Uupss,, judul di atas bukan untuk orang tua. Juga bukan membicarakan orang yang sudah tua (kita bicarakan di geriatric medicine!! Hihihi…).

Judul di atas, untuk menunjukkan sebuah padanan kata yang seringkali kita lupakan. Seringkali kita remehkan. Ketika kita berdoa setelah sholat, kita asyik sendiri memohon tentang diri kita, memohon nilai kita baik, meminta hidup kita enak, meminta impian kita dikabulkan. Sedangkan di sana, dimana ayah ibu kita justru menangis memohon sepenuh hati untuk kita. Memohon kesehatan kita. Memohon kita dijaga di jalan-Nya. Memohon dibukakan hati dan pikir kita. Memohon yang terbaik. Bahkan beliau lupa untuk mendoakan kepentingannya sendiri.

Saya baru saja menyelesaikan buku Catatan Hati Bunda karya Asma Nadia. Sungguh coretan-coretan hati yang luar biasa, seringkali saya berkaca, beginikah dulu hati mama saya ketika saya kecil. Beginikah rasa mama saya dulu ketika saya meminta mainan padahal tidak punya uang. Beginikah usaha papa untuk menyenangkan anak-anaknya? Berusaha yang terbaik untuk memberikan yang terbaik untuk perkembangan anak-anaknya. Luar biasa.

Lalu pagi ini, saya menonton “College Road Trip”. film ini bercerita tentang ayah yang sangat protektif kepada anak perempuannya. Dia begitu menjaga putrinya, sehingga ketika sang anak selesai SMA, sang ayah segera ikut menyeleksi dimana dia akan kuliah. Begitu protektifnya ayah sampai sang anak merasa terganggu. Puncaknya ketika sang ayah menyusup masuk ke kamar kos teman putrinya, saat putrinya menginap di sana, karena khawatir terjadi apa-apa.

Singkat cerita, film ini berakhir happy. Dan di akhir cerita, sang anak bertanya, kenapa sang ayah begitu protektif?

“karena ayah takut, begitu engkau lepas dari ayah, ayah akan hilang dari memorimu. Ayah menjadi tidak penting bagimu.”

Begitulah yang sering terjadi, bukan? Kita terlalu asyik dengan hidup kita. Merasa sudah dewasa, seringkali kita lupa untuk memperhatikan orang tua kita. Seringkali prioritas hidup ada di sekitar teman-teman kita. Seringkali prioritas doa, berputar mengelilingi hidup kita.

Sesungguhnya teman, kebaikan yang kita punya sekarang, pandai berpuisi, lihai menulis, lancar berorasi, pintar akademis, pandai berenang, jago bulu tangkis, kuliah kita, punya laptop, bahkan yang paling sepele, baju,semua itu,  atas izin Allah, terajut oleh gemulai tangan, derap langkah, cucuran keringat, dan rentetan senyum bahagia orang tua kita.

Kenapa tidak kita mulai? Ketika ayah atau ibu kita suka jagung rebus, maka sepulang kampus atau ketika kita pulang ke kota kita, sempatkanlah mampir membeli jagung rebus. Sekalipun itu adalah uang terakhir di dompet kita.

Epilog:

Dalam film tersebut, ketika sang ayah mengantarkan sang anak ke kampus, ketika sang anak hendak menghilang di pintu masa depannya, sang ayah bertanya dengan nada sedih tapi bahagia, “where’s the time gone?” sambil membayangkan bayi mungil yang tumbuh menjadi gadis kecil yang lucu, lalu remaja yang suka hang-out dengan teman-temannya, dan kini, ia telah di di ambang kedewasaan. Saat ini di mana ia harus mulai melepaskan putrinya yang tersayang ke dunia, tanpa ia di sisinya.

14-10-09, Rabu @ home.