alhamdullilah,, jadilah saya punya blog,, setelah sekian lama memendam rasa,, namun apalah daya, kehidupan di rumah sakit bukan sesuatu yang bisa ditawar,, maka terkungkunglah saya dalam rutinitas membosankan,,

setelah sekian lama, saya diganggu oleh alert email yang meminta saya untuk ‘mengurus’ blog saya di friendster,, tetapi saya sudah lama ndak menyetuh yang namanya friendster, maka saya memutuskan mentransfer beberapa arsip saya di blog lama, ke blog baru ini,,

mungkin, teman-teman sudah ada yang membaca postingan pertama saya,, Eksplorasi Diri,, itulah awal dari blog baru saya,, insya Allah akan disusul oleh tulisan-tulisan saya berikutnya,,

kali ini, saya akan mentransfer tulisan saya yang berjudul hipermodern,, tulisan yang saya post pada 17 July 2007 tetapi insya Allah masih relevan,, tulisan ini diilhami sebuah karya mahasiswa teknik arsitektur yang dimuat di mading teknik arsitek,, ternyata menarik juga,,

silakan menikmati,,

HIPERMODERN,

KEMBALIKAN KALAM ILAHI KE DALAM HAKIKATNYA

Tata kehidupan masyarakat dan budaya kelihatannya sedang mengalami suatu krisis hidupnya yang paling dalam dan paling penting, krisis itu jauh lebih besar dari yang biasa, kedalamannya tidak terduga, titik akhirnya belum kelihatan, dan keseluruhan masyarakat terlibat di dalamnya. Itu adalah krisis suatu kebudayaan inderawi, kebudayaan yang sudah menguasai barat selama lima abad terakhir, sekarang sudah ada dalam tahapnya yang terlampau matang, juga termasuk di sana adalah krisis masyarakat kontraktual (kapitalis). Dalam pengertian ini, kita sedang mengalami satu titik balik yang paling tajam dalam perjalanan sejarah, sebuah perubahan yang sama besarnya seperti yang pernah terjadi dalam kebudayaan barat dan Romawi-Yunani dalam melewati fase ideasional ke inderawi dan dari inderawi ke ideasional. (Sorokin)

Pernahkah kita berpikir mengerjakan tugas dengan menulis biasa? Dengan pena dan tinta? Atau pernahkah kita mencoba pengalaman mencari artikel dengan membuka satu per satu surat kabar untuk mecarinya?

Saya yakin, jawabannya 90% hati kita menjawab, tidak. Kenapa? Lha sudah ada komputer untuk mengerjakan tugas, kenapa kita mempersulit diri sendiri? Ya tho?

Lha wong saya menulis artikel ini juga menggunakan komputer. Begitu juga dengan mencari artikel. Jaman sudah maju, Bung!! Sekarang semua tempat ada yang namanya internet. berlomba-lomba memberi fasilitas Wi-fi gratis. Ada yang belum tahu apa Wi-fi itu?

Yah, sekarang sudah abad ke-21. Millennium ketiga katanya. Teknologi semakin maju dan perkembangannya semakin menggila. Kalau kita hidup mengikuti laju perputaran evolusinya, mungkin kita akan menghabiskan 30 tahun umur kita dalam satu hari. Artinya apa? Setiap hari, manusia akan berpikir sebuah terobosan untuk kehidupan manusia 30 tahun mendatang. Andaikan yang berpikir tersebut 20% dari populasi manusia di bumi (dengan sebuah anggapan bahwa 80% manusia yang lain adalah User sejati, yang tidak repot untuk sebuah revolusi), maka bisa dikatakan teknologi itu berkembang tiap detik, tiap hari, tiap bulan, tiap tahun.

Ketika sekarang anda masih bangga menenteng laptop kemana-mana, maka ada yang telah menciptakan prototype komputer yang bisa dibawa kemana-mana sebagai kaca mata. Ketika anda yang bangga menggunakan ponsel terbaru dengan HDSPA atau bahasa gaulnya 3,5G, maka para peneliti sedang gencar-gencarnya menciptakan 5G. Ketika anda dengan bangga memamerkan PC anda yang dual core, maka saat yang sama, telah diciptakan prosesor yang sekecil Cimex lectularius dengan kualitas yang sama, atau mudahnya, satu prosesor mungkin hanya sebesar ribaganya saja. Ya, silakan geleng-gelengkan kepala anda, pertanda anda heran. Atau mau mengangguk-anggukkan kepala anda, pertanda anda setuju?

