ah, ini dia salah satu tulisan favorit saya,, tulisan ini saya buat januari 2008,, masih dalam suasana Idul Adha,,

silakan menikmati,,

Hari-hari belakangan ini, jalan-jalan di Malang, baik jalan protocol maupun jalan kecil punya nuansa yang berbeda. Apanya yang berbeda? Bukan tamannya. Taman akan selalu seperti ini. Disirami secara rutin dan disayang, tapi lahan terbuka hijau yang lain digusur dengan berbagai alasan. Lalu apa dong bedanya? Aspalnya? Tidak juga. Aspal jalan kita tetap aspal yang sama, yang selalu pensiun lebih cepat karena kurang komposisi bahannya. Kok? Karena korupsi sudah merajalela sampai-sampai aspal pun bisa dijadikan lahan mencari penghasilan ‘sampingan’.

Lalu apa? Kambing!! Ya kambing.
Hampir semua lahan kosong di pinggir jalan maupun yang tidak di pinggir jalan, penuh dengan kambing. Seperti biasa, menjelang hari raya Idul Adha, banyak masyarakat kita yang mencari penghasilan ‘sampingan’ dengan menjual kambing. Bahkan demam jualan kambing ini merambah sampai ke mahasiswa kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya!!

Bicara tentang kambing memang ngga ada habisnya. Di kampus, ditawari
teman untuk beli kambing. Pulang naik mikrolet, ibu-ibu banyak yang ‘berunding’ tempat penjualan kambing mana yang paling murah. Ada juga yang berdebat tentang perlunya beli kambing yang sehat. “Beli yang murah saja, yang kurus. Kan yang penting berkurban.” Sahut seorang ibu gemuk yang ‘berkilau’ dengan dua kalung emasnya dan cincin hampir memenuhi sepuluh jarinya (kecuali ibu jari mungkin karena gemuk jadi tidak ada
ukurannya).

Naik sepeda motor? Tidak perlu khawatir. Anda tetap bisa merasakan ‘demam’ kambing dengan mencium aromanya setiap melintas di tempat penjualan kambing. Sampai rumah, eh ada tetangga yang bermurah hati memberi sate kambing. Luar biasa, bukan?

***

Indonesia, baru saja menjadi tuan rumah sebuah konferensi internasional. United Nations Framework Convention on Climate Change 2007 (UNFCCC 2007) yang dilaksanakan di Nusa Dua, Bali, merupakan sebuah
konferensi untuk menetapkan kerangka kerja PBB untuk perubahan iklim global.

Sebuah judul konferensi yang luar bisa bagus. Apalagi dibumbui oleh sepasukan pe-sepeda yang naik sepeda angin dari Jakarta ke Nusa Dua demi menunjukkan kemeriahan acara tersebut, meskipun setelah itu para pe-sepeda itu pulang dengan status pe-pesawat alias naik pesawat terbang.

Ironi itulah gambaran nyata Indonesia dari semua kondisi yang ada sekarang. Semua pihak menentang global warming, tapi di rumah, ada lima
AC yang siap menghilangkan peluh. Semua menentang banyaknya emisi yang dihasilkan, tetapi mobil selalu mengiringi kemanapun mereka pergi. Bahkan ketika pemerintah akan mengurangi pasokan premium bersubsidi dengan oktan 88, mereka berada di garda terdepan menolak kebijakan tersebut.

Sesungguhnya, bukan berarti kita tidak boleh mempunyai AC, atau tidak boleh mengendarai kendaraan bermotor, atau bahkan harus menggunakan bahan bakar pertamax yang sekarang luar biasa mahal.
Bukan itu. Tetapi kesadaran pribadi kita lah yang akan menentukan segalanya.
Menempatkan segalanya dalam ke-proporsionalitas-an.

Pemerintah berkoar-koar hentikan pemanasan global. Tetapi pembalakan liar semakin liar. Indonesia menggebrak dengan ide REDD (Reduced Emission from Deforestasi and Degradation). Tetapi di Medan, pembalak liar kelas hiu dibebaskan oleh pengadilan Indonesia. Weleh…
kalau dirunut ke bawah, ketika kita sibuk menangkap para juragan kayu nakal, ternyata masyarakat buruh yang selama ini jadi tulang punggung pembalakan, dengan senang hati melaksanakan pekerjaanya. Kenapa? Karena mereka miskin dan memerlukan uang. Siapa yang memberikan uang? Yang memberikan mereka pekerjaan. Siapa yang memberi mereka pekerjaan? Ya, para juragan kayu itu. Salahkah mereka? Tidak. Mereka tidak tahu efeknya, karena yang penting bagi mereka adalah bertahan hidup.

