Teman-teman semua, sering kita merasa bosan dengan rutinitas kita. Sering kita merasa jenuh belajar. Kenapa? Karena kita memang jenuh. Kita telah lama berada di zona nyaman, kursi yang empuk, rumah yang nyaman, kendaraan yang siap sedia, dan orang tua yang baik nan perhatian.  Semua kenyamanan membuat kita malah membuat kita malas belajar.

Kali ini, kita akan belajar sebuah pelajaran hidup, Teman. Pelajaran dari seorang sahabat saya. Pelajaran tentang sebuah keadaan yang teman-teman mungkin akan pelajari di kampus, tapi kali ini dari sebuah sudut pandang yang berbeda. Pelajaran dari seseorang yang membenci mahasiswa yang justru bermalas-malasan padahal hidup mereka nyaman. Pelajaran yang akan mengingatkan kita bahwa dunia ini tidak hanya berisi kenyamanan, tapi sebuah perjuangan.

Hari itu, hari perjanjian kami, udara cukup menyenangkan. Tidak panas namun juga tidak hujan. Saya memang bersahabat dengan sumber kita kali ini. Kita sebut saja Stroberi. Saya bersahabat dengan Stroberi mulai SMP hingga SMA. Lalu mulai semester kedua kelas satu SMA, saya meneruskan studi di Malang. Hingga kini, kami sama-sama kuliah di Universitas Brawijaya meskipun berbeda fakultas, kami beberapa kali meluangkan waktu untuk saling bertemu.

“Bagaimana cerita awalnya, Stroberi, hingga Stroberi sampai pada kondisi seperti ini?”

“Awalnya? Sebenarnya prosesnya sudah dimulai ketika aku SD. Waktu itu ada sebuah perasaan kalau ternyata emosiku ini tidak terkontrol. Aku punya masalah-masalah di sekolah, tapi tidak pernah aku ceritakan di rumah. Di rumah aku selalu jadi anak baik. Tapi ya itu tadi, aku sudah merasakan ada yang berbeda dengan jiwaku. Tapi karena prestasiku di sekolah selalu baik, jadi orang tua tidak curiga.”

Lalu, kelanjutan cerita ketika SMP? Apakah masih merasakan sensasi yang sama?

“Masa SMP justru semakin mencekam.” Jawabnya sambil menerawang. Kok bisa? Padahal yang saya tahu, Stroberi ketika SMP adalah sosok yang paling ceria, menyenangkan, dan sangat bersahabat. Tapi?

“Memang, dari luar aku baik-baik saja. tapi sering ada suara-suara yang mengolok-olok aku. Munafik, licik, sombong dan sebagainya. Bahkan ketika aku ngobrol dengan kalian pun, bisikan itu selalu ada.”

Jujur, saya terbelalak kaget. Bayangan saya tentang seorang gadis berseragam SMP yang saya kenal sebagai Stroberi perlahan-lahan hadir dan memutar kenangan. Ketika itu, tidak akan ada yang menyangkal bahwa Stroberi adalah siswi yang istimewa. Pandai, ceria, semua kegiatan diikuti, pramuka, OSIS, bahkan PMR pun tidak luput digiatinya.

“Yah, kegiatan memang tidak berhenti. Tapi mungkin itu justru jadi bisa mengalihkan aku meskipun aku masih tidak sadar kalau aku sakit. Sering melamun, imajinasiku melayang-layang. Apalagi kondisi di rumah juga jadi tekanan buatku.”

“Loh, bukannya bapak ibu Stroberi adalah orang tua yang perhatian?” tanyaku.

“Bapak ibu memang perhatian, tapi sifat bapak yang koleris-melankolis perfeksionis membuat keberadaanku di rumah seperti dituntut untuk selalu sempurna. Ketika bersih-bersih rumah, ada yang tidak beres sedikit, langsung bentak-bentak. Aku yang memang melankolis jadi sangat tertekan. Apalagi aku memang memiliki riwayat genetik untuk sakit ini.

“Selain itu, kesenanganku terhadap seni sastra tidak sejalan dengan keinginan orang tua agar aku lebih fokus di sains. Tekanan demi tekanan, aku yang tidak boleh menjadi diriku membuat aku akhirnya melupakan agamaku.” Ceritanya pedih.

