”Lingkungan? Apa yang akan kita bicarakan tentang lingkungan? Lihat apa yang tersisa dari seonggok manifestasi dari kata lingkungan!!” sahut salah seorang sahabat saya ketika saya mintai pendapat tentang lingkungan.

***

saya adalah saksi mata betapa pembangunan yang bersifat ekonomis–menghasilkan uang–menjadi raja.

Kota Malang yang dulu punya semangat “Malang Ijo Royo-Royo”, kini diplesetkan menjadi “Malang Ijo Ruko-Ruko”. Semua Lahan Hijau dibabat habis, menjadi Ruko. Semua diukur berdasarkan produktivitasnya.

Universitas Brawijaya pun tidak ingin tertinggal. Semua pohon dibabat diganti pohon palem. Dengan alasan yang terkadang membuat alis saya terangkat.

***

Indonesia, baru saja menjadi tuan rumah sebuah konferensi internasional. United Nations Framework Convention on Climate Change 2007 (UNFCCC 2007) yang dilaksanakan di Nusa Dua, Bali, merupakan sebuah konferensi untuk menetapkan kerangka kerja PBB untuk perubahan iklim global.

Sebuah judul konferensi yang luar bisa bagus, bukan? Apalagi dibumbui oleh sepasukan pe-sepeda yang naik sepeda angin dari Jakarta ke Nusa Dua demi menunjukkan kemeriahan acara tersebut, meskipun setelah itu para pe-sepeda itu pulang dengan status pe-pesawat alias naik pesawat terbang.

Ironi itulah gambaran nyata Indonesia dari semua kondisi yang ada sekarang. Semua pihak menentang global warming, tapi di rumah, ada lima AC yang siap menghilangkan peluh. Semua menentang banyaknya emisi yang dihasilkan, tetapi mobil selalu mengiringi kemanapun mereka pergi. Bahkan ketika pemerintah akan mengurangi pasokan premium bersubsidi dengan oktan 88, mereka berada di garda terdepan menolak kebijakan tersebut.

Pemerintah berkoar-koar hentikan pemanasan global. Tetapi pembalakan liar semakin liar. Indonesia menggebrak dengan ide REDD (Reduced Emission from Deforestasi and Degradation). Tetapi di Medan, pembalak liar kelas hiu dibebaskan oleh pengadilan Indonesia.

Indonesia merupakan negara dengan lahan hijau terluas di dunia. Semua tahu. Tetapi kita juga memiliki rekor penyusutan hutan terluas di dunia. Bahkan kabarnya penyusutan luas hutan di Indonesia akan dimasukkan ke Guiness Book of World Record. Lho, kok bisa? Jawabannya ada pada manusianya.

Willi Hoffsuemmer pernah menyampaikan cerita tentang Smith dan gurunya. Suatu ketika, Smith ini bertanya kepada gurunya sambil melihat teman-temannya bermain. ‘Kenapa ada saat ketika orang ingin bahagia, tetapi tidak bahagia?’ guru itu menjawab, ‘Bukankah teman-temanmu itu bahagia?’

‘Tentu saja!! Mereka hanya bermain.’ Jawab Smith keheranan. ‘Tapi tahukah kau Smith, ada yang bisa membuat mereka menjadi tidak bahagia dalam sekejap? Dan itu dialami sebagian besar orang?’ tanya Sang Guru sambil mengeluarkan segenggam uang logam dan melemparkannya di tengah anak-anak itu. Dalam sekejap mereka berebut uang itu.

‘Apa mereka tampak bahagia sekarang?’

‘Em… ya. Ah, tidak! Ada yang berkelahi karena tidak dapat bagian!!’

‘Apa yang membuat mereka berkelahi?’

‘Ketamakan!!’

‘Bagus, kamu telah mendapatkan jawabannya sendiri.’ Sahut Sang Guru tersenyum.

Jadi poin penting dari masalah lingkungan Indonesia adalah ketamakan. Dan sesungguhnya ketamakan itu menyelam jauh lebih dalam dari yang kita bayangkan. Karena ketamakan itu memiliki banyak bentuk siluman. Salah satunya, ia akan berubah menjadi ‘ketidakpedulian’ ketika berhadapan dengan kesengsaraan. Lihat saja, berapa kilo sampah yang tersisa di ruang-ruang kuliah FKUB kita yang tercinta ini hanya karena mahasiswanya malas membuang sampah di depan kelas?

Kita lihat kenyataan yang ada. Sawah-sawah dibangun rumah-toko. Ladang berganti perkantoran. Hutan menjadi pabrik. Pesisir sungai lenyap, muncul kawasan bisnis. Pegunungan hijau melesak, tumbuh villa dan resor mewah.

Sahabat, bukan pembangunan gila-gilaan yang kita butuhkan, bukan pula kemajuan liar. Tapi perkembangan yang manusiawi dan alamiah. Prof. John Rennie Short dalam buku Urban Theory, A Critical Assessment (2006) mengungkapkan kekurangpekaan para pengelola kota negara berkembang atas masalah lingkungan bisa memunculkan ‘wounded cities’ atau ‘kota-kota yang terluka’. Kita harus berelasi dengan alam dan mengalahkan egosentrisme kita sendiri.

Maka hadapilah perkembangan zaman kita sebagai tantangan egosentrisme manusia. Bukan sebagai momentum kehilangan harmoni dengan alam (Goei Tiong Ann Jr., Jawa Pos 4 Januari 2008). Rasanya masih teringat, tepat 1 Januari 2008, berita pagi menyiarkan adanya banjir di Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Sidoarjo, bahkan Malang. Malang!! Sebuah kota yang kita sepakati dari sisi geografis, tidak akan pernah tersentuh banjir. Maka, ketika kondisi suprasistem (baca: pemerintah) tidak bisa mengubah keadaan, semua kembali kepada individu manusianya.

Sayang sekali, manusia Indonesia lebih tertarik menjadi manusia modern seperti yang kita saksikan di layar kaca. Penuh dengan keinginan untuk memiliki. Menurut E. F Schumacher dalam bukunya Small is Beautiful, menulis ‘manusia modern tidak menghayati kehidupannya sebagai bagian dari alam, tetapi sebagai kekuatan luar yang menguasai dan menaklukkan alam. Manusia berbicara mengenai perjuangan melawan alam, karena dia lupa seandainya dia menang dalam perjuangan, maka dia sesungguhnya juga berada di pihak yang kalah’.

Sebagai penutup, cerita mitologi Yunani tentang Erisychton (baca: Er-is-ya-thon) mungkin bisa membuat kita lebih termotivasi. Erisychton adalah saudagar kaya yang tamak. Dalam ketamakannya itu, dia berani menebang pohon suci dewa-dewi. Akhirnya Zeus, Ketua para Dewa mengutuknya. ‘Dia akan didera rasa lapar yang tidak akan pernah ada puasnya’.

Lalu, ia mulai kelaparan dan memakan persediaan makanannya. Karena belum puas, ia makan anak istrinya juga. Lalu akhirnya karena tidak ada yang dimakan, akhirnya ia memakan dirinya sendiri.

Lingkungan kita tidak bisa menjerit. Ia tidak dapat menangis. Ketika manusia menjadi semakin tamak dan rakus, menganiaya lingkungan, dan tidak mampu berelasi dengannya, maka kita menjelma menjadi monster yang menghabisi diri kita sendiri.

Namun harapan kita semua, semoga bangsa kita tidak menjadi monster yang sama.