Pernah kah kita selama menjalani praktik kedokteran, entah itu sebagai koass, atau bagi yang sudah dapat STR—sebagai dokter, menyembunyikan satu atau beberapa informasi dari pasien terutama terkait dengan kesalahan medis?

Hemm… pasti pernah!!

Saya yakin, sebagian besar dokter pernah melakukan hal tersebut, sengaja maupun tidak sengaja. Dan bahkan menyembunyikannya dari pasien… minimal melakukannya atas perintah seseorang yang lebih tinggi dalam hierarki kasta di RS.

Tentu saja, semua orang tidak ingin dianggap salah, atau disalahkan. Karena kita tahu, masyarakat sekarang semakin pragmatis. Setiap kesalahan yang terekspos akan divonis sebagai malpraktik, tanpa ada dasar yang kuat. Setiap pengacara bagaikan hiu yang siap mengendus bau darah dari bisikan-bisikan keluarga pasien. Setiap pengacara merapatkan barisan, siap menangguk keuntungan besar dalam setiap kasus malpraktik yang didapatkan. Sekali lagi, kadang tanpa dasar medis yang jelas.

Medscape Medical Ethics rupanya menangkap ini sebagai fenomena. Dan melakukan penelitian kecil dengan judul: ‘Some Worms Are Best Left in the Can’ — Should You Hide Medical Errors?

Dari sudut pandang etik, muncul sebuah pertanyaan, bila keluarga pasien tidak mengetahui kesalahan yang dibuat oleh dokter, haruskah dokter mengaku? Dan sejauh apa dokter menjaga kepercayaan dalam konteks hubungan dokter-pasien?

Dalam penelitian kecil ini, lebih dari 1000 responden yang merupakan dokter memberikan tanggapan yang bervariasi terhaap empat pertanyaan.


Mistakes That Don’t Harm Patients

Inilah pertanyaan pertama:

Are there times when it’s acceptable to cover up or avoid revealing a mistake if that mistake would not cause harm to the patient? (apakah ada kesempatan untuk diterimanya sebuah tindakan menutupi atau tidak mengungkapkan kesalahan jika kesalahan tersebut tidak membahayakan pasien?)

Professor Margaret R. Moon, MD, MPH, seorang pediatric dan juga anggota dari Johns Hopkins Berman Institute of Bioethics di Johns Hopkins University, juga termasuk di kubu yang menjawab ‘tidak’.

“Physicians have a duty to put the patient’s well-being first — specifically, before their own.”

Jika pasien tidak percaya dokter mampu melaksanakan tugasnya, maka hubungan dokter-pasien akan hancur berantakan. Beberapa yang menjawab “tidak” (19%) memiliki argumentasi sebagai berikut:

  • Menutup-nutupi itu tidak akan pernah berakhir baik.
  • Ingatlah karma yang akan berbalik pada kita (agak aneh mendengar argumentasi ini, terutama mengingat survey ini dilakukan di AS. Hehe… soalnya saya agak underestimate nih sama AS. Bisa juga mikir seperti ini.)
  • Jika kesalahan telah kita lakukan, pasien berhak untuk tahu. Jika obat yang salah telah diberikan, meski tidak berbahaya, kita wajib member tahu, meminta maaf, dan menerangkan tindakan perbaikan yang telah dilakukan. Hal ini penting demi kepentingan kita sendiri (dokter maksudnya… -red) di masa depan.

“If patients later learn that the truth has been kept from them, their trust will never be the same. Cover-up is worse than the mistake and has greater repercussions in the long run.”

Maka, yang menjawab “ya” (60%), memiliki alasan:

  • Jika ada kesalahan yang tidak memiliki efek medis.
  • Kenapa mengungkapkan sesuatu yang akan menyebabkan gangguan emosional yang lebih berat pada pasien—bukankah lebih baik tidak mengatakan apa-apa?
  • Tidak ada manfaat mengungkap kesalahan yang tidak ada konsekuensinya, seperti memberikan 650 mg Tylenol pada pasien, bukan 325 mg.
  • Mengapa menghancurkan kepercayaan pasien pada dokter untuk sesuatu yang mungkin tidak bermakna?

Beberapa berpendapat, segera setelah pasien mendengar sebuah kesalahan, mereka akan segera berpikir berbegai masalah yang sebenarnya tidak perlu mereka pikirkan seandainya mereka tidak mengetahui masalah tersebut.

“Some worms are best left in the can.”