Maka hakikatnya, pemanasan global bisa dikurangi jika kita semua sadar apa yang salah dan akibatnya. Artinya tingkat pendidikan harus ditingkatkan. Sebuah ironi, karena baru-baru ini peringkat pendidikan kita di dunia turun. Setlah itu? Kita harus punya kemampuan untuk berubah. Artinya tingkat kesejahteraan masyarakat kita juga harus ditingkatkan. Ironisnya lagi, pendapatan per kapita kita semakin tidak representatif. Maka dengan demikian kompleksnya permasalahan pemanasan global
di Indonesia, tidak akan dapat dipecahkan hanya dengan satu solusi. Diperlukan pengkajian lebih mendalam dari hanya sekedar memberantas pembalakan liar dan bersepeda ke tempat kerja. Namun, seperti yang saya sebutkan di atas, seharusnya, semua kembali kepada ke-proporsionalitas-an. Kalau hanya itu yang dapat kita lakukan dengan kemampuan kita saat ini, lakukan dengan konsisten.

Terlepas dari rumitnya masalah Indonesia, sesungguhnya UNFCCC 2007 tidak menghasilkan apapun kecuali menguatnya fakta kita sedang dijajah oleh negara-negara maju. Kenapa? Karena mereka sekarang sedang meng-kambing hitam-kan negara-negara berkembang, terutama
Indonesia yang memiliki hutan terluas di dunia sekaligus penyusutan hutan
terluas di dunia. Bahkan kabarnya penyusutan luas hutan di Indonesia akan
dimasukkan ke Guiness Book of World Record.
Menyedihkan bukan?

Sesungguhnya, kondisi pemanasan global ini juga merupakan ‘sumbangan’ emisi dari industri negara maju. Sayang, pihak yang dimotori oleh AS, Jepang dan Kanada ini ngotot untuk tidak meratifikasi Protokol Kyoto yang isinya mewajibkan semua negara anggota menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar rata-rata 5,2 persen dari tingkat emisi tersebut di tahun 1990. AS jelas menolak, karena ini akan membuat industri mereka bangkrut dan berakhir.

Kita semua tentu tahu, AS menganut paham neoliberalisme, artinya ekonomi AS menolak campur tangan pemerintah dalam mengatur industri. Singkatnya, mereka tidak akan mau rugi sepeserpun akibat Protokol Kyoto. Profit selalu nomor satu meski dunia akan berakhir karena perubahan iklim. Dengan dasar pemikiran tersebut, maka AS, Jepang, Kanada memilih untuk tidak meratifikasi Protokol Kyoto. Meski akhirnya Bali Roadmap, konsensus yang menetapkan kesepakatan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, berhasil di-goal-kan, tetapi target spesifik menurunkan
emisi sebesar 15-40 persen dari angka 1990 hanya dijadikan catatan kaki.

Fakta di atas menegaskan bahwa sekarang kita dijajah negara maju. AS sedang mengembangkan neokolonisasi iklim. Negara maju dengan nikmatnya memajukan industrinya, sedang negara berkembang
pontang-panting menurunkan emisi dan mencari investor yang mau berkompromi terhadap emisi.

Karena itulah, AS lebih suka memberikan insentif karbon kepada negara-negara pemilik hutan tropis daripada meratifikasi Protokol Kyoto. Kita terancam terjebak dalam mekanisme dagang karbon. Apalagi dana tersebut sangat rentan dikorupsi. Dan kalau kita tetap gagal mengurangi emisi, kita tetap akan menjadi kambing hitam dunia internasional.

***

Kambing akhir-akhir ini memang sedang nge-tren. Ketika kita
di-kambing hitam-kan dunia internasional atas terjadinya pemanasan global, kita juga meng-kambing hitam-kan para pembalak liar yang tidak punya rasa nasionalisme. Kok ya ngga kasihan sama Indonesia? Tetapi pembalak liar juga meng-kambing hitam-kan pekerjanya.
Mereka mau kerja kok. Pekerjanya balik meng-kambing hitam-kan pemerintah, karena mereka ngga dikasih pekerjaan.
Semua punya kambing hitam-nya sendiri-sendiri. Repot ya?

Sayangnya, ketika saya memilih kambing untuk kurban, tidak ada kambing hitam. Adanya yang warnanya coklat, putih atau campuran. Padahal saya ingin sekali ikut-ikutan punya kambing hitam…