ini adalah kutipan dengan perubahan dari blog sahabat saya, fitri, yang sekarang mungkin saya panggil dr. fitri, dari FKUGM,, silakan menikmati,,

Sering kita merasa puas, ketika sudah sampai pada satu tahap yang kita impikan. Tanpa memikirkan lagi langkah apa yang selanjutnya yang dapat kita lakukan untuk dapat survive di masa depan. Suatu ketika, dosen menyapa kami
mahasiswanya dengan sangat sederhana, “Selamat pagi, para calon pengangguran…”

Walah, kebetulan saat itu, kami sedang tidak serius-seriusnya. Jadi kami tidak menanggapi dengan serius. Ada yang bengong karena mungkin masih melayang-layang di dunia angan. Ada yang semakin menggila ngobrol. Ada yang sudah menyiapkan buku. Namun, lain halnya dengan saya dan beberapa teman. Kami sempat mendiskusikannya setelah kuliah. Masalahnya, ‘masalah’ ini sifatnya kronis, dan banyak manusia yang sudah terjerumus ke dalam lingkaran setan. Lingkaran setan apa?

Ya, di Indonesia, sedang terjebak dalam lingkaran setan yang sudah berjalan bertahun-tahun. Memutus rantai lingkaran setan inilah yang menjadi tujuan kita sebagai generasi muda.

Nah, dimanakah posisi kita? Coba renungkan kata-kata dosen tadi. Pengangguran?? “Dokter, kok pengangguran?”. “Ah, nggak mungkin.”. “Yah, kita kan tenaga kesehatan, selama masih ada orang yang sakit, ya nggak mungkin nganggur.”.

Atau, mungkin kita pernah sedikit saja merasa,
“Aku anak FK lho… Brawijaya lagi. Kamu fakultas apa?”. Atau bahkan yang lebih
menyedihkan, “Aku jurusan A, kamu jurusan B aja kok coba-coba bicara. Ngerti apa?”

Yah, di sanalah kita. Tidak bisa dipungkiri, sebagian besar mahasiswa yang berhasil tembus jurusan atau fakultas favorit, di universitas favorit pula. Kita sering lupa untuk tetap down to earth. Kita merasa paling pinter, paling hebat, dan merasa ‘inilah aku’, dan masa depan kita terjamin. Apalagi, kebanyakan anak kecil kalau kita tanya, ‘mau jadi apa, dik?’ pasti jawabannya menyenangkan dan membesarkan hati kita. Atau, mungkin ditanya para orang tua, ‘semoga anak saya jadi dokter, atau minimal dapet dokter.”

Semoga apa yang kita baca di atas, tidak membuat kita terlena. Mari kita bermain hitung-hitungan. Jika kampus kita tiap angkatan rata-rata 160 mahasiswa dan seluruh Indonesia ada 50 universitas, maka satu tahun, 160 x 50 = 8000 dokter lulus. Luar biasa bukan? Bayangkan saya, anda, kita merupakan satu dari 8000 dokter, dan kita tidak punya apa-apa untuk bersaing. Kita pandai patologi anatomi, semua juga bisa. Kita pintar di parasit, semua juga bisa. Kenapa? Karena semua itu bisa dipelajari.

Bukankah pasien yang terhormat itu guru tersayang kita? Maka setiap menghadapi pasien
kita belajar.

Lalu apa yang membedakan ke-8000 dokter tadi? Ya, skill dan ketrampilan. Skill, sekali lagi bisa kita pelajari. Ketrampilan?
Itulah gunanya softskill. Kita belajar cara menghadapi manusia, kita belajar berkomunikasi, kita belajar memanajemen diri dan masyarakat. Kenapa? Karena kita adalah agent of change. Di pundak kitalah, tanggung jawab mengubah dan memutus lingkaran setan itu berada.

So, kata sahabat saya di UGM, doctor is just nothing without many things.
Kita bukan apa-apa tanpa knowledge, kita bukan siapa-siapa tanpa pasien. Dan kita hanya kita yang biasa tanpa softskill.

Jadi jangan berhenti sahabat semua. Kita memang sudah menjadi mahasiswa kedokteran, tapi semakin banyak tugas yang menanti. Semakin tinggi pohon, semakin berat tanggung jawab yang diemban, bukan?

Untuk adik-adik angkatan, beruntunglah karena masih banyak waktu untuk berubah. Belajar yang rajin yah. Tapi juga jangan lupa berorganisasilah. Karena di sana akan kita dapatkan ilmu yang tidak akan pernah kita dapatkan di bangku kuliah.

Untuk teman-teman angkatan yang sudah ko-ass,
jangan lupa berbagi dengan adik-adik angkatan kita,,

janganlah menjadi pribadi yang justru menjadi lebih egois dengan keilmuan kita sekarang,,

Sebagai penutup, ada kisah ketika seorang dokter
yang salah prosedur memasang Endotracheal Tube yang kebablasan masuk ke bronkus kanan. Paru kanan pneumothoraks, paru kiri lumpuh total. Dan akhirnya pasien tersebut meninggal. Yang membuat miris,
ketika keluarga pasien diberitahu, reaksinya, “Tidak apa-apa dok. terimakasih dokter sudah berusaha sekuat tenaga. Semoga Dokter mendapatkan balasan sesuai
amal anda…”

That
means,,