Sementara, yang menjawab “tergantung” (21%) beranggapan bahwa kita sebagai dokter harus mampu memperkirakan bagaimana sebuah informasi tentang kesalahan—sekecil apapun—akan berefek pada pasien secara individual. Bila ternyata mengungkapkan kesalahan medis padahal tidak berbahaya, mengakibatkan kegelisahan yang tidak perlu pada pasien dalam menerima perawatan, buat apa?

“If the mistake would not cause harm to the patient and revealing the mistake would cause irreparable harm to the physician-patient relationship, the act of revealing the mistake needs to be considered carefully.”

“If a patient is a worry-about-everything type and the mistake absolutely would not cause any harm, I would consider not telling the patient. However, in most cases I am sure that being truthful is best in the end.”

Dua kutipan tersebut menggambarkan adanya sebuah proses pemikiran dan pertimbangan yang dalam terkait dengan pemaparan terjadinya kesalahan medis. Tidak saja dari segi etik, melainkan juga dari sisi humanism tentang beban yang ditanggung pasien dan keluarganya. Dalam dalam kutipan terakhir, disebutkan: being truthful is best in the end

Mistakes That Might Harm Patients

Inilah pertanyaan kedua:

Are there times when it’s acceptable to cover up or avoid revealing a mistake if that mistake would potentially or likely harm the patient? (apakah ada kesempatan untuk diterimanya sebuah tindakan menutupi atau tidak mengungkapkan kesalahan jika kesalahan tersebut berpotensi membahayakan pasien?)

 

Beberapa yang menjawab “ya” (1,6%) bertaruh dengan tetap tidak mengungkapkan kesalahan, tetapi mulai menghubungi pengacara (hemm…). Beberapa yang lain mengungkapkan:

“If the mistake has not progressed to harmfulness, then it’s essentially a non-issue. Treatment correction takes place and you move on.”

Sementara yang menjawab “tergantung” (3,5%) berargumentasi, bahwa semua tergantung pada kemungkinan respon pasien. Bila dikhawatirkan dengan pemberitahuan adanya kesalahan medis justru akan membuat pasien pulang paksa atau menolak perawatan—yang akan berujung pada kesehatan pasien yang buruk—maka keputusan untuk mengungkapkan kesalahan medis perlu dipikirkan kembali.

“If revealing the mistake won’t change the management and has not yet caused any harm, I think a ‘wait and see’ approach is okay.”

Lantas, mari kita simak argument dari mereka yang—mayoritas—menjawab “Tidak” (94,9%). Alasan ini bervariasi, namun dapat disimpulkan pada tiga poin di bawah ini:

  • Pasien berhak tahu apa yang salah dengan perawatannya.
  • Memang akan memalukan, tetapi lebih baik daripada kemungkinan kerugian yang didapatkan bila ini dipermasalahkan di masa depan.
  • Sekali kita tidak jujur, maka sebaiknya kita berhenti menjadi dokter.

“Once a mistake is discovered it must be revealed, root cause analysis performed, and patient informed of the mistake, its consequences if any, and plans to prevent a recurrence.”

Dr. Moon sepakat, bahwa bila kesalahan tersebut membahayakan, maka kita harus segera mengungkapkannya pada pasien. Beberapa dokter memang lebih suka menyembunyikan atau wait and see, tapi kita juga harus memikirkan pasien, kan? Terutama bila kesalahan klinis yang mempengaruhi badan pasien.

Kesalahan harus diungkapkan, karena kita juga harus mempersiapkan pasien untuk konsekuensi kesalahan yang kita buat. Dan kesalahan itu menjadi sebuah pelajaran bagi kita semua, agar tidak mengulangi. Hukuman itu wajar, dan harus sewajarnya. Karena bila hukuman terlalu berat, maka yang akan terjadi di masa datang adalah tend to hide. Saat itu, kesalahan akan menjadi gong perang demi menyelamatkan diri sendiri agar tidak dihukum. Tidak lagi menjadi pelajaran.

Sesungguhnya, pasien memiliki toleransi yang cukup baik terhadap kesalahan medis. Coba kita perhatikan, sebenarnya pasien kita cukup menyadari bahwa kesehatan itu milik Tuhan. Dan kita—dokter—hanya perantara Tuhan dalam melaksanakan pengobatan dan perawatan.

“Medicine is complicated and hard, and mistakes happen. It’s in no one’s best interests to pretend otherwise. Accepting mistakes is part of clinical practice, and dealing with them honestly and openly is of great benefit to the doctor-patient relationship and the therapeutic alliance.”