Lalu, apakah salah bila kita memanfaatkan teknologi? Tentu tidak. Kita selalu pantas untuk hidup modern, tidak gagap teknologi. Tetapi akan berbeda bila kita mulai bergantung terhadap teknologi. Akan lain akibatnya bila kita mulai tidak bisa hidup tanpa teknologi.

Ilustrasi di atas akan membawa kita menuju permasalahan yang sesungguhnya, yaitu bahwa kita kini sedang mengalami suatu proses yang disebut hipermodern. Ya, sesuai dengan terminologinya makna harfiahnya adalah, hiper, berasal dari bahasa Inggris, hyper yang artinya melebihi, sangat, atau sangat lebih, sedang modern adalah kini, sekarang. Kita sekarang sedang berada pada fase melebihi
modern. Kita bertindak, secara manusiawi, sebagai makhluk yang selalu lapar terhadap pembaruan, haus akan revolusi, dan tidak puas bila sehari saja tidak kita perbarui teknologi yang ada. Akhirnya muncul yang kita sebut dengan tanda-tanda sosial yang melebihi normal (Hypersign).

Hipertanda ini meliputi menyerang semua aspek kehidupan kita mulai dari prinsip, definisi, struktur dan fungsi. Ia lahir sebagai bentuk ke ’tidak-pernah-puas’ an manusia akan pembaruan. Kenapa sampai muncul hipertanda? Sebenarnya ini dimulai dengan ketidakmampuan manusia mendobrak kemapanan aturan yang telah ada sejak semesta ini diciptakan.

Karena sesungguhnya dalam alam semesta ini, terdapat aturan tidak tertulis yang mengatur semuanya atau yang kita sebut Kalam Ilahi. Aturan Tuhan inilah yang menjadi speedometer bumi dan planet-planet lain dalam berevolusi mengelilingi matahari. Aturan itu yang menjadi cengkeraman tak kasat mata sehingga bintang tidak menarik terlalu kuat pada benda langit di sekitarnya. Aturan itu pula yang memastikan kematangan janin dalam 9 bulan, dan ia yang memastikan ketahanan genetik sehingga keberadaan uterus, tuba, dan ovarium selalu muncul pada wanita (ingat, kelainan genetik pun pasti dikarenakan adanya paparan bahan tertentu).

Hipertanda ingin mendobrak semuanya. Ia menciptakan standar sendiri karena kerakusan manusia pada yang namanya pembaruan tidak diakomodasi oleh aturan Tuhan. Beberapa tahun yang lalu, sempat ada percobaan laki-laki yang ingin hamil, padahal kita tahu kaum adam tidak memiliki lapisan perut yang seelastis wanita, bahkan tidak memiliki uterus. Ada pula percobaan klon manusia. Inilah hipertanda penentang aturan kemapanan. Ia ingin menghempas standar modern yang ada, dan akhirnya melahirkan sesuatu yang bernama hipermodern.

Dalam dunia yang berhasil diubahnya, hypersign ini menjadi bebas tak terkendali, berkeliaran, memangsa manusia dan merajalela dalam gilanya peradaban. Ia yang menjadi arsitek perkawinan antara hipermodern dengan masyarakat yang telah melampaui batas, mengubah dunia realitas menjadi—seperti yang disebut Baudrillard—hiperrealitas (hyperreality). Menciptakan fantasi-fantasi tidak normal pada otak manusia, menciptakan ide-ide yang ingin mendobrak Kalam Ilahi.

Dan akhirnya, mengikuti hukum balon, hipertanda, hipermodern, dan akhirnya hiperrealitas menjebak kita dalam situasi yang menjadi titik balik segalanya. Ya, kita sedang mengalami proses self destructing, penghancuran diri sendiri.

Sekarang, semuanya bergantung kepada kita. Manusia yang haus akan kemajuan pun telah menjadi kalam Ilahi. Tetapi selama kita menjaga pembaruan sesuai porsinya, maka ia tidak akan memangsa kita. Karena sesungguhnya kita dilahirkan untuk menjadi pemimpin di bumi, bukan menjadi budak teknologi dan pembaruan. Kita memerlukan pembaruan teknologi untuk memudahkan hidup kita, dan tidak ada yang salah dengan hal tersebut, selama kita bisa mengendalikan teknologi.

Akhir kata, teknologi bagaikan dua mata pedang. Kita tidak dapat hanya memilih sisi positifnya, karena ia menyerang bersamaan dengan sisi negatif. Yang kita dapat lakukan adalah meminimalisir sisi negatifnya. Bagaimana caranya?? Di sinilah kita, sebagai masyarakat terpelajar, memiliki peran. Kita harus dapat berperan aktif dalam menjaga dan menggerakkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang peduli teknologi, tanpa menjadi budak teknologi.

deep thinking,,