Tulisan ini saya buat tahun 2009 akhir. insya Allah masih (dan akan selalu) relevan dengan kondisi kita sekarang.

***

Masih teringiang di benak saya tentang kisah seorang Syam Ahmad Sanusi. Beberapa hari yang lalu, kebetulan saya membaca sebuah opini di harian surat kabar terkemuka membahas kisah seorang Syam. Kita semua mungkin belum melupakan kasus pembunuhan Dirut PT. Asaba yang akhirnya kita ketahui pelakunya adalah Letda Syam Ahmad Sanusi, dan kita semua pasti sepakat bahwa Syam pantas mendapatkan hukuman atas tindakannya itu.

Namun sungguh mengejutkan, bukannya mempertanggungjawabkan perbuatannya, Syam justru melarikan diri dari tahanan. Polisi langsung menghujaninya dengan tembakan dan tak kurang dari 10 peluru akhirnya mengenai tubuh Syam.

Yang membuat saya sangat trenyuh, adalah ketika ia di tengah sakaratul maut, Syam masih dapat bertahan untuk berbicara melalui telpon dengan Sang Ibunda tercinta. Sungguh, kasih sayang yang luar biasa besar dari seorang Syam, yang telah lenyap kebanggaan pribadinya, yang telah diragukan peri kemanusiaannya, yang telah divonis biadab oleh masyarakat, sehingga masih menyempatkan untuk berbicara dengan Ibundanya. Sungguh, kalimat-kalimat terakhirnya itulah yang membuktikan bahwa kasih sayang kepada Ibunda tidak ikut tergerus oleh kejahatannya. Menjelang ajal, Syam sempat memohon ampun sekaligus berpamitan.

Pertalian cinta kasih antara seorang anak kepada Ibunda seharusnya menghadirkan jutaan makna bagi kita. Kita masih punya banyak kisah tentang kasih sayang seorang anak kepada Ibundanya. Ada kisah seorang Sersan William J. Brooks. Sebelum meninggal karena ledakan bom, beliau masih sempat mengirimkan kartu Hari Ibu kepada Ibundanya yang tercinta di Birmingham.

“Ibu, katakan kepada semua orang bahwa aku mencintai mereka, khususnya nenek dan dirimu. Selalu. Love you forever, your son.”

Atau kisah tentang Diego Roncan yang juga meninggal karena hempasan bom. Di tengah medan perang, beliau menyempatkan diri untuk menulis surat, “Aku berharap Engkau bangga atas apa yang aku lakukan. Berikan kepercayaanmu pada keputusanku ini. Aku akan berjuang keras dan pantang menyerah. Aku mohon maaf atas semua kekeliruanku. Satu hal, aku lakukan ini semua semata untuk dirimu, Mom.”

Sungguh, ikatan tali cinta yang luar biasa, dari seorang anak kepada Ibundanya. Bagi Syam, William dan Diego ibu adalah representasi sebuah kebanggaan, teladan, dan idola. Ibu adalah The Ultimate Idol. Lalu bagaimana dengan kita semua, Sahabat?

Pernahkah terlintas di benak kita untuk sekedar mengirim sms di hari ulang tahun Beliau? (jujur, saya pun belum pernah…) Atau di hari ibu seperti yang William lakukan? Berterima kasih dan meminta maaf bahkan hanya di hari ulang tahun kita?  Satu tahun sekali, dan bahkan kita lebih suka mengambil sikap malu untuk mengucapkannya. Kenapa di hari ulang tahun kita? Karena para Ibunda kita lah, kita dapat hadir di dunia ini. Dan terlalu sulitkah untuk mengucapkan  terima kasih di hari itu dan meminta maaf atas apa yang telah kita lakukan?

Pernahkah teman-teman mendengar sebuah kisah tentang Zhang Da? Seorang anak berusia 15 tahun yang mendapat penghargaan dari pemerintah China karena kehebatannya. Apa itu?