Physicians’ Casual Chats Could Betray Relationship

Inilah pertanyaan ketiga:

Would doctors discuss patient information in situations that did not fully protect patient privacy, ie, socially or in conversation with doctors unrelated to patient’s care? (bolehkah dokter mendiskusikan informasi pasien dimana situasinya tidak melindungi privasi pasien, seperti percakapan social dengan dokter yang tidak terkait dengan perawatan pasien?)

 

Bagi dokter yang menjawab “iya” (8,4%) mengaku tidak tahan godaan untuk tidak bercerita bila mereka mendapatkan pasien seorang artis (narsis. Hehe…). Beberapa yang lain memiliki argumentasi, bahwa diskusi kasus itu lebih penting daripada privasi pasien.

“there are potential emergent issues that require some degree of disclosure immediately, eg, needle sticks involving blood-borne contagious diseases.”

Banyak responden yang berargumen untuk melindungi kebutuhan mereka dalam berdiskusi dengan dokter lain. Mereka mengatakan tentang perawatan yang optimal bila kita bisa berdiskusi, mendapatkan second opinion tentang pasien kita. Asal kita tidak menyebut identitas pasien.

“the best ongoing CME we have — as long as privacy is upheld.”

Meskipun saya berpendapat, bahwa mungkin di kota besar seperti Malang tidak akan masalah. Tetapi bisakah kita menyembunyikan nama bila kita bertugas di kota kecil yang sebagian penduduknya saling mengenal, tidak hanya nama, tapi juga cirri khas masing-masing?

“Physicians tell physicians funny stories about patients every day. Usually names are not important,” and “This kind of connecting with others and defusing workday tensions keeps us alive and functioning and — to some extent — prevents burnout.”

Physician-Patient Confidentiality Has Limits

Inilah pertanyaan keempat:

Is it ever acceptable to break patient confidentiality if you know that a patient’s health condition may be harming others (ie, a patient with HIV or sexually transmitted disease who does not inform their spouse or partner)? (apakah diperbolehkan melanggar kerahasiaan pasien jika kita tahu kondisi kesehatan seorang pasien mungkin berbahaya bagi orang lain [contoh, seorang pasien dengan HIV atau penyakit menular seksual yang tidak memberi tahu istrinya atau pasangannya]?)

 

Physician-patient confidentiality is absolute — except when it isn’t. An oft-cited illustration of the rare need to breach this boundary is when a patient is a danger to others.

Bagi yang menjawab “ya” (53,3%), menyebutkan tentang tugas dokter untuk mengingatkan. Memang, hak kerahasiaan pasien itu ada. Dan harus kita jaga. Tetapi selama hak tersebut tidak melanggar hak manusia yang lain. Hak manusia lain untuk sehat bisa terancam dengan tidak kita beritahukan terkait dengan kondisi pasien. Itu adalah tanggung jawab moral.

Sementara yang menjawab “tidak” (20,1%), mengatakan bahwa ia harus berdiskusi terlebih dahulu dengan pasien, komite etik di Rumah Sakit, dan pengacara untuk mendapatkan kepastian hokum atas tindakannya.

Sedang yang menjawab “tergantung” (26,7%), berargumen bahwa kita harus memiliki hubungan yang cukup dekat dengan pasangan pasien untuk memberitahukan kondisi pasien.

“If I had no relationship with the spouse at all I would not break the confidentiality in any way.”

Dr. Moon mengatakan bahwa tanggung jawab tugas kita sebagai dokter hanya sebatas kepada mereka yang memiliki hubungan dokter-pasien dengan kita. Namun, bila kita mengetahui pasien dengan HIV dan tidak mengungkapkan kepada orang terdekatnya, itu akan mengubah prioritas tanggung jawab kita.

Maka, langkah awal kita adalah mencari tahu, apa alas an pasien tidak member tahu orang terdekatnya, tentang penyakitnya? Hal ini penting, karena pengungkapan apapun dari kita sebagai dokter harus dilakukan dengan alasan yang khusus dan special, dengan koridor terapeutik. Misalkan, kita berharap dengan orang terdekat pasien mengetahui tentang penyakit pasien, mereka akan membantu memberi dukungan moral sehingga pasien lebih rutin berobat.

Tentu saja, bila kita bisa mendorong, akan lebih baik pasien sendiri yang member tahu orang terdekatnya. Saya rasa dengan komunikasi yang baik dari dokter, pasien akan mengerti tentang pentingnya hal ini.

The rules of bioethics call for respecting autonomy, promoting well-being, and avoiding harm. Manifesting these imperatives in a doctor-patient situation requires the virtues that we expect of physicians—the capacity to put the patient’s well-being first, to respect people as humans who need to make rational choices about their own lives, the capacity for honesty, and the courage to do the right thing.