Huwah, nikmatnya angin Blitar. Blitar? Ya, sudah menjadi ritual tersendiri bagi saya untuk ’pulang’ ke Blitar setiap lebaran.
Sejuknya udara Blitar, lengangnya jalan-jalan utama, lezatnya nasi pecel khas
Blitar, dan hangatnya sambutan sahabat-sahabat membuat saya sejenak melupakan hiruk-pikuk Malang yang menyesakkan dada.

Seperti biasa, agenda setiap kemanapun saya pergi adalah wisata kuliner. Malam itu saya dan sahabat saya mencoba ke pedagang kaki lima yang belum pernah kami coba. Disana kami mendengar lantunan lagu yang pasti teman-teman tidak asing.

O, o,, kamu ketahuan,,

Pacaran lagi,, dengan
dirinya,, teman baikku

Kami tersenyum kecut. Karena yang menyanyikan lagu itu adalah seorang anak perempuan yang berumur 3-4 tahun!! Luar biasa bukan?
Akhirnya, selama makan kami habiskan untuk berdebat tentang hal tersebut.

***

Sebagai pecinta buku, Islamic Book Fair merupakan agenda yang tidak akan saya dan sahabat saya lewatkan. Setelah yang pertama di Samantha Krida, yang kedua tidak bisa kami hadiri karena kendala kesibukan ujian, maka yang ketiga kami bertekad untuk datang.

Disana, seperti biasa kami disambut lagu-lagu bernuansa Islami. Bahkan beberapa stan memperdengarkan ayat-ayat Al-Quran. Saat sedang asyik-asyiknya mendengarkan…

Wadh dhuhaa,,

Wal laili idzaa sajaa,,

Sungguh, ingin menangis rasanya melihat anak perempuan itu mengikuti lantunan kaset tersebut. Ya, ia hafal di luar kepala surat Adh-Dhuhaa. Anak perempuan berumur sama seperti anak perempuan kecil yang kami temui di kaki lima di Blitar dulu.

***

Sesungguhnya, kita sedang dijajah teman-teman. Ya, dijajah teknologi. Begitu mudah menemukan adegan-adegan yang ‘menyenangkan’ dalam kotak ajaib bernama televisi. Di lain pihak, kita lupa menyajikan ‘sesuatu’ bagi anak-anak kita.

Anak kecil yang bersenandung lagu Matta itu mungkin tidak mengerti maknanya, namun anak kecil memiliki memori yang luar biasa sehingga tidak diperlukan paparan yang besar untuk memberi kesan pada mereka. Mungkin orang tua mereka tidak menyadari, tetapi kita telah menjebak anak-anak kita dalam proses ‘mekar sebelum berkembang’ hanya dengan mengizinkan
mereka menonton televisi!!

Kita terhempas oleh fenomena ‘kucing garong’ dengan video klipnya. Kita tergerus dengan ‘buruan cium gue’, kita terhipnotis ‘trio macan’, dan hebatnya fenomena ‘harus seksi nan menggoda’ itu meresap mulai dari kelas ‘idol’ sampai penyanyi dangdut kelas kampung.

Industri pertelevisian kita terjebak pada pusaran uang, masyarakat kita tidak beranjak dari gempuran budaya ‘sakit’. Tidak laku bila tidak seksi. Tidak menarik bila tidak mesra. Dan korbannya adalah masa depan negeri kita yang tercinta.

***

Bila aku diare, ibu selalu
waspada,,

Pertolongan oralit selalu
siap sedia,,

Ah, entah sudah berapa lama saya tidak dengar lagu ini. Tapi mungkinkah anak-anak kita memerlukannya? Apa yang akan terjadi?
Bukankah sudah seharusnya kita berubah?Atau kaum muda kita tidak siap untuk berubah secara sosial?

Menurut Indra Jaya Piliang, seorang analis politik dan perubahan sosial, sesungguhnya kita hanyalah kaum muda yang buntung secara sosial. Kita hanya mengaum dalam kandang hedonisme dan jepretan kamera digital.
Lihat saja betapa mudahnya meminta ini dan itu sementara se-sen uang pun belum bisa kita hasilkan. Budaya sebagai konsumen jauh melekat ketimbang budaya perubahan. Bahkan kata-kata perubahan sudah menjadi bahasa asing yang tercabik-cabik dalam himpitan.

Kita sejatinya kaum muda yang tuna sosial. Kaum muda yang benar-benar kaum muda hanya hadir sesaat. Mungkin masih ada yang mengingatnya, tentang seorang putra papua yang menjuarai olimpiade fisika internasional. Atau bahkan sosok Denias. Mereka adalah representatif masyarakatnya. Sosok yang terkubur dalam hutan rimba Papua, sebagian lagi terbenam lumpur Sidoarjo, dan hampir semuanya terjebak dalam pendidikan mahal nan singkat. Mereka memilih berkecimpung di sawah-sawah, bertarung dengan hama dan cekikan harga pupuk, dan tengkulak. Merekalah kamu muda yang sebenarnya.

Maka siapa sebenarnya kita? Kita bukan kaum muda yang berkeringat. Kita bukan kaum muda yang berjuang untuk perubahan. Maka ketika merenung di tengah keheningan, saya merasa tidak ada yang bisa kita lakukan. Akan tetap ada ribuan balita yang menyanyi lagu cinta, tergila-gila pada gaun-gaun backless yang dikenakan idola, terobsesi mobil mewah para artis, tergiur untuk meniru adegan perkelahian, berpegangan tangan dengan lawan jenis, bahkan ciuman.

Kita mungkin tidak akan pernah mengawali untuk berubah dan kasta Indonesia akan tetap ‘hanya’ pelengkap dunia. Seperti yang Indra katakan, kaum muda Indonesia hanya akan menjadi kue panggang yang tidak matang dalam oven
perubahan.