Hemm… sebenarnya judul ini termasuk judul yang aneh… sebenarnya saya ingin membuat judul yang terinspirasi oleh salah satu tulisan dari blog dokter…

The Wounded Healer

Dalam sebuah mitos Yunani, pernahkah kita mendengar tentang Chiron?

Yup, Chiron adalah centaur (makhluk setengah manusia-setengah kuda) yang menurut kisah, paling bijaksana. Cerita Chiron dapat dibaca di Sekilas tentang Chiron.

Suatu ketika, Chiron ini terluka oleh sebuah busur panah dari Hercules. Busur panah beracun ini, membuat Chiron yang abadi ini menjadi tersiksa luar biasa sepanjang hidupnya.

Maka terciptalah Legenda The Wounded Healer ini.

Carl Jung, berdasarkan pola dasar tentang The Wounded Healer ini menyatakan:

“The doctor is effective only when he himself is affected. Only the wounded physician heals.”

Siapakah The Wounded Healer? Ia adalah orang yang telah melalui penderitaan dan menjadi sebuah hasil dari proses kebijaksanaan agung. Kekuatan penyembuhan dan inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya. The Wounded Healer mengalami sebuah transformasi yang luar biasa akibat lukanya, yang membawa dirinya menjalani sebuah jalan panjang seorang Penyembuh.

Lantas, apakah kita semua harus terluka baru menjadi penyembuh?

Hemm… menarik bukan? Apakah saya seorang The Wounded Healer? Bukan. Rasanya bukan. Terluka—mungkin iya. Seorang penyembuh—hemm… tidak. Belum. Beberapa menganut paham doctor is art. Ilmu kedokteran memang science, tapi dokter itu sendiri adalah seniman. Maka, saya mungkin lebih cenderung pada: dokter itu adalah keseimbangan yang menarik antara ilmuwan yang baik, dan penyembuh yang baik. a well educated scientist and an empathetic healer.

Maka tidak harus terluka untuk menjadi penyembuh yang baik. Namun, saya rasa, keterlukaan itu menimbulkan semangat juang untuk selalu menjadi lebih baik. Memahami kesakitan itu, dari sudut pandang si sakit, akan menjadikan kita menjadi dokter yang lebih baik.

Konsep The Wounded Healer mungkin sering kita temukan pada kelompok penderita penyakit tertentu, seperti perkumpulan penderita SLE, atau perkumpulan penderita AIDS. Mereka saling berbagi penderitaan, dan dalam banyak hal, secara luar biasa meningkatkan perjalanan penyakit itu sendiri.

Di dunia, kita mengenal Christopher Reeve, pemeran ‘Superman’ yang mengalami paralisis, namun perjuangannya dalam melawan penyakitnya luar biasa mengispirasi, dan penelitian yang diprakarsai beliau untuk menyembuhkan paralisis spinal.

Begitu juga dengan Lance Armstrong, yang kini mendirikan The Lance Armstrong Foundation dalam rangka berbagi semangat untuk tetap berjuang melawan kanker. Hal ini setelah Lance sendiri divonis menderita kanker testis stadium akhir, justru ketika ia mencicipi gemilangnya karir balap sepedanya.

Dalam pendidikan kedokteran, The Wounded Healer ini muncul dalam banyak bentuk. Seperti seorang teman yang ingin menjadi SpPD-konsultan Geriatri, karena ia sedih melihat ayahnya sakit-sakitan. Ada juga, teman yang ingin menjadi SpOG karena urung memiliki kakak, karena saat ibunya akan melahirkan kakaknya, sang dokter kandungan justru sedang seminar, tidak ada pendelegasian pasien.

Bagi mereka yang pernah mengalami penderitaan anorexia, maka ia akan lebih peka terhadap pasien dengan masalah yang sama. Proses perjuangan sang dokter untuk sembuh itu akan menjadi sesi cerita tersendiri bagi pasiennya, dan menginspirasi.

The doctor is effective only when he himself is affected. Only the wounded physician heals. But when the doctor wears his personality like a coat of armor, he has no effect.

Carl Jung: Wounded Healer of the Soul

Pertanyaan yang saya lontarkan di akhir tulisan ini adalah: bagaimana dengan kita yang tidak memiliki ‘luka’?

Pertanyaan itu tersembunyi dalam bilik hati kita. Dimana hati kita ‘seharusnya’ terasah untuk lebih peka terhadap penderitaan pasien, selama pendadaran kita sebagai dokter muda.

Atau justru kita mengalami desensitisasi? Hanya mengasah logika, dan—sekaligus—menipiskan emosi. Entahlah.

Kita, masing-masing, memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menghadapi dan memecahkan masalah kita, kesakitan kita. Dan alangkah indahnya bila kita bisa berbagi.