidak mudah.

Profesi ini menanggung beban pasien, mencoba memahami, dan menyuntikkan (bukan obat) optimisme sembuh dalam diri pasien. Perhatikan. Betapa semua jobdesc. itu terangkum dalam profesi dokter. Terkesan sedikit? Ya. Sayang dokter hanya punya waktu sekian menit untuk melakukan itu semua.

Di atas semua itu, dokter pun manusia. Yang punya masalah pribadi, watak, pengendalian diri dan emosi yang berbeda-beda.

Mengikuti bimbingan UKDI untuk kali kedua, sering saya bercermin. Mendapat materi yang sudah pernah saya dapatkan. Berulang-ulang. Dan lupa nya pun berulang-ulang. Hehe..

Itulah keterbatasan seorang dokter. Di satu sisi ia diharapkan sempurna bak Malaikat (Guardian Angel). Di sisi lain, ia penuh dengan kenaifan manusia (human being). Continue reading

%d bloggers like this: