Eksplorasi Diri

Beberapa saat yang lalu, saya sempet perang mulut dengan dua teman. Yang kita ributkan sebenarnya hal yang sepele, yaitu tentang apakah kita pantas untuk
melakukan aksi atau kata-kata yang booming sejak tahun 1998, demonstrasi.

Saya memulai perdebatan dengan “Masa ya harus aksi tho, Rek,, rasanya kok ngga pas,,”

Mereka kayaknya ngga terima, trus menimpali “Ya ngga bisa kalo kita diem terus,, kalo ada yang ngga sesuai kita harus berbuat sesuatu,, nanti kita ngga di
denger,,”

Hehehehe,, yah emang nggak persis seperti itu sih,, tapi yah seperti itulah gambaran kasarnya,,

Saya memang bukan orang yang senang dengan yang namanya ‘Aksi’,, nggak tau kenapa, setiap ngeliat ‘Aksi’, ‘Demo’, dan sodara-sodaranya yang sejenis, rasanya nggak pas aja. Terutama ketika yang melakukan hal tersebut adalah mahasiswa. Kok?

Memang, saya akui, mahasiswa adalah agent of change. Kelompok yang setia pada perubahan-perubahan positif (meski sekarang change to minus, begitu saya menyebut untuk perubahan negatif, juga semakin semarak dilakukan oleh mahasiswa). Mahasiswa adalah motor penggerak kemajuan negara, penopang penguasa dengan kualitas dan kuantitasnya, buffernya kekuasaan dengan kritisisasi membangun.

Memang, saya akui, tanpa adanya demonstrasi, negara kita mungkin akan ‘sedikit’ lebih lama dicengkeram kekuasaan tak terbatas dari seorang penguasa,
yang mendinginkan arus bawah yang panas, mematikan motor penggerak, menghancurkan fondasi dan melemahkan keseimbangan.

Hanya, tetap saja, saya jauh lebih menyukai cara yang lebih ‘saya’. Hehehehe,, bukan lantas saya egois, meski memang egois, tapi saya lebih respek sahutan, saran, kritisi yang disampaikan melalui cara yang lebih intelek, yaitu melalui tulisan,,
Saya penggemar koran, dan sering saya membaca artikel-artikel yang memberi saran, masukan, dan kritik membangun. Luar biasa!! Bayangkan, betapa santunnya sosok yang mampu berteriak lewat bahasa, tertawa dengan diksi, dan menangis dengan ungkapan,,

Malang, adalah kota yang sarat dengan kontroversi, dan hebatnya, masih sedikit sosok yang bersedia bersuara lewat tulisan,, yang banyak bersuara masih didominasi para wartawan,, sayang sekali,,

Ketika, Malang Town Square berdiri, kontroversi bermunculan,, bahkan dari para akademisi (saya ingat beberapa dosen Universitas Brawijaya),, tapi yang
mengungkapkan kontroversi lewat tulisan sangat sedikit,, padahal mengingat latar belakang beliau-beliau sebagai seorang akademisi, tentu tulisan beliau-beliau berharga jual tinggi dan memiliki influence rate yang besar,, tapi kenyataannya??

Hal ini juga terjadi di kontroversi-kontroversi yang lain,, Alun-Alun Junction, saya ingat hanya ada beberapa akademisi yang berani menulis, dan yang paling
berkesan adalah Ir. Budi dari Teknik Arsiterktur ITN yang menjlentrehkan secara jelas dari sudut pandang bidangnya.

Lalu, kontroversi dibukanya jalan Universitas Brawijaya sebagai jalan alternatif
sebagai solusi kemacetan, semakin sedikit saja yang berpartisipasi menyumbangkan buah pikirnya,, bahkan dari Universitas Brawijaya yang notabene sebagai pihak yang paling dirugikan,,

Kita lebih senang berteriak, berjalan berarak sambil membawa tulisan-tulisan, menyebabkan kemacetan, membuat suasana panas menjadi lebih panas,,
Hehehehe,, ini bukan tulisan memihak, sebenarnya,, karena saya tidak sepenuhnya berpendapat bahwa aksi itu sia-sia, tidak efektif, dan lain-lain,, saya tetap menghormati kolega-kolega yang berpedapat beda,, tapi saya akan mencoba menghadirkan sudut pandang yang berbeda dari beberapa penulis artikel idola saya,,

Saya mengidolakan tiga orang penulis artikel jenius, masing-masing dengan kelebihannya.

Yang pertama adalah Bapak Dahlan Iskan. Beliau ini sangat humanis sekali. Setiap beliau pulang dari ‘jalan-jalan’ bisnisnya, beliau
pasti akan membawa oleh-oleh artikel yang ‘biasanya’ bagus sekali. Karena artikel itu nggak kosong. Yang kita baca, selsai, ya
selesai. Hanya tinggal artikel. Wawasannya yang luas di bidang bisnis, membuat guratan tulisan beliau menggurita di hampir setiap
problem yang kita hadapi, baik skala lokal Surabaya, seperti banjir, macet, maupun yang skala nasional, seperti lumpur porong. Pak Dahlan selalu mengakhiri artikelnya dengan kalimat-kalimat yang menggelitik kita untuk mulai bertanya pada diri sendiri dan introspeksi.

Yang kedua adalah KH. Mustofa Bisri. Beliau sangat menonjol di bidang seni, religiusitas, dan humanis. Gaya beliau yang puitis, sangat indah.
Terkadang beliau menggunakan diksi yang indah untuk sindiran yang mengena tapi tetap santun khas orang cerdas, membuat saya jatuh hati bahkan sejak artikel pertama beliau yang saya baca. Artikel beliau membuat kita berpikir “Bener juga ya,,”

 

Yang ketiga adalah Hermawan Kertajaya. Karya beliau sangat dominan dari sudut pandang bisnis yang memang kehidupan yang digelutinya sejak lama. Pak Hermawan lekat dengan fakta, fakta, fakta, lalu diakhiri dengan
kemenangan konklusi yang tidak terbantahkan. Artikel yang sampai sekarang masih saya ingat adalah tanggapannya tentang penjualan perusahaan rokok sampoerna yang menggemparkan dunia perekonomian kita.

Lengkap bukan?
Humanis, religiusitas, aspek PolEkSosBud,, mungkin yang kurang adalah
kepedulian kita untuk berpikir, dan menanggapi secara positif. Saya yakin, banyak pihak yang seharusnya tergerak setelah membaca tulisan yang kritis, tapi yang terjadi adalah, membanting koran, marah-marah, menggerutu bahwa orang lain tidak akan mengerti, lalu,, stagnan. Statis. Tidak berubah.

Begitukah?? Deep thinking,,