Sejak usia 10 tahun, Zhang Da telah ditinggal ibunya. Ayahnya yang sakit-sakitan membuat Zhang Da muda menempuh hidup yang sangat keras. Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggung jawab untuk meneruskan kehidupannya dan papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya. Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan. Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya. Hidup seperti ini ia jalani selama lima tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat.

Yang paling hebat, karena obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Ia beli buku bekas yang mengajarinya menyuntik, ia juga belajar dari memperhatikan suster yang menyuntik ayahnya. Akhirnya dia nekat untuk menyuntik ayahnya. Nekat? Ya!! Tapi akhirnya kini ia menjadi ahli suntik untuk ayahnya.

Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, Pembawa Acara (MC) bertanya kepadanya, “Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah, besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!”

Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu” Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar iapun menjawab, “Aku Mau Mama Kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu Papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama Kembalilah!” demikian Zhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh harap.

Saya bisa lihat banyak pemirsa menitikkan air mata karena terharu, saya pun tidak menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya, mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit, mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, melihat katabelece yang dipegangnya semua akan membantunya. Sungguh saya tidak mengerti, tapi yang saya tahu apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku Mau Mama Kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.

Kita semua pasti pernah mengalaminya. Kerinduan yang amat sangat kepada Ibunda kita. Kita sering begitu dibuai dengan darah pubertas dan egoisme pemuda, hingga terkadang lupa bahwa kita telah menyakiti hati Ibunda kita. Terkadang teguran sepele bisa menjadi amarah yang dahsyat untuk beliau. Terkadang senyum pengertian kita balas dengan sikap seenak perut kita. Lalu, ketika kita salah pun kita terlalu malu untuk meminta maaf.

Hampir dua puluh tahun bukan, Ibunda kita mendidik kita. Maka mari kita sisihkan waktu sepuluh menit saja untuk berpikir apa yang telah kita lakukan untuk Ibunda. Hati saya sangat tersentuh, ketika membaca surat untuk Ayah-Bunda dari teman-teman angkatan 2007 ketika PKK MABA yang lalu. Semua mengingatkan saya pada Ayah-Bunda saya sendiri. Dan seketika itu juga penyesalan datang.

Membayangkan Bunda kita di rumah, mendidik adik-adik kita. Bekerja untuk membantu menopang keluarga. Atau aktif di lingkungan kerja Ayah untuk menjaga citra keluarga. Ketika kita di rumah, setelah beberapa waktu di kos, maka Bunda kita akan berpikir mau memasak apa untuk menyenangkan hati anakku yang tersayang ini. Tetapi ketika kita tidak cocok dengan masakan itu, kita dengan mudah naik darah.

Terkadang, kebersamaan dengan Ayah Bunda—bagi sahabat yang tidak merantau—bisa melunturkan kasih sayang kita. Atau mungkin bagi mereka yang merantau, mungkin kerinduan hanya bertahan beberapa bulan, lalu menghilang seiring kesibukan kita sebagai mahasiswa. Maka penting bagi kita untuk senantiasa me-refresh hati kita sehingga kerinduan, kasih sayang kepada Ayah Bunda tetap bertahan dalam hati kita.

Ketika kita di rumah, sempatkan untuk melihat lebih lama wajah Ayah Bunda kita. Menyadari semakin banyak kerutan disana akibat menanggung tanggung jawab yang luar biasa besar. Tapi pernahkah beliau menyalahkan kehadiran kita di kehidupan ini? Tidak. Beliau ikhlas melakukan apapun untuk menunaikan status kodratinya sebagai orang tua.

Pantaslah ada sebuah kata bijak, “Surga di telapak kaki Ibu.” Bahkan menurut saya, surga berada di seluruh tubuh Ibunda. Hanya sekarang apa yang dapat kita berikan untuk Ibunda kita?

Kepada sahabat semua, mari kita sisihkan waktu dan doa untuk Ayah Bunda kita. Apa yang pantas dari kita untuk Ayah Bunda kita?