Aku tersentak. Ya, putaran kenangan itu rupanya berlanjut sambil Stroberi bercerita. “Lalu, bagaimana kisah masa SMA Stroberi? Katanya Stroberi sempat ijin sekolah sampai berbulan-bulan.” Tanyaku ingin tahu. Hal ini memang karena masa SMA adalah missing link atau blankspot kenangan saya dengan Stroberi.

“Masa SMA awalnya cukup menyenangkan. Bahkan di semester pertama aku sudah aktif di berbagai kegiatan seperti ekskul bahasa Jepang, English Club dan sebagainya. Prestasi akademik juga lumayan.

“Namun memasuki semester kedua, akhirnya pertahananku terhadap tekanan-tekanan yang tadi kuceritakan runtuh. Sikap orang tua dengan perfeksionismenya, ketidakbolehanku untuk menjadi diriku sendiri membuat aku lepas kontrol. Suara-suara menakutkan itu datang lagi. Bahkan lebih parah. Suara-suara itu mengatakan bahwa Allah itu bukan Tuhanku.” Jawabnya sambil mengenang.

“Puncaknya ketika ada kenalanku yang bercerita Syekh Siti Jenar, entah kenapa aku begitu terpengaruh. Aku sempat baca doanya. Akhirnya aku benar-benar lumpuh. Bukan lumpuh fisik, tapi aku tidak menjadi tidak tahu caranya belajar, tidak tahu caranya sholat, setiap hari aku tidak tahu mau apa. Yang jelas aku selalu merasa sendiri. Aku merasa sahabat-sahabatku meninggalkanku.” Ujarnya sambil bercerita sambil menggodaku.

aahh… sahabatku ini masih saja sempat menggodaku. Tapi meman, ketika itu, meskipun kami merasa kehilangan Stroberi, kami tidak bisa melakukan apa-apa. Keadaan Stroberi membuat orang tuanya sedikit protektif dan akses ke sahabat kami ini mejadi tertutup.

“Hehehe… nggak apa-apa. Aku mengerti kok. Aku yakin kalian mengkhawatirkan aku meskipun itu tidak kalian tunjukkan. Seperti kata Kahlil Gibran, sahabat adalah kebutuhan jiwa yang harus terpenuhi. Dialah ladang hati yang kau tanami dengan kasih dan kau panen dengan rasa terima kasih. Aku tidak perlu terlalu menuntut meski kecewa, tapi aku yakin kalian memikirkan aku.”

Aku memandang wajah sahabatku dengan pandangan terharu. Sungguh Teman, memaafkan itu sangat sulit. Saya yakin perlu kebajikan berbeda untuk memaafkan kami yang justru tidak ada disana ketika ia membutuhkan sahabat-sahabatnya.

“Aku akhirnya ijin sekolah berbulan-bulan. Aku diajak berobat ke psikolog mana saja. akhirnya muncul diagnosis itu dari sebuah psikiater. Ya. Orang tuaku lemas mendengarnya. Aku menderita skizoprenia.” Lanjutnya pedih.

“Tapi aku rajin berobat. Dan akhirnya berangsur-angsur aku sembuh. Aku berusaha untuk masuk sekolah lagi. Aku tertinggal jauh. Dan sedikit demi sedikit, aku mulai tertekan dengan ketertinggalanku. Mungkin karena sedari kecil aku tidak terbiasa dengan kondisi tertinggal. Hal yang paling membuatku shock adalah ujian bahasa Inggrisku dapat nilai 5. akhirnya aku memutuskan keluar dan melanjutkan di SMA negeri lain.” Ucapnya sedih.

“Di SMA baru aku memulai semuanya dari awal. Siksaan dan tekanan tetap ada. Teman-teman tidak lagi sekedar berbisik, tapi berbicara pun mereka tidak sungkan. Ada yang bilang stres. Dan yang hingga kini selalu ada, di kampus kita ini, anggapan bahwa aku ikut Islam garis keras. Aku sedih luar biasa. Tapi aku tetap fight. Aku terpilih sebagai siswa berprestasi. Aku memenangkan lomba-lomba bahasa Inggris. Bahkan ikut AFS meskipun gagal karena aku sempat tidak jujur dengan membuat surat keterangan sehat palsu tanpa keterangan skizoprenia.”

Aku benar-benar kehabisan kata-kata teman. Sungguh perjuangan yang tidak mudah, teman. Ketika kita mungkin menikmati masa terindah dalam masa-masa SMA, Stroberi justru melewati SMA penuh dengan penuh tekanan. “Tentu saja. Perjuangan yang paling berat adalah menerima bahwa aku adalah penderita skizoprenia. Rasa tidak terima itu begitu besar sehingga membuatku tidak kunjung sembuh dalam waktu yang lama.”

Lalu, bagaimana kehidupan Stroberi setelah kuliah? Senang bukan karena ternyata Stroberi mampu menembus kampus kita ini lewat PMDK. Ya, bukankah Stroberi berhasil membuktikan dirinya sebenarnya mampu dalam bidang akademis.

“Senang luar biasa. Aku berhasil masuk lewat PMDK!! Tapi setelah menjalani kehidupan mahasiswa, ternyata dunia inipun membuat aku tertekan.” Tanggapnya atas komentar saya. Tapi, kok bisa?

“Aku kecewa dengan mahasiswa. Kita sekarang hanya mahasiswa yang terlalu idealis tapi tidak realistis. Ospek menjadi ajang ketidakmanusiawian bersembunyi di balik dalih pembinaan.” Ujarnya. Memang, dalam hal ini kami sepakat bahwa mahasiswa sudah berubah. Semua tahap pembinaan hanya meringkuk di balik alasan penciptaan sikap kritis, dan berani. Mereka ingin semuanya terbentuk secara instan. Bahkan untuk pembinaan religiusitas.

“Ketika kita ingin seseorang berubah, maka sentuhlah hatinya. Bukan dengan cara diberi kewajiban menghadiri pertemuan-pertemuan yang berisi nasihat.” Ujarnya gamblang. “Aku juga muak dengan kondisi politik mahasiswa. Ketika pemilwa, semua gontok-gontokan. Kalau ingin memajukan fakultas, maka bersatulah. Semua demi kepentingan fakultas. Tidak perlu membawa bendera yang lain selain bendera fakultas.”

Tekanan-tekanan baru ini rupanya menjadi pemicu bagi penyakit Stroberi. Ditambah dengan lingkungan yang sering memandang berbeda terhadap dirinya. Stroberi yang terbiasa riang, menyapa sana-menyapa sini mendapat tanggapan yang membuat dirinya bingung dan semakin tertekan. Hingga akhirnya kini penyakitnya sering kambuh.

“Kemarin-kemarin, aku seperti menjadi John Nash (A Beautiful Mind). Banyak halusinasi delusi yang aku alami. Contohnya, ketika aku ingin curhat dengan si A, maka tiba-tiba aku merasa A ada disini dan aku curhat dengannya. Ketika aku konfirmasi dengan si A, ia tidak merasa pernah mendengar curhat-ku.”

Sungguh, ketika saya belajar skizoprenia, teman, saya tidak menyangka bahwa inilah yang kita akan hadapi. Betapa sulitnya hidup sebagai penderita skizoprenia. Sedikit tekanan, bisa berimbas dengan sangat tidak menyenangkan. Untuk menerima keadaan dirinya saja, membutuhkan perjuangan. Lalu kini, seolah belum puas, dunia mahasiswa juga masih memberikan tekanan-tekanan. Lalu apa yang membuat Stroberi mampu bertahan hingga kini?

“Kasih sayang Ibu.” Jawabnya singkat dengan pandangan menerawang.

Lalu apa pesan Stroberi kepada teman-teman sekalian?

“Orang gila itu adalah sebuah keunikan berpikir. Karena itu kegilaan itu harus ada dalam masyarakat untuk mendobrak kemajuan dengan batas-batas tertentu. Maka perlakukan setiap penderita skizoprenia dengan wajar. Beri kasih sayang yang membuat ia lebih mandiri. Misalkan ia memecahkan piring, jangan marah-marah. Bantu ia membereskan pecahan piring dan ia akan belajar.

“Ada 1,5 juta penderita skizoprenia hanya di Amerika Serikat. Di salah satu kota di Jatim, penderita skizoprenia disuruh menebak togel. Padahal mereka tidak bisa hidup tanpa obat. Sikap-sikap seperti ini benar-benar membuatku trenyuh dan ingin melakukan sesuatu.”

Teman, begitulah perjuangan salah satu sahabat kita sebagai penderita skizoprenia. Sungguh perjuangan yang amat berat. Yang ia hadapi bukan hanya lingkungan, tapi dirinya sendiri. Dan tanpa bermaksud mengintimidasi siapapun, IPK-nya saat ini sudah lebih dari 3,5. bagaimana dengan teman-teman semua?